Muktamar NU ke-35 Jadi Ruang Pamer Khazanah Ulama Nusantara

Ketua Panitia “Turots di Muktamar” untuk Muktamar NU ke-35, Ayung Notonegoro, sedang mengkurasi sejumlah karya ulama Nusantara yang akan dipamerkan, Senin (10/8/2026). (foto: Nahdlatut Turots untuk Cakrawarta)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com –Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi. Perhelatan lima tahunan tersebut juga akan menjadi ruang untuk memperkenalkan khazanah intelektual ulama Nusantara melalui pameran “Turots di Muktamar” pada 27-31 Agustus 2026.

Pameran yang digelar Nahdlatut Turots (NT) itu akan menghadirkan ratusan manuskrip pesantren dan karya ulama Nusantara dari berbagai periode. Koleksi tersebut diharapkan membantu masyarakat melihat jejak panjang tradisi keilmuan pesantren yang menjadi salah satu fondasi perkembangan Nahdlatul Ulama.

Ketua Panitia Turots di Muktamar, Ayung Notonegoro, mengatakan pameran tersebut disiapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap Muktamar sekaligus upaya memperkenalkan warisan intelektual ulama kepada masyarakat luas.

“Kami ingin mengenalkan khazanah turots ulama NU dari masa ke masa, termasuk manuskrip dan karya yang menjadi bagian dari mata rantai keilmuan para muassis (baca: pendiri, red.) NU,” ujar Ayung di Kantor Nahdlatut Turots, Bangkalan, Senin (10/8/2026).

Menurut Ayung, sejumlah koleksi yang dipamerkan berasal dari berbagai pesantren di Jawa dan Madura. Selain manuskrip, pameran juga menampilkan kitab-kitab karya ulama Nusantara dari berbagai masa dan daerah, termasuk karya mutakhir sejumlah personalia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pameran tersebut tidak sekadar menyajikan koleksi naskah lama. Menurut Ayung, pengunjung dapat melihat kesinambungan tradisi intelektual pesantren yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Pengunjung akan melihat betapa kuatnya tradisi keilmuan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tradisi itu terwariskan dari masa ke masa dan tersambung dari guru ke guru. Ini kekayaan khazanah yang perlu diketahui publik secara lebih luas,” katanya.

Dilengkapi Klinik Turots

Pameran akan digelar di kompleks Maqbarah KH Abdul Hamid Chasbullah, tepat di depan Gedung Serbaguna (GSG) Tambakberas. Lokasi tersebut dipilih karena berada di kawasan strategis dan mudah dijangkau peserta Muktamar maupun masyarakat umum.

Pameran terbuka untuk umum dan berlangsung sejak pagi hingga malam selama pelaksanaan Muktamar, 27-31 Agustus 2026.

Selain pameran, Nahdlatut Turots juga menyiapkan “Klinik Turots”, berupa kelas singkat mengenai preservasi dan digitalisasi manuskrip kuno.

Klinik tersebut disiapkan agar masyarakat tidak hanya mengenal nilai sejarah naskah kuno, tetapi juga memahami cara merawat dan menyelamatkannya dari kerusakan.

“Kami bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memberikan layanan perawatan dan digitalisasi naskah kuno. Masyarakat yang memiliki naskah kuno dapat membawanya ke lokasi,” ujar Ayung, yang juga pendiri Komunitas Pegon.

Menurut dia, kehadiran pameran turots di tengah Muktamar menjadi kesempatan untuk mempertemukan warisan intelektual pesantren dengan generasi masa kini. Khazanah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai koleksi masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Dengan demikian, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas tidak hanya menjadi ruang untuk membahas masa depan organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk menengok kembali akar intelektual yang membentuk perjalanan Nahdlatul Ulama.(*)

Editor: Abdel Rafi