150 Mahasiswa PBSI UNJ Ikuti Workshop Menulis Populer, Bekal Literasi dan Karier di Era Digital

Syarifudin Yunus (tengah) menerima cinderamata dari Kaprodi PBSI UNJ, Edi Puryanto didampingi Nurita Bayu K. seusai menjadi pemateri Workshop Keterampilan Menulis Populer di Kampus UNJ Rawamangun, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (foto: Yunus)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Sebanyak 150 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ), mengikuti Workshop Keterampilan Menulis Populer di Kampus UNJ Rawamangun, Rabu (10/6/2026). Kegiatan bertajuk “Tulis dengan Mudah, Sampaikan dengan Menarik” itu digelar untuk memperkuat kemampuan literasi mahasiswa sekaligus membekali mereka dengan keterampilan menulis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan media digital.

Workshop dibuka oleh Koordinator Program Studi PBSI UNJ, Dr. Edi Puryanto, M.Pd., didampingi Ketua Tim Kemahiran Dr. Nurita Bayu K. Narasumber kegiatan adalah Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd., dosen PBSI Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), penulis 58 buku, sekaligus alumnus PBSI UNJ angkatan 1989.

Edi menegaskan bahwa kemampuan menulis merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa, khususnya calon pendidik.

“Workshop menulis populer ini penting untuk meningkatkan aspek praktis menulis bagi mahasiswa. Kemampuan berbahasa yang baik harus ditandai dengan kemampuan menulis yang baik. Selain memperkuat budaya literasi, keterampilan menulis populer juga sangat dibutuhkan di dunia kerja, terlebih bagi mahasiswa yang kelak menjadi guru,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Syarifudin menjelaskan bahwa menulis populer semakin relevan di tengah berkembangnya media digital dan media sosial. Menulis populer, menurut dia, bukan sekadar menyederhanakan informasi, melainkan mengolah gagasan menjadi sesuatu yang mudah dipahami, menarik, dan bermakna bagi pembaca.

“Menulis populer bukan berarti menurunkan kualitas informasi. Yang dilakukan adalah mengubah informasi menjadi sesuatu yang relevan dan penting bagi pembaca. Di era digital, penulis yang berhasil bukan hanya yang paling banyak datanya, tetapi yang mampu menjawab pertanyaan pembaca: mengapa informasi ini penting bagi saya?” kata Syarifudin.

Ia menjelaskan bahwa tulisan populer dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, mulai dari artikel media massa, opini surat kabar, blog, newsletter, hingga konten edukatif di media sosial seperti thread, Instagram, maupun Facebook.

Menurut Syarifudin, terdapat perbedaan mendasar antara tulisan ilmiah dan tulisan populer. Jika tulisan ilmiah lebih menekankan ketepatan akademik dan metodologi, tulisan populer bertumpu pada keterbacaan, kedekatan dengan pembaca, dan kekuatan bercerita.

“Menulis populer itu seperti mengajak pembaca berbincang. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, mengalir, dan mudah dipahami. Karena itu, topik yang ditulis sebaiknya spesifik dan benar-benar dikuasai, baik berdasarkan pengalaman, pengetahuan, maupun refleksi pribadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah tulisan populer tidak ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dimiliki penulis, melainkan oleh kemampuan menghadirkan manfaat bagi pembaca. Oleh karena itu, kejelasan pesan dan unsur persuasif menjadi bagian penting dalam penulisan populer.

Selama dua jam, peserta juga mendapatkan berbagai tips praktis menulis, termasuk teknik menyusun lead yang menarik perhatian pembaca sejak paragraf pertama. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya mereka mencatat materi dan terlibat dalam sesi diskusi.

Pada sesi penutup, Syarifudin juga menyinggung peluang ekonomi yang dapat lahir dari aktivitas menulis. Menurut dia, menulis populer tidak hanya berpotensi menghasilkan honorarium, tetapi juga membangun reputasi yang dapat membuka berbagai peluang profesional di masa depan.

“Nilai ekonomi terbesar dari menulis bukan terletak pada honor artikelnya. Yang jauh lebih penting adalah reputasi, kepercayaan, dan jaringan yang dibangun melalui tulisan. Dari situlah sering kali lahir berbagai peluang profesi dan kolaborasi,” katanya.

Ia pun mendorong mahasiswa untuk mulai menulis dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari.

“Menulis adalah praktik, bukan sekadar teori. Keterampilan menulis hanya akan tumbuh jika terus dilatih. Karena itu, mulailah menulis dari sekarang. Apa yang tertulis akan bertahan lebih lama dibandingkan apa yang hanya diucapkan,” ujar Syarifudin.

Workshop ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama peserta. Melalui kegiatan ini, PBSI UNJ berharap mahasiswa semakin percaya diri mengembangkan kemampuan literasi sekaligus mampu menghasilkan tulisan yang relevan, komunikatif, dan berdampak bagi masyarakat.(*)

Kontributor: Yunus

Editor: Abdel Rafi