
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Masjid tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan kehidupan sosial masyarakat. Sejumlah model pengelolaan masjid di Jawa Timur pun dihimpun melalui program siniar “Masjid Inspiratif”.
Program yang digagas Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jawa Timur bersama Yayasan Demasindo Jatim itu mengangkat praktik pengelolaan masjid yang dinilai memiliki kekhasan. Di antaranya pelibatan Generasi Z dalam dakwah digital, pendekatan terhadap masyarakat di bekas kawasan lokalisasi, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan pedagang kaki lima (PKL).
Wakil Ketua PW DMI Jawa Timur Bidang Komunikasi dan Informasi Helmy M Noor mengatakan bahwa program tersebut dirancang untuk menggali praktik baik pengelolaan masjid agar dapat menjadi inspirasi bagi masjid lainnya.
“Untuk menggali potensi masjid guna menginspirasi masjid lain, kami menyiapkan tujuh hingga delapan paket siniar yang mengupas potensi idaroh, imaroh, dan riayah,” kata Helmy di Surabaya, Senin (27/7/2026).
Idaroh berkaitan dengan tata kelola atau manajemen masjid, sedangkan imaroh menyangkut upaya memakmurkan masjid melalui kegiatan ibadah maupun non ibadah. Adapun riayah berkaitan dengan pemeliharaan sarana dan prasarana masjid.
Tiga masjid telah menjadi bagian awal program tersebut pada 25-26 Juli 2026. Ketiganya ialah Masjid Al Huda di Sambikerep, Surabaya; Masjid Nurul Fatah di kawasan Bangunsari, Krembangan, Surabaya; serta Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik.
Menurut Helmy, tiga hingga empat masjid lainnya dijadwalkan mengikuti rekaman siniar pada 12-13 Agustus 2026. Siniar dipandu Sekretaris Departemen Kominfo PW DMI Jawa Timur Bustomi yang dikenal sebagai Santri Jalanan.
Selain menggali praktik pengelolaan masjid, siniar tersebut membahas tiga program DMI Jawa Timur, yakni Uang Kehormatan Imam Masjid (UKIM), Masjid Award, dan Halal Center.
Masjid Al Huda: Gen Z Dilibatkan Kelola Konten Masjid
Salah satu praktik yang diangkat berasal dari Masjid Al Huda, Sambikerep. Pengelolaan kegiatan masjid tersebut dimulai dengan survei untuk mengetahui tingkat kepuasan sekaligus kebutuhan jemaah.
Ketua Yayasan Al Huda Isgiyanto mengatakan, hasil survei kemudian diolah menjadi data untuk menyusun program harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan.
Program harian antara lain berupa kajian selepas subuh yang diisi dengan pembahasan hadis, hafalan doa sehari-hari, tafsir Al Quran dan hadis, serta hafalan Juz 30.

Sementara kegiatan mingguan digelar setiap Sabtu selepas maghrib dengan materi yang berbeda pada setiap pekan, mulai dari Sirah Nabawiyah, fikih, hadis, tauhid, hingga kajian tematik.
Masjid tersebut juga secara khusus menyediakan ruang bagi anak-anak dan generasi muda. Pada pekan pertama setiap bulan digelar Kajian Unik for Kids (KUIK), sedangkan Kajian Remaja Muslim (Kareem) diselenggarakan pada pekan ketiga.
Pelibatan anak muda tidak berhenti pada kegiatan keagamaan. Remaja dan Gen Z juga dilibatkan dalam produksi dan penyebaran konten digital mengenai aktivitas masjid.
“Semua program, baik harian, pekanan, bulanan, maupun tahunan, kami minta remaja dan Gen Z masjid membuat konten dan menyebarkannya. Setiap konten kami beri bisyaroh yang sudah dianggarkan,” ujar Isgiyanto.
Pengelola masjid juga menerbitkan sekitar 500 eksemplar majalah setiap tahun untuk jemaah. Majalah tersebut memuat kegiatan masjid sekaligus laporan keuangan sebagai bagian dari transparansi pengelolaan.
Masjid Nurul Fatah: Berdakwah di Pintu Kawasan Lokalisasi
Model berbeda dijalankan Masjid Nurul Fatah di Jalan Alun-alun Demak, Bangunsari, Krembangan, Surabaya.
Lokasi masjid yang berada di kawasan yang pernah dikenal dengan aktivitas prostitusi membuat pengelola memilih pendekatan sosial secara bertahap.
Ketua Pembina Masjid Nurul Fatah KH Choiron Sueb mengatakan, pengurus masjid saat itu tidak serta-merta mengajak masyarakat mengikuti pembinaan di dalam masjid. Mereka terlebih dahulu membangun komunikasi dengan pengurus RW dan tokoh masyarakat setempat.
“Masjid kami berada di tengah masyarakat, tepat di pintu gerbang kawasan lokalisasi. Karena itu, kami tidak bisa langsung berdakwah di masjid,” kata Choiron.

Pengelola masjid kemudian bekerja sama dengan pengurus RW untuk mengumpulkan warga di balai RW. Pembinaan dilakukan bersama tokoh masyarakat hingga secara perlahan warga mulai bersedia mengikuti kegiatan di masjid.
Pendekatan tersebut, menurut Choiron, menjadi bagian dari perjalanan perubahan sosial masyarakat Bangunsari. Kawasan itu kemudian terbebas dari praktik prostitusi pada dekade 2000-an.
Nurul Jannah Petrokimia Gresik: Masjid dan Pemberdayaan Ekonomi
Pendekatan lainnya ditunjukkan Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik. Sebagai masjid di lingkungan perusahaan, pelayanan jemaah dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan karyawan dan masyarakat di sekitarnya.
Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik Taufik Fanani mengatakan, kenyamanan dan pelayanan menjadi salah satu perhatian utama pengelola.
Konsep memakmurkan masjid kemudian diperluas dengan pengembangan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
“Pelayanan masjid kami bersifat pelayanan kepada karyawan terkait kenyamanan. Karena itu, kami mengembangkan PKL di sekitar masjid dengan kuliner sesuai kebutuhan karyawan,” ujar Taufik.
Pengelola juga menyediakan sejumlah fasilitas pendukung, antara lain area parkir, ruang yang dapat digunakan untuk resepsi pernikahan, kafe, hingga rumah singgah.
Rumah singgah tersebut diperuntukkan bagi keluarga pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit perusahaan sehingga mereka memiliki tempat tinggal sementara ketika mendampingi anggota keluarganya.
Beragam model itu menunjukkan upaya memperluas fungsi masjid di tengah perubahan kebutuhan masyarakat. Masjid tidak semata dikelola sebagai ruang ritual keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pendidikan generasi muda, pemberdayaan sosial, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Melalui program “Masjid Inspiratif”, praktik-praktik tersebut diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan sesuai karakteristik masyarakat di sekitar masing-masing masjid.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








