Drama China, Budaya Lokal, dan Pelajaran Menuju Indonesia Emas 2045

 

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh kemunculan video-video pendek (short videos) yang menampilkan potongan drama China (dracin). Cerita yang ditawarkan beragam, tetapi salah satu pola yang cukup populer adalah kisah seseorang yang hidup sederhana, kemudian menjadi korban bullying atau diskriminasi dari kelompok masyarakat kelas menengah atas. Di balik kesederhanaan itu, tokoh tersebut ternyata merupakan orang ternama atau memiliki kedudukan lebih tinggi. Dari pola cerita semacam inilah kemudian muncul istilah yang cukup populer yakni “CEO yang menyamar”.

Potongan video tersebut kemudian mendorong sebagian masyarakat mencari dan menonton cerita lengkapnya. Fenomena ini menarik karena sebelumnya drama Korea (drakor) begitu kuat mewarnai konsumsi tontonan masyarakat Indonesia. Kini, dracin dengan berbagai tema yang diangkat, salah satunya kisah “CEO yang menyamar”, juga mendapatkan perhatian penonton Indonesia. Salah satu alasan yang mungkin membuat cerita semacam itu mudah diterima adalah permainan emosi yang dekat dengan persoalan sosial, terutama ketika seseorang dari kelas bawah dipandang rendah atau diperlakukan tidak adil oleh kelompok yang dianggap lebih tinggi secara sosial maupun ekonomi.

Dari fenomena dracin tersebut, apa yang sebenarnya dapat dipelajari masyarakat Indonesia? Salah satunya adalah bagaimana kekuatan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan dengan budaya lokal. Di era platform digital, sebuah cerita tidak lagi membutuhkan ruang distribusi yang sepenuhnya konvensional. Ketika user experience yang ditawarkan menarik, sebuah produk budaya dapat melintasi batas geografis dan sosial dengan sangat cepat.

Selama ini, masyarakat Indonesia tidak lepas dari pengaruh budaya luar, mulai dari budaya Barat, Korea, hingga saat ini budaya China. Ketiga pengaruh tersebut hadir dan mendapatkan tempat pada periode serta kelompok masyarakat yang berbeda. Perubahan itu menunjukkan bahwa budaya asing dapat diterima ketika dikemas melalui cerita yang menarik, memiliki value, dan dekat dengan emosi penontonnya.

Padahal, Indonesia juga memiliki begitu banyak cerita dan budaya yang tidak kalah menarik untuk diangkat. Beberapa karya sineas muda asal Malang, Bayu Skak, seperti Yowis Ben, maupun film Sekawan Limo, menunjukkan bahwa penggunaan bahasa daerah dan unsur budaya lokal tetap dapat diterima masyarakat ketika dikemas dalam bentuk hiburan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang sama, cerita tersebut terasa lebih dekat karena nilai-nilai yang ditampilkan sebenarnya mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Hampir setiap daerah memiliki karakter, tradisi, dan nilai yang berbeda. Masyarakat Madura, misalnya, memiliki nilai yang dekat dengan kerja keras, kebersamaan, kejujuran, serta penghormatan kepada orang tua. Namun, dalam kehidupan sehari-hari masih terdapat stereotip terhadap masyarakat Madura yang terkadang justru menjadi bahan candaan.

Padahal, ketika kita mau mengenal dan berinteraksi lebih dekat, kita dapat menemukan banyak nilai positif yang mungkin selama ini tidak terlihat. Dari sini kita belajar bahwa budaya tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan stereotip yang berkembang di ruang publik. Budaya perlu dipahami melalui data sosial yang lebih utuh mulai dari bagaimana masyarakatnya hidup, apa yang mereka yakini, bagaimana mereka membangun relasi, dan nilai apa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nilai yang banyak diangkat dalam dracin, seperti tekad untuk berjuang, kekeluargaan, dan kemandirian finansial, sebenarnya juga dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Mungkin karena itulah cerita-cerita tersebut mudah diterima penonton Indonesia. Namun, di balik popularitasnya, ada hal lain yang perlu diperhatikan. Drama tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga dapat membentuk user perception terhadap arti kesuksesan.

Kemandirian finansial, misalnya, jangan sampai hanya dipahami sebagai memiliki perusahaan besar, mobil mewah, kekayaan berlimpah, atau dihormati banyak orang. Jika ukuran tersebut diterima begitu saja, bukan tidak mungkin cara pandang generasi muda terhadap kesuksesan perlahan ikut berubah. Kesuksesan akhirnya hanya dilihat dari apa yang tampak di permukaan, bukan dari proses, manfaat, maupun nilai yang ada di baliknya.

