Thursday, January 15, 2026
spot_img
HomeSosokBerani Memulai dari Nol, Perawat Indonesia Meniti Karier di Jepang

Berani Memulai dari Nol, Perawat Indonesia Meniti Karier di Jepang

Ina Titi Sri Wulandari dengan latar belakang Fuke Hospital Jepang tempat ia bekerja saat ini.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Keinginan untuk berkarier di luar negeri kerap tumbuh di benak banyak tenaga kesehatan Indonesia. Namun, perbedaan budaya, bahasa, serta sistem kerja sering kali menjadi penghalang. Pengalaman itu dijalani oleh Ina Titi Sri Wulandari, perawat asal Indonesia yang kini bekerja di Fuke Hospital, Prefektur Saitama, Jepang.

Keputusan Ina meniti karier di Jepang berawal dari keberaniannya mencoba peluang yang tersedia. Ia melamar melalui skema kerja sama pemerintah Indonesia dan Jepang, G2G IJEPA, tanpa ekspektasi besar.

“Saat itu saya melamar seperti pelamar pada umumnya. Saya hanya mencoba, tanpa membayangkan akan benar-benar berangkat,” kata Ina.

Sebelum bekerja di Jepang, Ina telah lebih dulu berpengalaman di dalam negeri. Ia pernah bertugas sebagai perawat di RS PHC Surabaya serta mengajar sebagai dosen keperawatan di Unika Widya Mandala. Kesempatan bekerja di Jepang kemudian menjadi titik balik yang mengubah arah perjalanan profesionalnya.

Perjalanan menuju Jepang tidak berlangsung singkat. Ina harus mengikuti pelatihan intensif untuk menyesuaikan diri dengan standar pelayanan kesehatan Jepang yang dikenal presisi dan disiplin. Tantangan justru semakin terasa ketika ia mulai bekerja secara penuh.

Menurut Ina, bekerja di Jepang bukan sekadar berpindah tempat kerja, melainkan proses adaptasi menyeluruh. Perbedaan budaya kerja, terutama soal ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap prosedur, menuntut ketelitian tinggi.

“Meski di Indonesia saya sudah berpengalaman, di Jepang saya harus siap memulai dari nol. Ego sebagai perawat senior harus dilepas,” ujarnya.

Ia mengakui sempat mengalami culture shock. Namun, proses tersebut justru membantunya memahami bahwa profesionalisme di Jepang dibangun melalui konsistensi, kerendahan hati, dan kesediaan belajar.

Bahasa dan Mental sebagai Kunci

Bagi Ina, tantangan bekerja di Jepang tidak hanya terletak pada penguasaan bahasa. Lebih dari itu, kesiapan mental untuk bekerja di bawah ekspektasi tinggi menjadi faktor penentu.

“Kita harus benar-benar memahami standar pelayanan yang diinginkan masyarakat Jepang. Bukan hanya sistem medisnya, tetapi juga cara berpikir dan berinteraksi,” katanya.

Rutinitas kerja di Fuke Hospital menuntut kemandirian dalam setiap tindakan medis. Ketelitian yang diterapkan secara konsisten membentuk kebiasaan kerja yang disiplin dan terukur. Pengalaman tersebut perlahan membangun ketangguhan pribadi sekaligus meningkatkan profesionalisme.

Pengalaman Ina menunjukkan bahwa kompetensi klinis saja tidak cukup untuk bersaing di tingkat global. Kemampuan beradaptasi lintas budaya, kesiapan mental, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bekal utama bagi tenaga kesehatan yang ingin berkiprah di luar negeri.

Bagi lulusan Universitas Airlangga ini, bekerja di Jepang adalah proses pembelajaran tanpa henti. Keberanian untuk memulai dari nol di negeri orang justru membuka ruang bagi pengembangan diri yang lebih luas, sekaligus mempertegas bahwa batas geografis bukan penghalang untuk berkontribusi secara profesional di tingkat internasional.(*)

Kontributor: Khefti PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular