
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Penguatan nalar kritis, pendidikan berkarakter, dan kepemimpinan generasi muda menjadi sorotan dalam Dialog Kebangsaan Pelajar Surabaya 2026 yang diselenggarakan Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kota Surabaya di Convention Hall Gedung Siola, Surabaya, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan yang diikuti lebih dari 120 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Surabaya tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus penyampaian aspirasi generasi muda mengenai persoalan pendidikan, tantangan disrupsi digital, demokrasi, dan masa depan kebangsaan.
Mengusung tema “Dialektika Kesadaran Kritis Pelajar di Era Disrupsi Digital Menuju Praksis Kebangsaan Emansipatoris”, dialog ini merupakan bagian dari rangkaian Pra Konferensi Daerah (Pra KONDA) XXIII PII Kota Surabaya Tahun 2026.
Forum tersebut menempatkan pelajar bukan sekadar sebagai penerima informasi dan kebijakan, melainkan sebagai subjek yang memiliki kemampuan berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam upaya mencari solusi atas persoalan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
Ketua Umum PD PII Kota Surabaya periode 2024-2026, Dede Muhtadin, menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Kemajuan bangsa, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Dede menjelaskan, dialog kebangsaan tersebut sengaja diselenggarakan untuk menampung aspirasi dan keresahan pelajar sekaligus mendiskusikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Melalui forum itu, pelajar diharapkan memperoleh ruang untuk menyampaikan pandangan secara terbuka, membangun argumentasi, serta merumuskan gagasan yang berorientasi pada perbaikan bersama.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Pelajar tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memeriksa sumber, menilai bukti, membedakan fakta dan opini, serta mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan.
Nalar kritis bukan berarti menolak setiap informasi atau selalu mempertentangkan pendapat. Sebaliknya, kemampuan tersebut menuntut kebiasaan berpikir rasional, terbuka, dan bertanggung jawab agar generasi muda tidak mudah terpengaruh disinformasi maupun arus opini yang berkembang di ruang digital.
Penguatan kemampuan intelektual itu juga perlu berjalan beriringan dengan integritas, moralitas, kepedulian sosial, dan kesadaran kebangsaan. Pelajar tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi masa depan, tetapi juga perlu memperoleh ruang untuk berkontribusi dalam membentuknya sejak sekarang.
Kesadaran Kritis dan Demokrasi Jadi Perhatian
Anggota MPR/DPD RI Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua Yayasan UNITA, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., hadir sebagai pembicara utama dalam dialog tersebut.
Lia menguraikan pentingnya kesadaran kritis sebagai kemampuan memahami realitas sosial, menilai persoalan secara mendalam, dan tidak menerima keadaan secara pasif.
Perspektif itu sejalan dengan pemikiran Paulo Freire mengenai critical consciousness atau kesadaran kritis, yang menekankan pentingnya memahami struktur sosial dan ketidakadilan sebagai dasar bagi tindakan reflektif dan perubahan.
Dalam konteks kehidupan pelajar, kesadaran kritis berkaitan dengan kemampuan menginterpretasikan informasi, menganalisis persoalan, mengevaluasi bukti, menarik kesimpulan, menjelaskan argumentasi, serta mengoreksi penilaian diri.
Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika ruang digital dipenuhi beragam informasi, mulai dari fakta dan opini hingga propaganda dan disinformasi. Tanpa kecakapan mengevaluasi informasi, kemudahan teknologi justru dapat membuat generasi muda rentan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak terverifikasi.
Lia juga menyoroti pentingnya kesadaran politik di kalangan generasi muda. Demokrasi, dalam perspektif ini, tidak cukup dipahami sebagai mekanisme pemilihan umum, tetapi juga sebagai ruang partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Pelajar perlu memahami bahwa kebijakan publik memiliki konsekuensi terhadap kehidupan masyarakat dan masa depan generasi berikutnya. Karena itu, partisipasi dalam kehidupan demokrasi membutuhkan pengetahuan, kemampuan menilai persoalan, serta tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
Aspek lain yang disoroti ialah meritokrasi, yakni prinsip penempatan seseorang berdasarkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas, bukan semata-mata kekayaan, status sosial, hubungan kekerabatan, atau kedekatan politik.
Dalam konteks kepemimpinan, pengembangan kapasitas generasi muda perlu disertai keberanian, kreativitas, kedisiplinan, daya tanggap, dan konsistensi nilai. Kepemimpinan tidak semestinya berhenti pada jabatan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan dan tanggung jawab.
Organisasi Pelajar Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Apresiasi terhadap penyelenggaraan dialog disampaikan Wakil Ketua Umum Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Kota Surabaya, Djuwari Syaifudin.