Dalam perspektif yang lebih luas, persoalan ini juga dapat kita lihat dalam cara masyarakat memandang budaya. Ketika drakor maupun budaya Barat menjadi populer, gaya berpakaian dan selera masyarakat ikut mengalami perubahan. Algoritma platform digital bahkan dapat mempercepat proses tersebut karena apa yang kita tonton hari ini dapat menentukan rekomendasi tontonan kita berikutnya. Akibatnya, sebuah tren budaya dapat berulang dan membesar dalam waktu relatif singkat.

Padahal, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah menarik. Kebaya, misalnya, bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi memiliki nilai estetika yang dapat menarik perhatian masyarakat dari berbagai negara ketika dikemas dalam acara, film, serial, maupun pertunjukan yang tepat. Persoalannya bukan apakah budaya lokal menarik atau tidak, melainkan bagaimana packaging dan strategi distribusinya agar mampu menemukan audiens yang tepat.

Selain persoalan budaya, fenomena dracin juga dapat dilihat dari sisi peluang ekonomi. Meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap bahasa dan budaya China dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, seperti jasa penerjemahan, kursus bahasa Mandarin, pembuatan konten, hingga pekerjaan yang membutuhkan kemampuan lintas budaya.

Hal ini semakin relevan karena hubungan ekonomi Indonesia dan China terus berkembang. Kehadiran investasi dan kerja sama bisnis dapat menciptakan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu menjembatani komunikasi antara kedua pihak, baik dalam lingkungan pemerintah maupun swasta. Dalam konteks ini, penguasaan bahasa dan pemahaman budaya dapat menjadi skill set yang memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, kehadiran dracin sebenarnya tidak harus dilihat sebagai ancaman terhadap budaya Indonesia. Justru kita dapat belajar bagaimana mereka mengemas nilai perjuangan, kekeluargaan, dan kehormatan menjadi sebuah cerita yang menarik dan memiliki pasar. Indonesia juga memiliki nilai-nilai tersebut, bahkan dengan keberagaman budaya yang jauh lebih luas.

Dari sinilah generasi muda memiliki kesempatan untuk mengambil peran. Anak-anak muda yang terjun dalam ekonomi kreatif dapat membuat film, serial, gim, maupun konten digital yang mengangkat budaya Indonesia dengan cara yang lebih modern dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Mereka tidak cukup hanya menjadi user dari produk budaya global, tetapi juga perlu belajar menjadi creator yang mampu menghasilkan produk budaya sendiri.

Di titik ini, pendidikan dan ekosistem kreatif memiliki peran penting. Kampus termasuk komunitas alumninya, komunitas, industri, pemerintah, dan pelaku ekonomi kreatif perlu membangun ekosistem yang memungkinkan ide lokal berkembang menjadi produk yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi. Teknologi digital seharusnya tidak hanya menjadi saluran konsumsi, tetapi juga menjadi infrastruktur produksi dan distribusi gagasan.

Hal paling penting untuk diperhatikan, kemunculan dracin memang tidak memiliki dampak langsung terhadap tercapainya Indonesia Emas 2045. Namun, fenomena tersebut dapat menjadi sebuah pembelajaran penting. Jika negara lain mampu mengangkat nilai budayanya menjadi kekuatan industri kreatif, Indonesia pun memiliki peluang yang sama.

Kita memiliki modal yang bahkan jauh lebih beragam mulai dari bahasa daerah, cerita rakyat, kuliner, musik, busana, tradisi, sejarah, hingga nilai-nilai kehidupan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekayaan tersebut tidak berhenti sebagai arsip budaya, tetapi diolah menjadi value proposition yang relevan bagi generasi sekarang.

Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga generasi yang mampu membawa identitas budayanya sendiri ke dalam perkembangan zaman tersebut. Teknologi boleh berubah, algoritma boleh berganti, dan platform digital boleh datang silih berganti. Namun, identitas budaya tidak boleh hanya menjadi penonton.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah kita akan menonton dracin, drakor, atau produk budaya dari negara lain, melainkan kapan Indonesia mampu membuat produk budaya lokal yang membuat masyarakat dunia termasuk masyarakatnya sendiri ingin menontonnya?

Di situlah ekonomi kreatif, teknologi, dan budaya lokal dapat bertemu. Dan mungkin, dari pertemuan itulah salah satu fondasi Indonesia Emas 2045 dapat dibangun. Semoga. (*)

FURQAN DANIEL

Alumnus Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga dan Pengurus IKA UNAIR Cabang Bangkalan