
Documentary @HistoryTime dan cover buku Edward Gibbon(edisi Wordworth 1998)
“Catatan sejarah menunjukkan bahwa dalam jangka panjang terdapat hubungan yang sangat jelas antara kebangkitan dan kejatuhan ekonomi suatu Kekuatan Besar dan pertumbuhan serta kemundurannya sebagai kekuatan militer penting (atau kekaisaran dunia). Hal ini tidaklah mengejutkan karena berasal dari dua fakta yang saling terkait. Pertama, sumber daya ekonomi diperlukan untuk mendukung lembaga militer berskala besar. Kedua, sejauh menyangkut sistem internasional, kekayaan dan kekuasaan selalu bersifat relatif.” — Paul Kennedy (80), The Rise and Fall of the Great Powers: Economic Change and Military Conflict from 1500 to 2000 (1987)
Sebuah peradaban adalah sejarah kebudayaan yang komplit dan kompleks, ditopang oleh geografi, inovasi, kepemimpinan unggul, serta karakter bangsa yang kuat dan adaptif.
Namun pertanyaan mendasar tetap menggema, apakah peradaban benar-benar runtuh atau sekadar berganti siklus elitnya?
Naomi Oreskes (67) dan Erik Conway (61) dalam The Collapse of Western Civilization: A View from the Future (2014), menulis seolah dari abad ke-24, menggambarkan Barat yang gagal menghadapi krisis iklim.
Penyangkalan sains, ideologi pasar bebas, dan kepentingan jangka pendek menjadi racun yang mempercepat kehancuran. Pesan mereka jelas: penundaan tindakan adalah jalan menuju keruntuhan.
Jared Diamond (88), Profesor geografi di University of California, Los Angeles (UCLA), penulis populer sains dan sejarah, dalam Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (Edisi-2. 2011), menempuh jalur berbeda, meneliti kasus nyata dari Maya hingga Rwanda, menunjukkan pola berulang bahwa degradasi lingkungan dan kegagalan politik selalu menjadi benih kehancuran.
Dua pendekatan ini, futuristik dan historis, saling melengkapi dimana satu memberi peringatan tentang masa depan yang mungkin terjadi, yang lain menunjukkan preseden nyata di masa lalu.
Edward Gibbon (1737-2749), sejarawan Pencerahan, dalam The History of the Decline and Fall of the Roman Empire (Enam Jilid, 1776 hingga 1789) menegaskan bahwa Roma runtuh bukan karena satu sebab tunggal, melainkan kombinasi degradasi moral, korupsi, birokrasi, dan tekanan eksternal.
Hilangnya civic virtue membuat Roma rapuh, sementara agama Kristen menurutnya mengalihkan energi politik dan militer.
Gibbon menulis dengan skeptisisme khas zamannya, menekankan bahwa sejarah harus dijelaskan melalui sebab manusiawi, bukan intervensi ilahi.
Tiba pada suasana temporer peradaban Iran (Persia) di tengah kemelut perang.
Adalah Ali Shariati (1933-1977), intelektual Iran abad ke-20 dikenal metode gerakan intelektualnya yaitu rausyan fikr.
Selain cendekian exil Perancis-Inggris, konstribusi pemikirannya hingga kini memberi arah bagi Revolusi Islam 1979 dengan kritik terhadap reduksionisme materialis Barat dan tawaran sosiologi Islam yang berakar pada tradisi sendiri.
Ia melihat Islam bukan sekadar ritual, melainkan kekuatan sosial-politik yang mampu membebaskan masyarakat dari penindasan.
Pemikirannya bertransformasi menjadi ideologi politik konkret, memberi legitimasi bagi perlawanan Iran terhadap dominasi Barat.
Sementara, balik ke Oreskes dan Conway yang memberi peringatan futuristik, Diamond justru menekankan pola historis dan Gibbon yang menyoroti degradasi moral Roma.
Sehingga Shariati, yang menghidupkan kembali peradaban Islam, terlihat bahwa keruntuhan bukanlah kutukan sejarah, melainkan akibat pilihan manusia.
Peradaban runtuh, sejatinya menurut analisis ketat mereka, ketika gagal mengelola eko sistem lingkungan, politik, dan moralitas.
Refleksi atas karya-karya ini mengingatkan bahwa masa depan peradaban bergantung pada keberanian untuk belajar dari sejarah, mendukung sains, menjaga moralitas, dan membangun sistem sosial-politik yang adil serta adaptif.
Sementara, Iran sebagai peradaban klasik yang panjang kini berdiri dalam posisi unik yakni melawan Amerika, Israel, dan sekutunya dengan gigih, seolah menghidupkan kembali tradisi perlawanan yang berakar dalam sejarahnya.
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran menampilkan wajah baru peradaban yang tidak sekadar bertahan, tetapi menantang dominasi global.
Akar kekuatan ini dapat ditelusuri dari pemikiran Ali Shariati, seorang cendekiawan yang wafat sebelum revolusi, namun gagasannya menjadi bahan bakar ideologis bagi generasi muda.
Shariati menolak reduksionisme materialis Barat dan menekankan bahwa Islam harus dipahami sebagai kekuatan sosial-politik yang membebaskan.
Kritiknya terhadap hegemoni intelektual Barat dan tawaran sosiologi Islam memberi Iran kerangka berpikir yang berbeda dari model modernitas Barat.
Jika dibandingkan dengan ciri-ciri peradaban yang runtuh menurut Oreskes dan Conway, Diamond, maupun Gibbon, Iran menunjukkan pola yang kontras.
Barat digambarkan rapuh karena penyangkalan sains dan ideologi pasar bebas yang kaku, Roma runtuh karena degradasi moral dan korupsi, sementara peradaban kuno lain gagal mengelola lingkungan dan sumber daya.
Iran justru menampilkan ketahanan melalui ideologi yang berakar pada tradisi sendiri, meski harus berhadapan dengan tekanan ekonomi, politik, dan militer dari luar yang masif, ganas dan sangat keras.
Nyaris tak ada kompromi dari gelagat Trump.
Dalam konfrontasi dengan Amerika dan Israel, Iran menegaskan identitasnya sebagai peradaban yang menolak tunduk pada hegemoni eksternal.
Namun refleksi kritis tetap diperlukan: apakah ketahanan ideologis cukup untuk menghindari keruntuhan?
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban runtuh bukan hanya karena serangan luar, tetapi juga karena kegagalan internal dalam menjaga moralitas, ekonomi, dan adaptasi sosial.
Iran, Amerika, dan Israel masing-masing membawa ciri khas peradaban yang bisa menjadi kekuatan sekaligus titik rapuh.
Amerika dan sekutunya menghadapi krisis legitimasi politik dan lingkungan sebagaimana diperingatkan Oreskes dan Conway.
Dan, Israel menghadapi dilema eksistensial di tengah konflik berkepanjangan, sementara Iran harus membuktikan bahwa ideologi religius-politik mampu menopang pembangunan berkelanjutan.
Dengan demikian, konfrontasi ini bukan sekadar perang geopolitik, melainkan pertemuan tiga peradaban dengan potensi keruntuhan masing-masing.
Refleksi atas karya Oreskes, Diamond, Gibbon, dan Shariati menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kutukan sejarah, melainkan karena pilihan manusia.
Iran bertahan dengan ideologi, Barat terjebak dalam penyangkalan, Roma runtuh karena kehilangan semangat kewargaan.
Pelajaran universalnya jelas bahwa peradaban hanya akan tegak jika mampu menjaga keseimbangan antara tradisi, moralitas, ilmu pengetahuan, dan keberanian politik menghadapi tantangan zaman.
#coversongs: “Egyptian Meditation Temple” bukanlah sebuah rilis modern, melainkan merujuk pada praktik spiritual kuno Mesir yang berpusat pada kuil sebagai ruang kontemplasi. Maknanya adalah tempat untuk mencapai ketenangan batin, koneksi dengan ilahi, dan persiapan menuju kehidupan setelah mati.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



