PKL Aset Bangsa, Harus Ditata dan Dibina Bukan Digusur

1111 views
Ketua Umum DPP APKLI, dr. Ali Mahsun,M.Biomed saat mendeklarasikan penyelamatan PKL Indonesia bersama Bapak Jamal, pedagang sate fenomenal karena aksi keberaniannya di tengah Teror Bom Sarinah.

Ketua Umum DPP APKLI, dr. Ali Mahsun,M.Biomed saat mendeklarasikan penyelamatan PKL Indonesia bersama Bapak Jamal, pedagang sate fenomenal karena aksi keberaniannya di tengah Teror Bom Sarinah.

JAKARTA – Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) merupakan organisasi profesi pedagang kaki lima (PKL) di seluruh Indonesia. Hari ini, Jumat (29/1/2016) APKLI memperingati hari lahirnya yang ke-23. Di usia yang menginjak dewasa, APKLI yang kelahirannya dibidani seorang pedagang sate asli Madura di Yogyakarta, (alm.) H. Muhammad Rifa’i ini telah mengalami pasang surut gelombang dan jalan terjal. Dalam perjalanannya itu, APKLI telah melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) sebanyak 4 (empat) kali. Dimulai Munas I pada 1993 di Yogyakarta, dengan (alm.) H. Muhammad Rifa’I sebagai Ketua Umum, dilanjutkan dengan Munas II pada 1999 di Jakarta dan terpilihlah (alm.) M. Yusuf HR sebagai Ketua Umum DPP APKLI.

Munas berikutnya yaitu Munas III APKLI di Surabaya pada tahun 2004 dimana (alm.) Achmad Rifa’i diamanahi peserta Munas sebagai pimpinan hingga pada Munas IV APKLI pada 2011 di Semarang, terpilihlah dr. Ali Mahsun, M.Biomed sebagai Ketua Umum.

Tujuan dari kelahiran APKLI adalah untuk memanusiakan dan menyejahterakan PKL, melindungi dan menjaga harkat martabat PKL, dan mengantarkannya sebagai ujung tombak kekuatan ekonomi rakyat dan pilar utama kokohnya kedaulatan ekonomi bangsa dalam naungan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta melestarikan warisan ekonomi dan budaya leluhur bangsa Indonesia.

“Pada harlah  ke-23 saat ini, APKLI menegaskan kembali bahwa asal dimanusiakan, PKL mudah ditata dan diberdayakan, dan PKL tidak pernah meminta apapun kecuali negara hadir berkomitmen melindungi dan memberdayakan PKL,” tegas Ali Mahsun kepada redaksi cakrawarta.com di Jakarta, Jumat (29/1/2016).

Ali Mahsun menegaskan PKL bukanlah sampah atau masalah pembangunan. Mereka merupakan aset bangsa, juga warisan ekonomi dan budaya leluhur bangsa Indonesia.

Menurut dokter jebolan Unibram dan UI ini, jasa PKL sangat besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan RI. Bukan saja sistem logistik dan intelijen perjuangan. lebih dari itu, ide, gagasan, dan cita-cita Indonesia dilahirkan dari kongkow-kongkow di lapak PKL. Demikian pula dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, PKL merupakan garda depan kekuatan ekonomi rakyat dan bangsa Indonesia, serta pilar utama kemandirian dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Tak ada yang bisa membantah, tanpa kontribusi PKL dipastikan ekonomi Indonesia akan kolap saat mengalami krisis ekonomi pada 1997/1998, bahkan seperti pendirinya, saat terjadi Bom Sarinah (14/1/2016) seorang pedagang sate bernama Jamal mengguncang dunia karena keberaniannya untuk tetap berjualan sate di tengah ancaman teror. Peledakan yang akan berdampak memperburuk krisis ekonomi yang dialami Indonesia saat itu justru dengan keberanian PKL hingga dunia internasional terhenyak bahwa Indonesia adalah bangsa yang berani.

Ironisnya justru terjadi penindasan dan penjajahan terhadap PKL yang semakin marak dan vulgar tetapi dilakukan oleh anak bangsa sendiri yang menjadi pemegang kekuasaan dan melupakan eksistensi PKL.

“Makanya APKLI menegaskan tidak akan bergeser sejengkalpun untuk tetap konsisten melindungi, menata dan memberdayakan PKL seperti tertera pada PP Nomor 125 Tahun 2012. APKLI juga siap mempertahakankan dan merebut kembali kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia yang kini dicengkeram kongsi kapitalis multinasional asing. Apapun resikonya,” pungkas pria asli Mojokerto itu.

(bti)

author