
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Pemerintah Indonesia terus memperluas peran strategisnya di kawasan Pasifik melalui penguatan kerja sama pendidikan dan program beasiswa. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari diplomasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Langkah tersebut tercermin dalam webinar bertajuk “Pendidikan, Beasiswa, dan Peluang Kolaborasi di Vanuatu, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon” yang diikuti 86 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, praktisi pendidikan, hingga masyarakat umum, pada Senin (27/4/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, bersama Atdikbud KBRI Port Moresby, Arief Kusdwiadnanto. Sinergi ini mencakup wilayah kerja Australia dan Vanuatu oleh KBRI Canberra, serta Papua Nugini dan Kepulauan Solomon oleh KBRI Port Moresby.
Dalam pemaparan disebutkan, negara-negara Pasifik seperti Vanuatu, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon menghadapi tantangan geografis berupa wilayah kepulauan yang luas serta keterbatasan infrastruktur pendidikan. Kondisi tersebut berdampak pada pemerataan akses dan kualitas pendidikan, khususnya di daerah terpencil.
Selain itu, kawasan ini juga dihadapkan pada tantangan global seperti perubahan iklim, kebutuhan tenaga kerja terampil, dan penguatan sistem pendidikan yang relevan dengan pembangunan nasional.
Meski demikian, kawasan Pasifik dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan sumber daya manusia, terutama melalui pendidikan tinggi, pendidikan vokasi, serta kemitraan internasional. Institusi seperti University of the South Pacific dan Solomon Islands National University menjadi bagian penting dalam ekosistem pendidikan regional.
Atdikbud KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menegaskan kawasan Pasifik merupakan mitra strategis Indonesia dalam kerja sama pendidikan global. “Melalui pendidikan dan beasiswa, Indonesia tidak hanya membuka akses, tetapi juga membangun kemitraan jangka panjang yang berorientasi pada penguatan kapasitas sumber daya manusia,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi media ini, Rabu (29/4/2026).
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Indonesia menawarkan berbagai program beasiswa, antara lain Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan The Indonesia Aid Scholarship (TIAS). Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari negara berkembang untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Data hingga Februari 2025 mencatat sebanyak 161 mahasiswa Papua Nugini telah menerima beasiswa di Indonesia. Sementara itu, lima mahasiswa asal Vanuatu saat ini menempuh studi di sejumlah kampus, seperti IPB University, Universitas Airlangga, AKAMIGAS, dan Universitas Negeri Semarang.
Kerja sama pendidikan Indonesia dengan Papua Nugini juga diperkuat melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juli 2024 dan berlaku hingga 2033. Untuk Vanuatu, pada Maret 2026 tercatat 31 pendaftar program KNB dan 64 pendaftar TIAS yang tengah menjalani proses seleksi.
Selain itu, program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) terus berkembang. Saat ini terdapat sekitar 600 pembelajar di Papua Nugini yang tersebar di lima lokasi. KBRI Canberra juga telah menyelenggarakan lokakarya pembelajaran bahasa Indonesia yang diikuti 57 mahasiswa, dengan rencana pembukaan kelas BIPA pada Juni 2026.
Indonesia juga membuka peluang kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari penguatan kapasitas guru, pengembangan kurikulum, pendidikan vokasi, hingga riset bersama di bidang perubahan iklim, kelautan, dan pertanian.
Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 25 April hingga 5 Mei 2026, melibatkan berbagai negara mitra sebagai upaya memperluas jejaring kerja sama pendidikan Indonesia di tingkat global.
Seiring meningkatnya kebutuhan pengembangan sumber daya manusia di kawasan Pasifik, minat terhadap pendidikan di Indonesia juga menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah pendaftar beasiswa serta partisipasi dalam berbagai kegiatan sosialisasi pendidikan.
Atdikbud KBRI Port Moresby menilai momentum ini penting untuk memperkuat kemitraan pendidikan. “Ini menjadi peluang strategis untuk memperluas akses beasiswa dan membangun generasi muda yang siap berkontribusi bagi pembangunan di kawasan Pasifik,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan tingginya antusiasme peserta, baik dalam memahami sistem pendidikan di Indonesia maupun menjajaki peluang kerja sama jangka panjang.
Melalui inisiatif ini, Indonesia diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik, khususnya dalam bidang pendidikan, budaya, dan pembangunan sumber daya manusia.(*)
Editor: Abdel Rafi








