
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Kematian empat dokter muda peserta program internship dalam waktu berdekatan memicu keprihatinan di parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menilai peristiwa ini tak bisa dipandang sebagai musibah semata, melainkan peringatan serius atas kemungkinan adanya persoalan sistemik dalam penyelenggaraan internship dokter di Indonesia.
“Ini bukan sekadar musibah. Rangkaian kejadian ini harus dibaca sebagai sinyal adanya masalah mendasar yang perlu segera dibenahi. Dokter muda tidak boleh menjadi korban dari sistem yang belum tertata dengan baik,” ujar Netty dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Netty menyoroti ketidakjelasan status peserta internship yang berada di wilayah abu-abu antara peserta didik dan tenaga layanan kesehatan. Posisi ini, menurut dia, berimplikasi pada lemahnya perlindungan hak, mulai dari pengaturan jam kerja, jaminan kesehatan, hingga kepastian kesejahteraan.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya evaluasi terhadap sistem supervisi dan pendampingan di lapangan. Program internship, kata Netty, semestinya menjadi ruang pembelajaran yang aman untuk membangun kompetensi dan kemandirian, bukan justru menggantikan peran tenaga medis penuh tanpa pengawasan memadai.
“Sejumlah laporan menunjukkan beban kerja yang tinggi, bahkan melampaui batas, disertai minimnya pendampingan. Kondisi ini berisiko tidak hanya bagi dokter muda, tetapi juga bagi keselamatan pasien,” ujarnya.
Selain itu, Netty menilai sistem pengawasan dan pelaporan masih lemah. Tidak sedikit peserta internship yang memilih diam atas kondisi kerja yang tidak ideal karena khawatir berdampak pada penilaian dan kelulusan mereka.
Karena itu, ia mendesak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia segera mengambil langkah konkret. Di antaranya melalui evaluasi nasional terhadap seluruh wahana internship, penguatan sistem supervisi, serta penyediaan mekanisme pengaduan yang aman dan independen.
Netty juga mendorong pembentukan tim investigasi yang transparan dan akuntabel guna mengungkap penyebab pasti dari rangkaian kematian tersebut, sekaligus merumuskan perbaikan kebijakan ke depan.
“Keselamatan dokter adalah bagian dari keselamatan pasien. Kita tidak boleh menutup mata. Ini momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh,” kata Netty.(*)
Kontributor: Ali Hasibuan
Editor: Abdel Rafi