Ia menyampaikan kebanggaannya atas inisiatif PD PII Kota Surabaya dalam menghadirkan ruang dialog kebangsaan bagi pelajar. Menurutnya, PII perlu terus memperluas jangkauan gerakan dan merangkul pelajar dari berbagai latar belakang.
Djuwari juga menyoroti pentingnya peran organisasi pelajar dalam menghadapi tantangan pembentukan karakter, moral, dan identitas generasi muda. Kegiatan semacam ini dinilai perlu diselenggarakan lebih luas agar organisasi tidak hanya menjadi ruang kaderisasi internal, tetapi juga hadir sebagai bagian dari lingkungan sosial yang mampu menampung aspirasi dan memberikan kontribusi nyata.
KB PII Kota Surabaya, lanjutnya, siap mendukung penguatan gerakan PII agar semakin aktif, kolaboratif, dan memberikan dampak bagi generasi muda. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat keberlanjutan program yang berorientasi pada pengembangan kapasitas, kepemimpinan, dan karakter pelajar.
Perspektif dari kalangan mahasiswa turut memperkaya diskusi. Dua narasumber dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yakni Khairunnisa Nur Fadhilah, Mahasiswa Berprestasi II UNESA, serta Ilman Zidni Mubarok, Ketua BEM Fakultas Bahasa dan Seni UNESA, berbagi perspektif mengenai pengembangan kapasitas akademik, kepemimpinan, dan gerakan organisasi mahasiswa.
Pembahasan bersama Khairunnisa berfokus pada tantangan nalar kritis di tengah banjir informasi, krisis karakter dalam transformasi digital, serta upaya mengubah prestasi dan pengetahuan menjadi kontribusi sosial.
Kecakapan digital, dalam pembahasan tersebut, perlu diimbangi dengan kemampuan memverifikasi informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menjaga etika dan martabat manusia di ruang digital.
Prestasi individual juga perlu dikembangkan menjadi modal untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Kemampuan akademik dan pencapaian personal akan memiliki nilai sosial yang lebih besar ketika diterjemahkan menjadi gagasan, inisiatif, dan kegiatan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, perspektif Ilman menempatkan organisasi mahasiswa sebagai ruang pengembangan tradisi intelektual, pembentukan kesadaran sosial, dan latihan kepemimpinan demokratis.
Organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat konsolidasi, tetapi juga perlu menjadi ruang untuk menguji gagasan, membangun argumentasi berbasis data, serta merumuskan respons terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Diskusi juga menyoroti pentingnya menjaga kebebasan berpendapat tanpa mengabaikan etika, empati, dan tanggung jawab kemanusiaan. Perbedaan pandangan semestinya menjadi kesempatan untuk memperkaya perspektif, bukan alasan untuk membangun permusuhan maupun polarisasi.
Kepemimpinan muda dituntut mampu mengelola perbedaan secara demokratis sekaligus mempertahankan prinsip yang diperjuangkan.
Dari Gagasan Menuju Praksis Kebangsaan
Salah satu penekanan dalam dialog tersebut ialah pentingnya menerjemahkan gagasan dan kritik menjadi tindakan nyata. Kesadaran kritis tidak seharusnya berhenti pada slogan, perdebatan, atau aktivitas di media sosial, tetapi perlu diwujudkan melalui kerja kolektif yang terukur, partisipatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara organisasi pelajar, mahasiswa, sekolah, dan masyarakat menjadi salah satu pendekatan untuk mengembangkan gerakan yang lebih responsif terhadap persoalan pendidikan dan kehidupan sosial.
Sepanjang kegiatan, dialog berlangsung interaktif melalui pertanyaan dan penyampaian pandangan peserta. Para pelajar tidak hanya mengikuti pemaparan narasumber, tetapi juga terlibat dalam pertukaran gagasan mengenai persoalan pendidikan serta tantangan yang dihadapi generasi muda.
Partisipasi tersebut memperlihatkan pentingnya menyediakan ruang yang memungkinkan pelajar mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus membangun keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
Melalui Dialog Kebangsaan Pelajar Surabaya 2026, PD PII Kota Surabaya berupaya memperkuat kesadaran bahwa pembangunan bangsa membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, memiliki karakter kemanusiaan, memahami kehidupan demokrasi, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Pendidikan dan organisasi pelajar diharapkan menjadi ruang strategis untuk mengembangkan kapasitas tersebut. Nasionalisme pun tidak cukup diwujudkan melalui simbol dan pernyataan, tetapi perlu tercermin dalam kepedulian terhadap persoalan masyarakat, kesediaan belajar, keberanian menyampaikan aspirasi, serta komitmen berkontribusi bagi kepentingan bersama.
Sebagai bagian dari rangkaian Pra KONDA XXIII PII Kota Surabaya Tahun 2026, dialog ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi dalam mendampingi generasi muda menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.(*)
Editor: Abdel Rafi








