Mbah Bolong Lepas Puluhan Lulusan, Siapkan Hafidz yang Fasih Bahasa Inggris

Momen wisuda 50 siswa/i SMK dan 78 SMP Pondok Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluj, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Kamis (4/6/2026). (foto: Mukani)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Pondok Pesantren Falahul Muhibbin Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang, tidak hanya berupaya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an. Pesantren yang diasuh KH Nur Hadi atau Mbah Bolong itu juga mulai menyiapkan lahirnya santri-santri yang mampu menguasai bahasa asing sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Muwada’ah dan Tasyakuran SMP dan SMK Mbah Bolong yang digelar Kamis (4/6/2026). Acara yang berlangsung khidmat itu sekaligus menjadi momentum pelepasan puluhan lulusan, wisuda tahfidz Al-Qur’an, serta wisuda bin nadzar metode Yanbu’a Kudus.

Hadir dalam kegiatan tersebut pengawas Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, tokoh masyarakat, wali murid, serta Pengasuh Pondok Roudhotut Tholibin Tambakberas, Dr KH Muhammad Fathoni Zain atau Gus Fathoni.

Kepala SMK Mbah Bolong Muhammad Agung Wirawan mengatakan, sebanyak 50 siswa SMK mengikuti prosesi muwada’ah tahun ini.

“Ini merupakan prosesi pelepasan siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di SMK Mbah Bolong,” ujarnya.

Sementara itu, sebanyak 78 siswa SMP Mbah Bolong mengikuti tasyakuran kelulusan. Sebagian besar lulusan SMP tersebut diproyeksikan melanjutkan pendidikan ke SMK Mbah Bolong sebagai bagian dari sistem pendidikan berkelanjutan yang dikembangkan pesantren.

Kepala SMP Mbah Bolong Muhammad Edy Wahyudin menjelaskan, peserta didik di lembaganya berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.

“Komposisinya hampir seimbang antara santri dan siswa dari masyarakat umum. Selain dari Jombang, ada yang berasal dari Madura dan Malang,” katanya.

Menurut Edy, kurikulum pendidikan di lingkungan pesantren dirancang dalam satu kesatuan selama enam tahun, mulai jenjang SMP hingga SMK.

“Harapannya, siswa dapat melanjutkan pendidikan di sini sehingga proses pembinaan akademik, karakter, dan keagamaan bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, sebanyak 18 siswa SMP juga diwisuda setelah menuntaskan pembelajaran Al-Qur’an metode Yanbu’a. Selain itu, enam siswa mengikuti wisuda tahfidz Al-Qur’an yang diuji langsung oleh Gus Fathoni.

Pengasuh Pondok Pesantren Falahul Muhibbin KH Nur Hadi mengatakan, para lulusan harus terus melanjutkan proses belajar meskipun telah menyelesaikan satu jenjang pendidikan.

“Semoga ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang manfaat dan penuh keberkahan,” ujar kiai yang akrab disapa Mbah Bolong itu.

Yang menarik, pesantren juga mulai memberikan perhatian pada penguasaan bahasa Inggris sebagai bagian dari penguatan kompetensi santri. Mbah Bolong menyiapkan beasiswa kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri, bagi siswa berprestasi, khususnya juara pidato bahasa Inggris.

Program tersebut merupakan bagian dari cita-cita besar pesantren untuk melahirkan generasi yang kuat dalam ilmu agama sekaligus memiliki kemampuan komunikasi global.

“Kami ingin ke depan ada semacam budaya Kampung Inggris di lingkungan pesantren. Santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menguasai bahasa asing,” katanya.

Menurut dia, kemampuan bahasa asing menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan dunia yang semakin terbuka. Karena itu, penguasaan Al-Qur’an dan bahasa internasional harus berjalan beriringan.

Dalam tausiyahnya, Gus Fathoni mengapresiasi berbagai program pendidikan yang dikembangkan SMP dan SMK Mbah Bolong. Menurut dia, rangkaian wisuda yang digelar secara bersamaan menunjukkan keseriusan lembaga dalam menjalankan visi pendidikan yang utuh.

“Ini menunjukkan komitmen lembaga dalam mewujudkan visi dan misinya,” ujarnya.

Ia berpesan agar para lulusan menjadikan kejujuran sebagai fondasi utama dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan.

“Jujur dalam mencari ilmu, jujur dalam ucapan, dan jujur dalam tindakan. Itu bekal yang sangat penting,” tuturnya.

Kepada para orang tua, Gus Fathoni juga mengingatkan pentingnya pendampingan anak di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Menurut dia, teknologi tidak perlu dijauhi, tetapi harus diarahkan agar menjadi sarana pengembangan diri dan pendidikan.

“Karena itu, memilih lingkungan pendidikan yang tepat menjadi sangat penting agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak,” katanya.

Muwada’ah tahun ini pun tidak sekadar menjadi seremoni pelepasan siswa. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi penegasan arah pendidikan yang ingin dibangun Pesantren Falahul Muhibbin Watugaluh: melahirkan generasi berakhlak, penghafal Al-Qur’an, sekaligus memiliki kemampuan bahasa yang memadai untuk menjawab tantangan masa depan.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi