Berita Terpercaya Tajam Terkini

SAPARDI DJOKO DAMONO

 

“Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh, ” demikian kata Jacob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984. Dan hari ini, Minggu, 19 Juli 2020, penyair (Prof. Dr.) Sapardi Djoko Damono telah dijemput oleh kematian. Beliau meninggal dunia pada usia 80 tahun lebih beberapa bulan, karena beliau lahir pada 20 Maret 1940.

Sapardi Djoko Damono selain dikenal sebagai Dosen sastra di Universitas Indonesia, ia juga menjalani profesi sebagai seorang penyair. Dengan demikian, sebagai seorang Dosen ia tidak hanya pandai berteori atau berkata-kata saja, namun juga pandai mempraktekan apa yang ia teorikan. Karya sastranya luar biasa banyak. Ratusan puisi lahir dari penanya yang tajam.

Puisi-puisinya selalu berbobot, sehingga sering mendapatkan penghargaan. Tahun 1983, kumpulan puisinya “Sihir Hujan” yang memuat 51 sajak memperoleh penghargaan “Puisi Putra II” dari Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena) Malaysia, atas dukungan sponsor Bank Bumiputra setempat. Atas prestasinya tersebut Sapardi mendadak menjadi kaya, karena ia mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 15 ribu ringgit atau setara 6,3 juta rupiah. Uang sebesar itu untuk ukuran tahun 1983 sudah sangat besar karena gaji sebagai seorang Dosen saat itu hanya ratusan ribu rupiah saja.

Saat menerima penghargaan tersebut sapardi datang sendiri ke Malaysia. Di sana ia sempat malu dan agak grogi ketika ditanya oleh salah seorang wartawan majalah Dewan Sastra, “Berapa jumlah hadiah sastra di Indonesia?”

“Saat itu saya menyebut saja, satu juta rupiah, hadiah lomba majalah Femina, supaya kelihatan agak besar,” kenang Sapardi. Padahal saat itu hadiah untuk karya sastra di Indonesia paling-paling hanya ratusan ribu rupiah saja. Di Malaysia hadiah sastra cukup besar karena mendapat dukungan dana dari sponsor. “Saya ingin agar suatu saat hadiah untuk karya sastra di Indonesia bisa mencapai 10 juta rupiah,” demikian kata Sapardi selepas mendapat penghargaan bergengsi dari Malaysia tersebut.

Sapardi Djoko Damono sudah menulis puisi sejak kelas 2 SMA di Solo. Karya pertamanya dimuat di surat kabar yang terbit di Semarang. Sejak saat itu puisi-puisinya mengalir deras dari pena yang ia goreskan di kertas. Tahun 1969 terbit kumpulan puisi “Duka Mu Abadi”, disusul kemudian “Mata Pisau, dan Akuarium (1974). “Sihir Hujan” lahir ketika ia sedang terbaring sakit. Begitulah seorang penyair hebat, bahkan sakit pun menjadi inspirasi lahirnya sebuah karya besar. Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengunjungi sebuah toko buku terkenal, karya-karya Sapardi mendominasi rak buku toko tersebut untuk karya puisi. Sapardi memang orang besar dalam dunia penyair Indonesia.

Sapardi tidak hanya sukses sebagai penyair, ia juga sukses sebagai seorang akademisi. Setamat dari SMA II Solo ia melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, lulus tahun 1964. Sesudahnya ia sempat mengajar di IKIP Malang Cabang Madiun selama empat tahun, kemudian pindah mengajar di Universitas Diponegoro selama enam tahun, sampai kemudian hijrah ke Jakarta dan mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1975. Di Universitas Indonesia Sapardi pernah diangkat sebagai Wakil Dekan III, kemudian Wakil Dekan I, sampai kemudian diangkat sebagai Dekan Fakultas Sastra.

Tentang karirnya sebagai Dosen ia sempat berseloroh, ” Jadi dosen itu enak, waktunya lebih longgar. Kalau jadi pegawai kantor harus duduk dari pagi sampai petang.” Namun sebagai seorang Wakil Dekan dan kemudian menjadi Dekan, nyatanya waktunya menjadi tidak longgar lagi. ia harus banyak terlibat dengan berbagai urusan di kampusnya. Toh, Sapardi masih memiliki banyak waktu untuk berkegiatan di berbagai lembaga di luar kampus. Ia adalah Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia (1973-1978), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak tahun 1975), pendiri sekaligus sebagai Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (sejak tahun 1984), serta jabatan lain di banyak organisasi.

Sebagai seorang akademisi, Sapardi juga menulis buku akademis. Beberapa bukunya antara lain Sosiologi Sastra, Novel Indonesia sebelum Perang, Tifa Budaya (ed), Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan, dan banyak buku lainnya. Sapardi adalah tipe ideal seorang Dosen, menulis buku-buku teoretis sekaligus menjalankan profesi atas apa yang menjadi objek kajiannya, sebagai penyair.

Akupun ingin seperti Pak Sapardi, menjadi Dosen ideal….

 

Comments are closed.