
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Bertempat di Masjid Nuruzzaman, Kampus B Universitas Airlangga, Minggu (3/5/2026) delegasi Jawa Timur resmi dilepas untuk bergabung dalam Land Convoy Global Sumud Flotilla (GSF) misi sipil internasional yang bertujuan menembus blokade Gaza.
Konferensi pers pelepasan berlangsung dengan penegasan kuat bahwa gerakan ini bukan aksi seremonial, melainkan langkah terstruktur, terukur, dan berlandaskan prinsip kemanusiaan.
Diki Taufik, salah satu delegasi, menolak anggapan miring terhadap GSF. “Ini bukan gerakan konyol, tapi gerakan terstruktur untuk menembus blokade yang dibangun zionis Israel,” ujarnya tegas meyakinkan.
Ia mengaitkan semangat GSF dengan sejarah panjang perlawanan terhadap penjajahan, termasuk refleksi dari perjuangan rakyat Indonesia dalam peristiwa 10 November 1945. Menurutnya, nilai-nilai keberanian dan solidaritas itu kini hadir dalam bentuk gerakan sipil global.
Sementara itu, Zayyin Achmad menjelaskan bahwa GSF merupakan misi sipil internasional yang ditempuh melalui jalur darat (land convoy). Proses keterlibatan peserta dilakukan melalui pendaftaran dan seleksi yang disetujui oleh GSF pusat, bukan penunjukan sepihak.
“Sumud itu keteguhan dalam tekanan. Gerakan ini bukan hanya mengirim bantuan, tapi juga mengonsolidasikan kekuatan sipil global,” jelasnya.
Rute perjalanan mencerminkan strategi tersebut. Delegasi dari berbagai negara akan berkumpul di Libya, kemudian bergerak ke Mesir sebelum menuju Rafah. Jalur ini dipilih untuk memperkuat konsolidasi lintas negara sekaligus membangun narasi kesadaran global atas krisis Gaza.
GSF menegaskan lima prinsip utama yaitu sipil, non kekerasan, kemanusiaan, terkoordinasi, dan transparan. Seluruh peserta berasal dari kalangan profesional sipil mulai dari dokter, arsitek, ahli hukum, hingga teknokrat serta tanpa keterlibatan unsur militer.
Dalam misi ini, bantuan yang dibawa meliputi suplai medis, kebutuhan dasar warga sipil, material pendidikan bagi anak-anak, serta dukungan untuk tahap awal rekonstruksi. Kehadiran tenaga medis dan relawan profesional juga menjadi bagian penting dari intervensi kemanusiaan ini.
Tujuan utama GSF tetap tegas yakni menembus blokade Gaza, membuka akses koridor kemanusiaan, menyalurkan bantuan vital, dan mengangkat kembali perhatian dunia terhadap krisis yang berlangsung.
Dan dari pelataran Masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga, langkah ini dimulai yaitu menghubungkan solidaritas lokal Jawa Timur dengan panggung kemanusiaan global yang lebih luas.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








