
TANGERANG SELATAN, CAKRAWARTA.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode pasca Muktamar agar menyusun komposisi kepengurusan dengan mempertimbangkan kapasitas dan kompetensi setiap kader.
Memasuki abad kedua, NU dinilai membutuhkan perpaduan antara kekuatan keulamaan dan kemampuan profesional dalam mengelola organisasi. Karena itu, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah perlu ditempatkan sesuai fungsi dan karakter masing-masing.
Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan H Abdullah Mas’ud mengatakan, Muktamar telah selesai dan kini Rais Aam serta Ketua Umum PBNU terpilih bersama tim formatur memiliki tugas penting menyusun kepengurusan baru.
“Muktamar telah selesai. PCNU Tangsel mendoakan semoga terbentuk kepengurusan PBNU yang handal, solid, dan mampu menempatkan figur sesuai kapasitas serta kompetensinya masing-masing,” kata Abdullah dalam forum Ngopi Senja—Ngobrol Pintar, Solutif, Inspiratif untuk Jam’iyah dan Jamaah, Sabtu (5/9/2026) sore, di Graha Aswaja PCNU Tangsel.
Forum tersebut mengangkat tema “Rekonstruksi Gerakan Khidmah PCNU Tangsel Pasca Muktamar Pertama di Abad Kedua”.
Menurut Abdullah, tantangan NU pada abad kedua semakin kompleks sehingga tata kelola organisasi perlu diperkuat. Jajaran Tanfidziyah, kata dia, idealnya diisi lebih banyak kader yang memiliki kemampuan teknokratis, manajerial, dan pengalaman profesional.
“Tanfidziyah adalah pelaksana kebijakan organisasi. Karena itu, harus banyak diisi orang-orang yang mempunyai kemampuan teknokratis agar keputusan dan program strategis hasil Muktamar benar-benar bisa diimplementasikan,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan profesional dibutuhkan agar berbagai keputusan organisasi tidak berhenti sebagai rumusan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program yang terukur dan memberikan manfaat bagi warga NU.
Abdullah mencontohkan Prof. Mohammad Nuh sebagai salah satu figur yang menurut dia memiliki pengalaman dan kapasitas untuk berkontribusi dalam penguatan sektor pendidikan dan kesehatan NU.
“Prof. Nuh, misalnya, saya kira sangat cocok mendampingi Ketua Umum sebagai Wakil Ketua Umum yang membidangi pendidikan dan kesehatan. Pengalaman beliau di pemerintahan, pendidikan, dan pengelolaan kelembagaan sangat relevan dengan kebutuhan NU ke depan,” katanya.
Namun, Abdullah menegaskan penyebutan nama tersebut bukan dimaksudkan sebagai usulan personal, melainkan untuk menggambarkan pentingnya penempatan kader berdasarkan kompetensi.
“Prinsipnya adalah the right man on the right place. Organisasi sebesar NU membutuhkan orang yang tepat pada bidang yang tepat,” katanya.
Berbeda dengan Tanfidziyah, Abdullah berharap jajaran Syuriyah tetap kuat dengan karakter keulamaan. Ia mendorong agar Syuriyah diisi kiai yang memiliki kapasitas keagamaan mendalam sekaligus mampu membaca kebutuhan jamaah dan menggerakkan organisasi.
“Syuriyah adalah pemegang otoritas keagamaan dan penjaga nilai serta Khittah Nahdlatul Ulama. Karena itu, yang duduk di Syuriyah harus benar-benar memiliki kapasitas keulamaan,” ujarnya.
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga karakter yang penting dimiliki figur Syuriyah, yakni faqih, munadhim, dan muharrik.
Faqih berarti memiliki kedalaman pemahaman keagamaan. Munadhim memiliki kemampuan menata dan mengelola organisasi, sedangkan muharrik berarti mampu menggerakkan jamaah.
“Idealnya mereka pengasuh pesantren, kiai yang memiliki basis jamaah, atau setidaknya guru ngaji yang kesehariannya bergelut dengan kitab-kitab turats. Jangan sampai Syuriyah kehilangan karakter keulamaannya,” kata Abdullah.
Menurut dia, pembagian peran antara Syuriyah dan Tanfidziyah perlu semakin jelas dalam menghadapi tantangan NU pada abad kedua.
Syuriyah, kata Abdullah, harus menjadi kekuatan utama dalam keilmuan, nilai, dan arah keagamaan. Sementara Tanfidziyah diperkuat dari sisi manajemen, eksekusi program, kolaborasi, dan pelayanan.
“Syuriyah kuat dalam keilmuan, nilai, dan arah keagamaan. Tanfidziyah kuat dalam manajemen, eksekusi program, kolaborasi, dan pelayanan. Kalau dua kekuatan ini bertemu, NU akan semakin kokoh,” ujarnya.
Kembali ke Khidmah
Abdullah juga mengingatkan seluruh elemen NU agar menjadikan berakhirnya Muktamar sebagai momentum mengakhiri perbedaan pilihan dan dinamika kontestasi.
“Muktamar sudah selesai. Tidak perlu lagi memperpanjang siapa kelompok ini dan siapa kelompok itu. Sekarang waktunya kembali ke khidmah. Yang ada hanya satu Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Menurut dia, pekerjaan penting setelah Muktamar bukan lagi memperdebatkan dinamika yang telah berlalu, melainkan memastikan keputusan Muktamar diterjemahkan menjadi gerakan yang nyata.
Hasil Muktamar, kata Abdullah, tidak boleh berhenti sebagai dokumen organisasi. Keputusan tersebut harus menjadi pijakan bagi program yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh jamaah.
Atas dasar itu, PCNU Tangsel mulai merekonstruksi gerakan khidmah dengan memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi jamaah, transformasi digital, serta pelayanan sosial.
“Abad kedua NU harus ditandai dengan khidmah yang lebih profesional, terukur, dan berdampak. Tradisi tetap menjadi fondasi, tetapi organisasi harus semakin modern, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan umat,” katanya.
Forum Ngopi Senja PCNU Tangsel yang digelar setiap Sabtu sore menjadi salah satu ruang diskusi rutin untuk membahas isu strategis jam’iyah dan jamaah. Forum tersebut diarahkan menjadi ruang bertukar gagasan secara terbuka dan solutif sekaligus memperkuat gerakan khidmah Nahdlatul Ulama.(*)
Editor: Abdel Rafi








