Perang Slopaganda

Dunia mendadak gaduh oleh sesuatu yang tampak remeh, tetapi efeknya seperti rayap yang menggerogoti fondasi rumah diam-diam.

Sebuah artikel di Le Monde baru-baru ini yang ditulis William Audureau dan Martin Untersinger, mengakui dengan nada setengah kagum bahwa Iran sedang memainkan permainan yang tidak lagi konvensional. Bukan tank, bukan misil, melainkan video Lego.

Ya, Lego. Mainan anak-anak yang dulu kita injak dan sumpahi karena sakitnya minta ampun, kini berubah menjadi peluru propaganda digital yang menembus algoritma Barat.

Sejak konflik memanas akhir Februari 2026, jaringan pro Teheran membanjiri media sosial dengan video animasi berbasis artificial intelligence atau akal imitasi (AI). Mereka pun memenangkan perang.

Donald Trump digambarkan merangkak seperti anjing, ditarik tali oleh Benjamin Netanyahu. Kadang ia mengenakan jas penuh kotoran, simbolisme yang kasar, bahkan menjijikkan, tetapi justru efektif.

Bahkan ritmenya pun tidak memberi ruang bernapas. Setidaknya satu video baru muncul setiap hari sejak konflik pecah pada 28 Februari. Derasnya arus ini bukan kebetulan, melainkan strategi.

Dalam paruh kedua bulan Maret saja, video-video pro rezim itu mengumpulkan lebih dari 145 juta tayangan di X, Facebook, Instagram, dan TikTok, sebagaimana dicatat firma keamanan siber Israel, Cyabra.

Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah bukti bahwa propaganda hari ini tidak lagi mengetuk pintu, melainkan langsung membanjiri rumah tanpa izin.

Dalam hitungan minggu, konten semacam ini meraup ratusan juta penayangan. Bukan karena orang percaya, melainkan karena orang terpikat.

Dan di situlah medan perang yang sebenarnya yakni bukan pada apa yang dipercaya, tetapi pada apa yang menarik dan memikat perhatian.

Kita sedang menyaksikan babak baru propaganda yang bukan lagi persuasi rasional, tetapi eksploitasi emosi mentah. Dunia tidak lagi diajak berpikir, cukup dibuat tertawa, jijik, atau marah. Dan ketika perhatian sudah dikuasai, kebenaran tinggal soal nomor urut, bukan prioritas.

Di sinilah istilah baru itu lahir, “slopaganda”. Sebuah kata yang terdengar seperti makanan basi yang tercecer di meja dapur, dan memang begitulah hakikatnya.

Istilah slopaganda merupakan gabungan dari kata “slop” yang berarti konten murahan, berantakan, dan diproduksi massal, dengan kata “propaganda.” Ini dibuat sebagai upaya mempengaruhi opini publik.

Slopaganda merujuk pada praktik penyebaran konten berbasis AI yang tidak lagi berorientasi pada kebenaran, melainkan pada banjir informasi yang memancing emosi, mengganggu perhatian, dan pada akhirnya merusak kemampuan publik untuk membedakan mana fakta dan mana ilusi.

Dalam sebuah makalah tahun 2025 di Filisofiska Notiser, istilah ini didefinisikan sebagai “sampah digital berbasis AI yang digunakan untuk tujuan propaganda.”

Jika propaganda klasik berusaha meyakinkan, maka slopaganda tidak peduli pada keyakinan. Ia hanya ingin mengotori ruang informasi.

Bayangkan sebuah sungai jernih yang tiba-tiba dibanjiri lumpur. Anda tidak perlu meminum lumpur itu untuk terkena dampaknya. Cukup dengan membuat air menjadi keruh, maka semua orang akan ragu antara mana yang layak diminum, mana yang racun.

Itulah strategi slopaganda yang bukan membangun kebenaran versi sendiri, tetapi menghancurkan kemungkinan adanya kebenaran bersama.

Amerika Serikat, yang selama ini merasa sebagai maestro propaganda global, tampak seperti pemain lama yang mendadak lupa notasi.

Gedung Putih sempat merilis video campuran serangan militer dengan potongan film dan anime sebagai upaya yang terasa seperti iklan Super Bowl yang kehilangan arah.

Iran menjawab dengan cara yang lebih sederhana namun lebih efektif yakni membanjiri ruang publik dengan konten yang tak habis-habis, seperti hujan abu yang perlahan menutup langit.

Dan di tengah badai ini, manusia modern yang katanya rasional, berubah menjadi penonton pasif yang menggulir layar tanpa henti.

Slopaganda bekerja justru karena kita lelah. Karena kita tidak lagi punya energi untuk memverifikasi. Karena kita lebih cepat bereaksi daripada berpikir.

Yang menarik, slopaganda tidak selalu bermaksud menipu secara literal. Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa Trump adalah figur Lego yang bersahabat dengan setan plastik.

Tetapi asosiasi itu tertanam. Emosi itu melekat. Dan dalam politik, persepsi jauh lebih berbahaya daripada fakta.

Lebih jauh lagi, ada efek samping yang lebih mengerikan yakni erosi kepercayaan total. Ketika segala sesuatu bisa dibuat oleh AI, maka yang asli pun akan dicurigai. Ketika kebohongan terlalu banyak, maka kebenaran ikut tenggelam.

Pada titik ini, masyarakat tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, tetapi “apa yang ingin saya percayai?”. Dan di situlah peradaban mulai goyah yang bukan karena kurang informasi, tetapi karena kelebihan kebisingan.

Ironisnya, kita memasuki era di mana kebodohan tidak lagi perlu disebarkan secara aktif. Cukup dengan menciptakan kebingungan massal, maka kebodohan akan tumbuh dengan sendirinya.

Slopaganda bukan sekadar alat propaganda; ia adalah ekosistem kebingungan.

Maka perang hari ini bukan lagi perang narasi, melainkan perang atensi. Bukan siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling viral.

Dan dalam logika ini, kebenaran sering kalah cepat dibandingkan lelucon kotor yang dibuat mesin dalam hitungan detik.

Kita mungkin masih bisa belajar membaca, tetapi belum tentu kita masih bisa memilah. Kita mungkin masih bisa mengakses informasi, tetapi belum tentu kita masih bisa mempercayainya.

Dan ketika kepercayaan runtuh, maka demokrasi berubah menjadi teater absurditas, di mana setiap orang bebas memilih ilusi yang paling nyaman.

Slopaganda mengajarkan satu hal yang pahit bahwa di zaman ini, perang tidak dimenangkan oleh yang paling kuat, tetapi oleh yang paling mampu mengacaukan pikiran lawan.

Dunia tidak lagi diperebutkan dengan peluru, tetapi dengan piksel. Dan di antara ribuan video lucu yang kita tonton tanpa pikir panjang, mungkin ada satu yang perlahan mengubah cara kita melihat dunia.

Sampah di mana-mana memang menjijikkan. Tetapi jika jumlahnya cukup banyak, ia bisa menutup seluruh kota. Dan kita, tanpa sadar, sedang hidup di tengahnya.(*)

 

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior