Tuesday, January 20, 2026
spot_img
HomePolitikaDaerahBung Rocky, Bu Risma, dan Eri Cahyadi Satu Suara Pentingnya Sisi Ekologis...

Bung Rocky, Bu Risma, dan Eri Cahyadi Satu Suara Pentingnya Sisi Ekologis dalam Pembangunan Kota

 

Flyer acara Public Lecture yang diselenggarkan Pandu Negeri. Dari kiri ke kanan, Airlangga Pribadi Kusman (Pakar Politik UNAIR), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya 2010-2020), Rocky Gerung (Tokoh Publik), Eri Cahyadi (Walikota Surabaya). (Foto: Pandu Negeri)

SURABAYA, Cakrawarta.com – Balai Budaya Alun-Alun Kota Surabaya menjadi saksi bisu terjadinya diskursus tajam mengenai masa depan peradaban urban. Dalam gelaran Public Lecture bertajuk “Spirit of Humanity and Human Solidarity: Kemanusiaan dan Tata Peradaban Kota” yang diinisiasi oleh Pandu Negeri, Sabtu (17/1/2026) sore, sejumlah tokoh nasional membedah strategi pembangunan Surabaya yang memadukan kekuatan ekonomi kerakyatan, kelestarian ekologi, dan solidaritas sosial.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmennya untuk menjaga Surabaya dari cengkeraman kapitalisme murni. Ia mengumumkan langkah progresif berupa penandatanganan MoU dengan 51 hotel di Surabaya pada 22 Januari mendatang. Kerja sama ini mewajibkan hotel-hotel tersebut menyerap seluruh kebutuhan pangan, seperti ayam dan sayur-mayur, langsung dari hasil produksi warga Surabaya.

“Mereka yang tinggal di Surabaya tidak boleh jadi kapitalis, harus perhatikan warga. Surabaya tidak dibangun oleh kelompok tertentu, tapi oleh Arek-Arek Suroboyo yang membangun bersama-sama,” tegas Eri di hadapan audiens.

Selain ekonomi, Eri menyoroti keberhasilan Surabaya menekan angka stunting hingga 0,6% menjadikannya salah satu yang terendah di Indonesia. Menurutnya, pencapaian ini bukan sekadar kerja birokrasi, melainkan buah dari gerakan ‘Bapak Asuh’ yang mencerminkan penerapan Pancasila dan agama secara kaffah. Ia juga menjanjikan dukungan konkret bagi Gen Z melalui beasiswa senilai Rp 5 juta untuk menggerakkan aktivitas kepemudaan di tingkat kampung.

Pakar Politik, Airlangga Pribadi Kusman, melihat Surabaya telah berhasil membangun estafet kepemimpinan yang konsisten, mulai dari Bambang DH, Tri Rismaharini, hingga Eri Cahyadi. Ia memperkenalkan konsep “Solidaritas Kesemestaan,” di mana pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada manusia, tetapi juga ekologi.

Airlangga Pribadi Kusman (Pakar Politik UNAIR) ketika menyampaikan kuliah publiknya di Balai Budaya, Surabaya (17/01/2026). (Foto: Cakrawarta.com)

Airlangga memuji keberadaan hutan mangrove Surabaya yang mampu menyerap karbon lima kali lebih banyak dibanding hutan biasa. “Ini adalah formula membangun peradaban yang tidak hanya manusiawi, tapi juga ekologis. Bayangkan jika kebijakan mangrove ini diadopsi di seluruh Jawa Timur dan Pulau Jawa,” jelasnya.

Namun, Airlangga juga melontarkan kritik tajam terhadap kondisi demokrasi saat ini yang dinilainya “mangkrak” karena adanya insentif bagi aktor politik yang berperilaku buruk dan curang.

Pengamat publik, Rocky Gerung, hadir dengan retorika tajam yang menjadi ciri khasnya. Ia menyebut Surabaya sebagai kota yang “hidup” karena menjadi titik temu perkelahian antara kapital, kultur, dan akademis.

Rocky secara khusus mengapresiasi warisan ekologis Tri Rismaharini. “Tadi Bu Risma mengajak saya menanam pohon di Hutan Mangrove. Yang saya tanam bukan sekadar pohon, tapi paru-paru baru bagi Indonesia. Saat paru-paru utama di Aceh dan Sumut hancur, Bu Risma menjaga sebagian paru-paru Indonesia di sini,” ujar Rocky.

Ia pun menyentil dunia akademis dengan gaya satir, menekankan bahwa Surabaya harus tetap menjadi kota yang dihuni oleh mereka yang menginginkan kehidupan dan kebenaran intelektual.

Tak ketinggalan, Tri Rismaharini Walikota Surabaya 2 periode (2010-2020), juga menekankan pentingnya tatakelola lingkungan khususnya pohon untuk sumber oksigen lalu kaitannya dengan esehatan emosional warga Surabaya.

“Saya pernah sehari tanam 1.800 pohon. Saya berpikir, kalau masyarakat Surabaya oksigennya banyak, maka tidak mudah emosional. Maka saya buat Taman Bungkul ketika masih jadi Kepala Dinas Pertamanan”, ujar Risma.

Lebih lanjut, Risma menceritakan pengalamannya dulu ketika menjabat. Meski awalnya Risma dilempari batu para pedagang karena dikira mengusir mereka. Tapi Risma punya alternatif lain, menempatkan mereka di sentra kuliner di belakang taman. Kemudian Risma pun memasang jaringan wifi gratis di Taman Bungkul, sesuatu yang revolusioner di eranya. Sehingga terjadi pertemuan ruang publik dari anak kecil, remaja, dewasa, hingga lansia. Konsep inilah yang nantinya membuat Taman Bungkul menyabet beragam penghargaan internasional.

Acara yang diselenggarakan oleh Pandu Negeri ini menjadi momentum penting dalam memposisikan Surabaya sebagai model kota masa depan. Integrasi antara keberpihakan ekonomi pada rakyat kecil, pelestarian lingkungan hidup, dan penguatan ideologi melalui aksi nyata menjadi poin kunci yang dihasilkan dari diskusi tersebut.

Melalui Public Lecture ini, Surabaya kembali menegaskan jati dirinya: sebuah kota yang dibangun dengan nyali, kemanusiaan, dan kecerdasan ekologis untuk melawan arus zaman yang semakin pragmatis. (*)

Kontributor: Abdel Rafi

Editor: Tommy

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular