
“Yang akan bertahan bukanlah kelompok yang paling besar, melainkan nilai yang paling mampu memanusiakan manusia.”
Kalimat itu mungkin tidak pernah secara harfiah diucapkan oleh KH. Said Aqil Siradj, tetapi seluruh perjalanan hidup dan pengabdiannya seolah menjadi penjelasan atas makna tersebut. Di tengah dunia yang semakin sibuk mempertahankan identitas, beliau justru mengajarkan pentingnya menjaga nilai. Di tengah manusia yang mudah membangun tembok perbedaan, beliau memilih membangun jembatan persaudaraan.
Hari ini, 3 Juli 2026, usia beliau genap 73 tahun. Yang kita rayakan bukan sekadar bertambahnya umur, tetapi jejak panjang seorang ulama yang mengabdikan hidupnya untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat, memperkuat persaudaraan kebangsaan, dan menjaga kemanusiaan sebagai fondasi peradaban.
Selama berkhidmah melalui Nahdlatul Ulama maupun di ruang-ruang kebangsaan, KH. Said Aqil Siradj menunjukkan bahwa tugas seorang ulama tidak berhenti pada menjaga teks-teks agama. Ulama juga memikul tanggung jawab menjaga hati manusia, merawat persatuan bangsa, dan memastikan bahwa agama selalu menjadi sumber harapan, bukan sumber pertengkaran.
Karena itu, beliau tidak pernah terjebak pada cara berpikir yang sempit. Bagi beliau, kelompok hanyalah wadah, sedangkan nilai adalah tujuan. Organisasi adalah instrumen, sedangkan akhlak adalah fondasi. Jabatan adalah amanah yang sementara, sedangkan kemanfaatan bagi sesama adalah warisan yang abadi.
Inilah pelajaran besar yang semakin relevan bagi Indonesia hari ini. Kita hidup pada zaman ketika orang lebih mudah mempertanyakan asal kelompok daripada kejujuran, lebih mudah menilai identitas daripada integritas, dan lebih sibuk membela kepentingan daripada membela nilai. Akibatnya, ruang publik dipenuhi kecurigaan, media sosial menjadi arena pertengkaran, dan perbedaan sering kali berubah menjadi permusuhan.
KH. Said Aqil Siradj menawarkan jalan yang berbeda. Beliau mengajak kita kembali kepada moralitas. Bahwa yang seharusnya diperjuangkan bukan kemenangan kelompok, melainkan kemenangan keadilan; bukan dominasi golongan, melainkan penghormatan terhadap martabat manusia. Sebab, ketika nilai dikalahkan oleh fanatisme, yang kalah sesungguhnya adalah kemanusiaan itu sendiri.
Pandangan itu lahir dari pemahaman beliau tentang Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Islam, menurut beliau, tidak hadir untuk mempersempit ruang hidup manusia, melainkan memperluas kasih sayang Allah di muka bumi. Islam tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci, tetapi harus menjadi inspirasi untuk saling menghormati. Perbedaan agama, budaya, suku, dan pilihan politik bukan ancaman, melainkan kenyataan yang harus dikelola dengan hikmah, dialog, dan keadilan.
Di sinilah kebesaran beliau sebagai seorang ulama. Beliau tidak melihat kebangsaan sebagai lawan dari agama, tetapi sebagai medan pengabdian untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang universal. Mencintai Indonesia bukanlah mengurangi keimanan, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga amanah Allah agar manusia dapat hidup damai dalam keberagaman.
Pemikiran itu selalu berpijak pada keteladanan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Ukuran kemuliaan bukanlah seberapa banyak pengikut yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan. Dari sinilah KH. Said Aqil Siradj membangun seluruh orientasi pengabdiannya.
Beliau juga mengingatkan bahwa ilmu dan akhlak tidak boleh dipisahkan. Ilmu melahirkan kecerdasan, tetapi akhlak menentukan arah penggunaan kecerdasan itu. Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan. Akhlak tanpa ilmu dapat kehilangan kebijaksanaan. Karena itu, ilmu dan akhlak harus menjadi dua cahaya yang menerangi perjalanan bangsa.
Bagi beliau, peradaban tidak dibangun hanya oleh kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi. Peradaban tumbuh ketika manusia saling menghormati, ketika pemimpin berlaku adil, ketika agama menjadi sumber kasih sayang, dan ketika ilmu digunakan untuk membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, serta kebencian.
Tidak berlebihan jika KH. Said Aqil Siradj layak disebut sebagai penjaga jembatan persaudaraan. Beliau mempertemukan ulama dengan intelektual, pesantren dengan kampus, tradisi dengan modernitas, agama dengan kebudayaan, bahkan Indonesia dengan masyarakat dunia. Ketika banyak orang sibuk memperlebar jurang perbedaan, beliau justru merawat jembatan yang menghubungkan hati manusia.
Warisan terbesar beliau bukanlah jabatan yang pernah diemban, melainkan nilai-nilai yang terus hidup: keberanian menempatkan kemanusiaan di atas kebencian, akhlak di atas ambisi, persaudaraan di atas permusuhan, dan keadilan di atas kepentingan.
Di usia ke-73 tahun ini, bangsa Indonesia sesungguhnya tidak hanya sedang merayakan perjalanan seorang tokoh. Kita sedang diingatkan bahwa masa depan bangsa tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling keras meneriakkan identitasnya, tetapi oleh siapa yang paling setia merawat persaudaraan. Tidak ditentukan oleh siapa yang paling sering berbicara tentang agama, tetapi oleh siapa yang paling mampu menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan bersama.
Selamat ulang tahun ke-73, KH. Said Aqil Siradj. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, serta kekuatan untuk terus menebarkan ilmu, akhlak, dan kasih sayang.
Sebab, seorang ulama tidak dikenang karena panjangnya masa jabatan, tetapi karena panjangnya cahaya yang ditinggalkan. Dan cahaya itu akan terus menerangi Indonesia selama masih ada orang-orang yang percaya bahwa merawat kemanusiaan adalah jalan menyalakan peradaban, dan menjaga persaudaraan adalah cara terbaik merawat masa depan bangsa.
Surabaya, 3 Juli 2026
SUDARSONO RAHMAN
Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur dan Ketua PW IPNU Jawa Timur (1988-1992) serta Pencetus Maklumat Cheng Hoo 2026 bersama Forum Aktivis NU Jawa Timur








