Tuesday, February 17, 2026
spot_img
HomeBerita AllPraksis Ekoteologi Dalam Praktik Puasa

Praksis Ekoteologi Dalam Praktik Puasa

(foto: diambil dari laman Youtube ihwal suasana kota London menyambut bulan Ramadhan 2026)

“Ini pertama kalinya aku berpuasa. Aku senang, tapi aku khawatir teman-temanku tidak akan mengerti kenapa aku tidak makan siang.” — Reem Faruqi, penulis buku anak-anak pemenang penghargaan, fotografer, dan pendidik tinggal di Atlanta, Georgia, dalam Lailah’s Lunchbox: A Ramadan Story (2015)

Puasa dalam perspektif praksis ekoteologi bersama dapat dipahami sebagai jembatan antara ritual keagamaan dan kesadaran ekologis.

Secara tahunan di bulan Ramadhan, umat Islam menunaikan puasa sebagai salah satu rukun utama dari empat sisanya.

Tradisi ini, bila ditilik dari praksis ekoteologi, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga mengajarkan pengendalian nafsu, solidaritas sosial, serta penghormatan terhadap ciptaan Tuhan.

Kisah dalam Lailah’s Lunchbox: A Ramadan Story yang ditulis Reem Faruqi memberi gambaran sederhana tentang bagaimana seorang anak Muslim, Lailah, belajar mengekspresikan identitasnya melalui puasa di lingkungan baru.

Cerita ini menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual, melainkan pengalaman praksis yang membentuk keberanian, solidaritas, dan penerimaan sosial.

Dari sudut ekoteologi, pengalaman ini menunjukkan bahwa puasa adalah cara manusia berlatih hidup selaras dengan keterbatasan, sebuah nilai yang relevan dengan krisis ekologis modern.

Dr. Randi Fredricks, Ph.D. dalam Psikologi serta Doctorate in Naturopathy di San Jose, Calofornia, dalam Fasting: An Exceptional Human Experience (2012) menelusuri sejarah puasa sebagai praktik universal sejak pra sejarah.

Sebagai seorang psikoterapis, peneliti, dan penulis, Fredricks menekankan bahwa puasa ditemukan di hampir semua agama besar yakni Islam dengan ṣawm, Kristen dengan Lent, Yahudi dengan tzom, Hindu dengan upavāsa, Buddhisme dengan uposatha.

Demikian pula, Taoisme dengan zhai, hingga tradisi pribumi yang menggunakan puasa yang dalam bahasa Sanskrta disebut upavāsa (उपवास), yang berarti “berdiam diri” atau “menahan diri dari makanan maupun minuman dalam bentuk pengendalian diri dan ibadah sebagai sarana transformasi spiritual.

Fredricks menunjukkan bahwa puasa adalah pengalaman manusia universal yang melintasi batas agama, budaya, dan sejarah, serta memiliki dimensi spiritual, psikologis, medis, dan politik.

Lain pula, kajian mutakhir oleh Manoj K. Singh & Rudra P. Saha dalam Wellness Advantages of Religious Fasting Practices (2025) menambahkan dimensi kesehatan. Puasa dipandang sebagai praktik universal dengan manfaat metabolik, kardiovaskular, neurologis, dan psikologis.

Islam menekankan pengendalian diri dan solidaritas sosial, Kristen menekankan refleksi dan pertobatan, Yahudi menekankan tobat dan penyucian diri, Hindu menekankan pengendalian hawa nafsu, Buddhisme menekankan meditasi dan disiplin spiritual. Semua tradisi menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ritual, tetapi juga sarana menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa.

Perspektif ekoteologi praksis menemukan fondasi awal dalam karya Seyyed Hossein Nasr Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968).

Nasr (92), fisikawan alumni MIT, aktif sebagai University Professor of Islamic Studies di George Washington University, Washington D.C., menegaskan bahwa krisis ekologi berakar pada krisis spiritual manusia modern yang telah mendesakralisasi alam.

Alam dipandang sekadar objek eksploitasi, kehilangan makna sakralnya sebagai ciptaan Tuhan. Ia menawarkan solusi berupa resakralisasi ilmu dan alam, mengembalikan pandangan bahwa alam adalah ayat Tuhan yang harus dihormati. Dalam kerangka ini, puasa menjadi praktik yang mengingatkan manusia pada keterbatasan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap ciptaan.

Dengan demikian, ekoteologi praksis bersama menempatkan puasa sebagai pengalaman lintas agama yang bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga latihan ekologis. Puasa mengajarkan manusia untuk hidup dengan kesadaran, menahan diri dari konsumsi berlebihan, dan menghormati alam sebagai ciptaan yang sakral.

Dari kisah anak kecil seperti Lailah hingga refleksi filosofis Nasr, dari penelitian Fredricks hingga kajian kesehatan Singh & Saha, puasa menjadi simbol universal bahwa krisis batin dan krisis ekologi dapat dijawab dengan resakralisasi hidup melalui praktik sederhana namun mendalam yaitu menahan diri, menghormati alam, dan menemukan harmoni dengan ciptaan.

#coversongs: Maher Zain, penyanyi Lebanon-Swedia kelahiran 16 Juli 1981, merilis lagu “Ramadan” pada tahun 2013 melalui Awakening Music. Lagu ini kemudian hadir dalam tiga versi bahasa yaitu Inggris, Arab, dan Indonesia. Hingga kini Maher Zain masih aktif sebagai penyanyi, penulis lagu, dan produser musik, dengan karya-karya yang banyak diputar setiap bulan Ramadan. Lirik lagu ini menekankan kerinduan akan suasana spiritual Ramadan yang penuh damai, cinta, dan keberkahan, serta harapan agar semangat Ramadan selalu hadir sepanjang tahun.

 

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular