Monday, March 30, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomRefleksi Disrupsi Perang

Refleksi Disrupsi Perang

(foto: BREAKING: Israel STRIKES Iran Nuclear Sites; Steel Industry HIT; Houthis Join; TB Israel US Iran War LIVE | Iran’s Oil Hub Hit: Is a U.S. Invasion of Kharg Island Next? I I…CNN-News18; War With Iran Full Episode: Fri, Mar 27, 2026 ABC News)

“Jadi, meskipun kita secara resmi berduka atas korban perang masa lalu setiap tahun, kita semakin melihat perang sebagai sesuatu yang terjadi ketika perdamaian -keadaan normal- runtuh. Pada saat yang sama, kita dapat menikmati ketertarikan pada para pahlawan militer hebat dan pertempuran mereka di masa lalu; kita mengagumi kisah-kisah keberanian dan aksi heroik dalam perang; rak-rak toko buku dan perpustakaan penuh dengan sejarah militer; dan produser film dan televisi tahu bahwa perang selalu menjadi subjek yang populer.” — Margaret MacMillan (80), War: How Conflict Shaped Us?

Memasuki bulan ketiga pada April ini, Disrupsi Perang Amerika Israel vs Iran tak ada tanda mereda.

Bersama irama masa lampau atas semua konflik perang dari penyair John Keats, wafat 1821, di usia muda 25 selalu mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan, melainkan gema yang terus berulang.

Ia juga suka dikutip dalam Endymion (1818), “Keindahan adalah sumber kebahagiaan abadi: keindahannya semakin bertambah; ia tidak akan pernah lenyap begitu saja.”

Des, jika wabah pernah menjadi metafora tentang rapuhnya peradaban, kini disrupsi perang menjadi wajah baru dari kegagalan manusia mengelola kekuasaan.

Amerika dan sekutunya, yang selama puluhan tahun menahbiskan diri sebagai superpower, justru tersandung ketika berhadapan dengan Iran -sebuah negara yang dianggap periferal namun mampu mengguncang tatanan geopolitik global.

Kegagalan ini bukan sekadar militeristik, melainkan epistemologis.

Superpower yang mengandalkan kalkulasi ekonomi dan teknologi perang ternyata tak mampu menundukkan keyakinan, jaringan sosial, dan strategi asimetris yang dijalankan Iran.

Sama halnya ketika wabah memaksa manusia menjaga jarak, perang modern memaksa negara besar menyadari bahwa dominasi tidak lagi ditentukan oleh jumlah kapal induk atau rudal balistik, melainkan oleh kemampuan bertahan, beradaptasi, dan membangun narasi.

Seperti memori bahagia yang pernah kita simpan dari film laga apapun, perang pun menyimpan kenangan pahit yang terus berulang.

Amerika pernah berjaya di Perang Dunia, namun kini justru terjebak dalam repetisi kegagalan intervensi mulai dari Vietnam, Afghanistan, Irak, dan kini Iran.

Setiap babak memperlihatkan pola yang sama -keyakinan akan superioritas teknologi, diikuti oleh resistensi lokal yang tak pernah bisa dipadamkan.

Paul Kennedy, 17 Juni 1945 di Wallsend, dalam Rise and Fall of Great Powers (1987) sudah menandai bahwa imperium runtuh bukan karena kekurangan senjata, melainkan karena beban ekonomi dan keletihan moral.

Dikutip ia memgulas, “Catatan sejarah menunjukkan bahwa dalam jangka panjang terdapat hubungan yang sangat jelas antara kebangkitan dan kejatuhan ekonomi suatu Kekuatan Besar dan pertumbuhan serta kemundurannya sebagai kekuatan militer penting (atau kekaisaran dunia).

Hal ini tidaklah mengejutkan karena berasal dari dua fakta yang saling terkait.

Pertama, sumber daya ekonomi diperlukan untuk mendukung lembaga militer berskala besar.

Kedua, sejauh menyangkut sistem internasional, kekayaan dan kekuasaan selalu bersifat relatif.”

Jared Diamond (88) menambahkan bahwa keruntuhan peradaban sering kali ditentukan oleh ecocide dan genocide, dua wajah kehancuran yang kini tampak dalam perang dan blokade.

Amerika dan sekutunya, dengan segala retorika demokrasi, justru memperlihatkan paradoks dimana mereka gagal mengatasi Iran, bukan karena Iran lebih kuat, tetapi karena mereka sendiri kehilangan legitimasi.

Disrupsi perang ini, sebagaimana wabah, juga terkait menguji kewarasan hubungan antara ilmu (sains) dan spiritualitas.

Dalam salah satu bukunya Braden menyebut betapapun besar eskalasi dan potensi perang, hal itu langsung ataupun tidak, ada hukum alam, DM (Matrix Devine) sebagai medan ilahi yang menghubungkan manusia dengan kekuatan lebih besar.

Simpel dan mungkin di luar akal sehat, ketika doa dan solidaritas menjadi senjata, rudal dan drone kehilangan makna.

Iran memanfaatkan keyakinan kolektif itu, sementara Amerika terjebak dalam kalkulasi dingin yang semakin kehilangan daya pikat.

Maka, perang hari ini bukan sekadar benturan senjata, melainkan benturan memori dan keyakinan.

Ia merefresh masa lalu, mengulang pola kejatuhan imperium, dan menegaskan bahwa superpower pun bisa gagal menghadapi negara yang dianggap kecil.

Sejarah, seperti wabah, selalu berulang -dan kali ini, disrupsi perang menjadi cermin bahwa kekuasaan tanpa legitimasi hanyalah ilusi yang cepat runtuh.

Apakah kita sedang menyaksikan akhir dari dominasi superpower?

Atau sekadar babak baru dari repetisi sejarah yang tak pernah selesai?

Yang jelas, irama masa lampau terus bergema, it rhymes the past, yang mengingatkan bahwa setiap imperium, betapapun besar, akan diuji oleh kekuatan yang tak selalu terlihat yaitu keyakinan, memori, kesadaran kolektif dan resistensi.

#coversong: “Nuclear siren” atau peringatan serangan udara selalu menjadi simbol paling dramatis dari keadaan darurat perang. Bunyi sirene itu bukan sekadar tanda teknis, melainkan dentuman psikologis yang menandai bahwa kehidupan normal telah runtuh digantikan oleh ritme ancaman.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

AI Diet Total

Kurang Bebas-Aktif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular