
LAMONGAN, CAKRAWARTA.com – Universitas Islam Lamongan (Unisla) kian menunjukkan keseriusannya untuk berkiprah di panggung global. Pada akhir Juni 2025, perguruan tinggi berbasis pesantren ini resmi menjalin sejumlah kerja sama strategis dengan institusi ternama di Thailand dan Malaysia, sebagai bagian dari langkah konkret menuju internasionalisasi pendidikan tinggi Islam.
“Ini bukan sekadar MoU, tetapi ikhtiar serius untuk memperkuat jejaring akademik dan menjadikan Unisla sebagai bagian dari komunitas global,” ujar Wakil Rektor III Unisla, Dr. Winarto Eka Wahyudi, M.Pd.I, dalam keterangan persnya, Selasa (1/7/2025).
Langkah strategis ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman dengan Universitas Fatoni, satu-satunya universitas Islam berbasis wakaf terbesar di Thailand. Fatoni memiliki visi ambisius yakni membangun kawasan wakaf terintegrasi yang mencakup fungsi pendidikan, layanan kesehatan, zona bisnis, hingga hunian.
“Unisla menyambut baik visi jangka panjang ini karena sejalan dengan semangat pesantren yang menekankan kebermanfaatan dan keberlanjutan,” kata Dr. Eka usai kunjungannya ke Thailand pada 25–28 Juni 2025 lalu.
Selain itu, Unisla juga menjalin kemitraan dengan ASEAN Mall, sebuah lembaga keuangan berbasis syariah di bawah naungan Universitas Fatoni, serta mempererat hubungan dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Thailand, sebagai bagian dari diplomasi kultural Nahdliyin.
Dalam kunjungan tersebut, Dr. Eka juga tampil sebagai pembicara kunci dalam seminar internasional bertajuk “Profesionalisme Muslim”, yang digelar di kampus Fatoni. Ia menekankan pentingnya integritas dan etos keilmuan sebagai fondasi utama dalam mencetak generasi profesional muslim yang tangguh di tengah tantangan global.

Tak berhenti di Thailand, pada Senin (30/6/2025), Unisla melanjutkan ekspansi kolaborasi ke Malaysia dengan menandatangani MoU bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) di Shah Alam. Dalam forum akademik internasional bertema “Bridging Tradition: Advancing Governance and Tertiary Education Through the Pesantren Model”, Dr. Eka memaparkan inovasi pendekatan pendidikan yang menggabungkan nilai-nilai pesantren dengan tata kelola perguruan tinggi modern dan pemanfaatan artificial intelligence atau akal imitasi (AI).
“Seluruh kerja sama ini mencakup pertukaran riset, KKN internasional, pengabdian masyarakat lintas negara, hingga penerbitan jurnal bersama,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kerja sama administratif, menurut Dr. Eka, langkah ini adalah bagian dari misi besar Unisla: memperkuat peran pesantren dalam diskursus global dan menghadirkan kontribusi nyata pendidikan Islam dalam membentuk peradaban masa depan yang kolaboratif, berkeadilan, dan berbasis nilai.(*)
Editor: Abdel Rafi



