
EAST RUTHERFORD, CAKRAWARTA.com – Spanyol menutup perjalanan gemilangnya di Piala Dunia 2026 dengan cara yang meyakinkan. La Furia Roja tampil dominan dari awal hingga akhir sebelum menaklukkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu pada final yang berlangsung di Stadion New York–New Jersey, Minggu (19/7/2026) waktu setempat atau Senin (20/7/2026) dini hari waktu Indonesia.
Gol tunggal kemenangan Spanyol dicetak Ferran Torres pada menit ke-106 setelah memanfaatkan umpan matang Nico Williams. Meski skor akhir hanya 1-0, jalannya pertandingan menunjukkan dominasi mutlak tim Matador atas juara bertahan.
Spanyol menguasai hampir seluruh aspek permainan. Mereka mencatat 68% penguasaan bola, berbanding 32% milik Argentina. Tim asuhan La Furia Roja juga melepaskan 20 tembakan, dengan 11 di antaranya mengarah tepat ke gawang, sedangkan Argentina hanya mampu mencatat tiga tembakan dan gagal menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Dominasi itu juga terlihat dalam distribusi bola. Spanyol membukukan akurasi operan 90%, jauh lebih baik dibandingkan Argentina yang hanya mencapai 78%. Keunggulan tersebut membuat Spanyol mampu mengontrol tempo pertandingan dan memaksa Argentina lebih banyak bertahan sepanjang laga.
Sebenarnya, kemenangan Spanyol berpotensi hadir dengan skor lebih telak. Bola tiga kali bersarang di gawang Argentina, namun dua gol dianulir wasit. Hanya gol Ferran Torres pada babak tambahan yang akhirnya disahkan sebagai penentu kemenangan sekaligus mengantar Spanyol meraih gelar juara dunia.
Secara individu, Ferran Torres menjadi pahlawan kemenangan dengan satu gol dari tiga percobaan. Nico Williams tampil sebagai kreator lewat satu assist, sementara Lamine Yamal kembali menunjukkan kualitasnya sebagai motor serangan dengan melepaskan empat tembakan, terbanyak di kubu Spanyol.
Keberhasilan Spanyol tidak lepas dari pendekatan taktis yang mengandalkan dominasi lini tengah. Tanpa sosok penyerang murni seperti pada era David Villa, Raúl González, Fernando Morientes, atau Fernando Torres, mereka justru memperkuat sektor gelandang untuk menguasai bola, menekan lawan, dan mengatur ritme permainan.
Strategi tersebut terbukti menjadi senjata utama sepanjang turnamen. Setelah sukses meredam trio penyerang Prancis pada semifinal, Spanyol kembali mematikan kreativitas Argentina di partai puncak. Tim Amerika Selatan itu nyaris tidak mampu mengembangkan permainan dan lebih banyak dipaksa bertahan menghadapi tekanan tanpa henti.
Kokohnya lini belakang juga menjadi fondasi keberhasilan La Furia Roja. Sepanjang Piala Dunia 2026, Spanyol hanya kebobolan satu gol, sekaligus mengukuhkan diri sebagai tim dengan pertahanan terbaik di turnamen.
Statistik akhir mempertegas bahwa kemenangan Spanyol bukan sekadar hasil tipis di papan skor. Penguasaan bola, akurasi operan, jumlah peluang, hingga efektivitas serangan menunjukkan La Furia Roja mendominasi final secara menyeluruh. Gelar Piala Dunia 2026 pun menjadi penegasan bahwa Spanyol kembali berdiri di puncak sepak bola dunia lewat permainan kolektif, disiplin taktik, dan kekuatan lini tengah yang nyaris sempurna.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








