
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, memperingati hari lahir ke-40 Pagar Nusa dengan menekankan pentingnya penguatan kualitas diri dan nilai-nilai kejiwaan dalam pencak silat, Jumat (2/1/2025) malam.
Peringatan diikuti ratusan pendekar Pagar Nusa se-Kecamatan Diwek. Kegiatan diawali dengan berkumpul di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek, kemudian dilanjutkan dengan napak tilas dan ziarah ke makam para tokoh pendiri Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama di kawasan Tebuireng.
Peserta berjalan kaki menuju Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng untuk berziarah ke makam KH Syamsuri Baidawi, salah satu pendiri Pagar Nusa. Ziarah kemudian dilanjutkan ke makam pendiri NU di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.
Setelah salat Isya, rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi diskusi dan berbagi sejarah Pagar Nusa. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Mandataris PAC Pagar Nusa Diwek Gus Anwar Kholili, serta pembina PAC Pagar Nusa Diwek, Gus Variz Muhammad Mirza dan Gus Galih.
Ketua Panitia Harlah Pagar Nusa Diwek, Sayyid, mengapresiasi antusiasme para peserta. Ia menilai kehadiran para pendekar menjadi penentu suksesnya peringatan harlah tahun ini.
Sementara itu, Ketua Mandataris PAC Pagar Nusa Diwek, Gus Anwar Kholili, menegaskan bahwa peringatan hari lahir tidak semata-mata bersifat seremonial. “Yang terpenting dari harlah ini adalah maknanya,” ujarnya. Ia berharap ke depan peringatan harlah dapat diselenggarakan dengan lebih baik dan semakin bermakna.
Dalam sesi diskusi, Gus Variz Muhammad Mirza mengingatkan bahwa pencak silat Pagar Nusa tidak hanya berorientasi pada kekuatan fisik, tetapi juga pembentukan jiwa dan karakter. Menurut dia, sebagai perguruan silat yang lahir dari lingkungan pesantren, Pagar Nusa harus menjunjung tinggi nilai-nilai pesantren, seperti kerendahan hati dan pengendalian diri.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri dan sejarah Pagar Nusa. “Boleh berkembang dan mengeksplorasi, tetapi tidak boleh meninggalkan aspek jiwa dan rohani,” katanya. Gus Mirza menyesalkan jika kemampuan silat justru disalahgunakan, karena dalam tradisi Pagar Nusa, pencak silat dipandang sebagai jalan pengendalian diri yang sarat nilai spiritual.
Senada dengan itu, Gus Galih menekankan pentingnya kualitas anggota dibandingkan jumlah. Menurut dia, keberadaan anggota yang sedikit tetapi berkualitas jauh lebih bermakna dibandingkan jumlah besar tanpa fondasi yang kuat. Ia mendorong para pendekar untuk memperkuat dasar keilmuan, sikap, dan tanggung jawab sebelum melakukan perluasan keanggotaan.
Gus Galih juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghargai antar paguron pencak silat. Ia menegaskan bahwa Pagar Nusa sejak awal didirikan sebagai wadah pemersatu berbagai perguruan silat di lingkungan NU agar tetap sejalan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah.(*)
Kontributor: Ani Tazkiyatum M
Editor: Abdel Rafi



