Dari Subuh ke Pena: Cara Unik Ustadz Syarifuddin Didik Anak-Anak Kebraon Menulis Hadis

Aktifitas Ustadz Syarifuddin Bin Mustaqim (tengah, kopiah batik) bersama anak-anak didiknya belajar mengaji dan menulis hadist-hadist pendek di aula utama Masjid Al-Muhajirin, kompleks perumahan Griya Kebraon Utama, Karangpilang, Surabaya setiap hari sehabis sholat subuh. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Saat fajar baru menyingsing, anak-anak di kawasan perumahan Kebraon, Karangpilang Surabaya, sudah memegang pena. Di Masjid Al-Muhajirin Griya Kebraon Utama, mereka bukan hanya belajar mengaji, tetapi juga menulis hadis. Sebuah kebiasaan langka yang perlahan membentuk disiplin dan karakter sejak dini.

Program “Pesantren Subuh” yang diasuh Ustadz Syarifuddin Bin Mustaqim menghadirkan pendekatan berbeda dalam pendidikan anak. Setiap pagi, selepas shalat subuh berjamaah, para santri kecil diajak membaca Al-Qur’an, lalu menuliskan hadis pendek, terjemah ayat, atau mahfudzot di buku mereka masing-masing.

Kegiatan menulis ini menjadi inti pembelajaran dan bukan sekadar melatih kemampuan literasi, tetapi juga membangun kedekatan anak dengan nilai-nilai agama.

“Menulis itu membuat anak lebih ingat, lebih paham, dan lebih terikat dengan apa yang dipelajari,” ujar Syarifuddin saat ditemui di sela kegiatan, Kamis (7/5/2026).

Ia menilai, kebiasaan menulis hadis sejak dini merupakan cara efektif untuk menanamkan nilai sekaligus melatih ketekunan. Di tengah arus digital yang serba instan, aktivitas sederhana ini justru menjadi latihan penting bagi konsentrasi dan kedisiplinan anak.

Setelah sesi menulis, para santri diberi kesempatan membacakan hasil tulisannya di hadapan teman-teman. Momen ini tidak hanya mengasah keberanian, tetapi juga memperkuat pemahaman mereka terhadap isi hadis.

Salah satu santri, Azzam, tampak percaya diri saat membacakan hadis yang ia tulis pada pagi itu. Suaranya lantang, sementara teman-temannya menyimak dengan penuh perhatian. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di usia mereka.

Tulisan tangan Azzam saat menulis langsung terjemah hadist pendek yang dibacanya hari ini, Kamis (7/5/2026) sehabis subuh di Masjid Al-Muhajirin, Kebraon, Surabaya dalam program “Pesantren Subuh”. (foto: Cakrawarta)

Bagi Syarifuddin, proses ini lebih penting daripada hasil.

“Kita ingin anak-anak terbiasa belajar, terbiasa berusaha. Bukan langsung pintar, tapi konsisten,” katanya.

Selain menulis, para santri juga dibiasakan menjalankan aktivitas harian seperti membantu pekerjaan rumah mulai dari mencuci piring, menyapu, hingga mengepel. Kebiasaan ini menjadi bagian dari pembentukan karakter mandiri.

Program ini berlangsung setiap Senin hingga Sabtu selepas subuh. Bahkan pada hari Minggu, para santri tetap diminta menjaga rutinitas ibadah dan tilawah secara mandiri di rumah.

Azzam saat membacakan langsung terjemah hadist pendek yang ditulisnya sendiri di hadapan ustadz Syarifuddin di Masjid Al-Muhajirin, Surabaya, Kamis (7/5/2026). (foto: Cakrawarta)

Didukung oleh pengajar lain seperti Ustadzah Maghfiroh dan komunitas Kebraon Mengaji, Pesantren Subuh ini berkembang menjadi ruang belajar yang tidak hanya religius, tetapi juga kontekstual dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai pengajar di Griya Quran Surabaya dan alumnus Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Lamongan, Syarifuddin menekankan pentingnya pendidikan yang menyentuh kebiasaan, bukan sekadar teori.

“Pendidikan adalah hadiah terbaik orang tua kepada anak. Yang kita tanamkan hari ini akan mereka bawa seumur hidup,” ujarnya.

Dari subuh ke pena, langkah kecil anak-anak Kebraon ini menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan metode rumit. Cukup dengan konsistensi, keteladanan, dan kebiasaan baik bahkan dari selembar buku tulis dan satu hadis setiap pagi.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi