Sunday, March 1, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomRamadhan Bulan Jihad

Ramadhan Bulan Jihad

Ada bangsa yang menandai kalendernya dengan musim liburan dan diskon tengah tahun. Ada pula bangsa yang menandai kalendernya dengan tanggal-tanggal luka dan harga diri, bangsa yang menambahkan jihad sebagai salah satu rukun iman.

Maka ketika serangan Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan terjadi tepat pada 10 Ramadhan, bagi bangsa Iran itu bukan sekadar tanggal militer, melainkan tanggal jihad teologis. Bagi mereka, sejarah bukan hanya ditulis oleh para jenderal dan analis geopolitik, tetapi juga oleh ayat-ayat yang hidup dalam kesadaran kolektif.

Ramadhan, dalam ingatan Islam, bukan hanya bulan puasa dan sirup kurma. Ia juga bulan terjadinya Perang Badar, bulan jihad, ketika komunitas kecil yang minim logistik mengalahkan kekuatan besar yang kenyang persenjataan.

Sejarah mencatat peristiwa itu bukan sebagai legenda, tetapi sebagai momentum psikologis yang membentuk mentalitas perlawanan. Bahkan, jadi titik tolak kebangkitan peradaban besar. Melawan penindasan dan kezaliman, dengan semangat ajaran jihad yang menghunjam di dada.

Maka ketika Iran merespons serangan pada hari yang sama, hanya dalam jeda sekian jam, bagi banyak warganya itu tidak dibaca sebagai operasi balasan biasa. Ia dibaca sebagai kelanjutan narasi bahwa perlawanan memiliki legitimasi spiritual.

Di titik ini geopolitik bertemu teologi, dan keduanya tidak selalu duduk di meja yang sama.

Dunia Barat membaca konflik dalam bahasa deterrence, stabilitas regional, dan keseimbangan kekuatan. Iran membacanya dalam bahasa kehormatan, kesyahidan (syahadah), dan tanggung jawab iman. Dua kamus ini sering kali tidak saling menerjemahkan.

Iran modern lahir dari Revolusi 1979 yang menjadikan ideologi sebagai fondasi negara. Dalam doktrin resmi Republik Islam, konsep perlawanan terhadap dominasi asing dan pembelaan terhadap kaum tertindas menjadi bagian dari identitas nasional.

Bagi banyak warga Iran, sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, dan tekanan militer bukan sekadar tekanan eksternal, melainkan harga yang telah diperhitungkan sejak awal pilihan politik mereka. Mereka tidak menganggap dirinya korban kebetulan sejarah, tetapi pelaku pilihan sejarah.

Di mata pendukungnya, pembalasan Iran terhadap serangan AS+Israel diproyeksikan sebagai mandat kehormatan: membela martabat, melindungi yang tertindas, dan menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu berakhir dengan kepatuhan.

Dalam perspektif ini, mitos “adidaya” tampak retak ketika intimidasi dijawab dengan ketegasan. Sejarah memang menunjukkan bahwa kekuatan besar sering runtuh bukan karena kekurangan senjata, tetapi karena kehilangan legitimasi moral di mata dunia.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa setiap perlawanan membawa konsekuensi. Sanksi, isolasi, inflasi, dan penderitaan sipil bukan metafora, melainkan realitas sehari-hari. Iran sudah mengalami ini puluhan tahun, yang justeru membuatnya kuat dan mandiri.

Iran bukan negeri utopis; ia negeri nyata dengan rakyat nyata yang menanggung biaya pilihan geopolitik. Tetapi dalam psikologi kolektif yang dibangun oleh revolusi dan teologi, penderitaan dapat ditransformasikan menjadi narasi ketabahan. Di sinilah ideologi bekerja yakni mengubah biaya menjadi makna.

Pukulan Iran juga diarahkan pada Israel dalam konteks konflik panjang Palestina sejak 1948.

Bagi pendukung poros perlawanan, tindakan tersebut dipandang sebagai upaya mematahkan asumsi bahwa penindasan selalu aman di balik perlindungan kekuatan besar. Dunia internasional pun kembali dipaksa menyaksikan kenyataan lama bahwa konflik yang tidak pernah selesai akan selalu menemukan bentuk barunya.

Kontras terasa hingga ke negeri-negeri jauh seperti Indonesia. Sebagian umat membaca peristiwa ini sebagai cermin keberanian; sebagian lainnya melihatnya sebagai risiko eskalasi yang berbahaya.

Perdebatan ini menunjukkan satu hal bahwa dunia Islam tidak monolitik. Ia terdiri dari spektrum pandangan yang luas, dari pragmatis hingga ideologis, dari realis hingga spiritualis.

Di atas meja diplomasi, kekuatan diukur dengan angka: anggaran militer, jumlah rudal, daya jangkau drone, dan statistik ekonomi. Tetapi sejarah sering berbelok bukan karena angka, melainkan karena keyakinan.

Banyak peristiwa besar lahir dari aktor yang tampak kecil namun memiliki tekad besar. Pertanyaan klasik pun bergema kembali: berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar?

Di sinilah paradoks modernitas berdiri tegak. Dunia yang mengaku rasional tetap digerakkan oleh simbol, iman, dan identitas.

Negara-negara berbicara tentang stabilitas, tetapi rakyat berbicara tentang martabat. Diplomasi berbicara tentang kepentingan, tetapi sejarah berbicara tentang makna.

Akhirnya, peristiwa ini bukan hanya tentang rudal yang melintas langit Timur Tengah. Ia tentang bagaimana sebuah bangsa memahami dirinya sendiri: apakah sebagai objek tekanan global, atau sebagai subjek sejarah yang berhak menentukan arah.

Bagi Iran, pilihan itu telah diambil sejak lama, dengan kesadaran bahwa jalan tersebut mahal, sepi, dan penuh risiko.

Dan bagi dunia, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah jeda, bukan solusi. Bahwa kekuatan tanpa legitimasi hanyalah bayangan. Bahwa iman, entah disetujui atau ditolak, tetap menjadi energi politik yang tak bisa diabaikan.

Tragedi dapat menjadi luka. Luka dapat menjadi identitas. Identitas dapat menjadi daya tahan. Dan dari daya tahan itulah sejarah sering lahir kembali, dengan wajah yang tak pernah benar-benar baru.

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior dan Pengasuh Ma’had Tadabbur Al-Quran

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular