Wednesday, June 19, 2024
spot_img
HomeEkonomikaMomen Ramadhan, Pakar: Jangan Salah Dalam Lakukan Family Financial Planning!

Momen Ramadhan, Pakar: Jangan Salah Dalam Lakukan Family Financial Planning!

Salah satu aktifitas tambahan dalam pengeluaran keuangan masyarakat Indonesia di bulan Ramadhan adalah bukber di lokasi-lokasi kuliner seperti yang dilakukan oleh keluarga Bustanul Arifin di sebuah restoran pinggir pantai Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, Minggu (26/3/2023). (foto: abdul hakim)

SURABAYA – Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Ramadan menjadi salah satu momen yang dinantikan oleh masyarakat. Selain tempat ibadah, pasar menjadi salah satu tempat yang ramai ketika Ramadan tiba. Banyak masyarakat berbondong-bondong berbelanja untuk ibadah hingga puncaknya di hari raya nanti.

Karena itu, masyarakat diminta agar mampu mengatur keuangannya terutama di momen Ramadhan seperti saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh pakar ekonomi Shochrul Rohmatul Ajija. Menurutnya, selain dorongan untuk bersedekah, keinginan membeli sesuatu yang didasarkan sifat konsumtif pun menjadi tinggi.

“Selama masih dalam proporsi yang baik dan on-budget sebenarnya tidak apa-apa. Mungkin selama satu tahun kebelakang kita mencoba banyak saving dan meredam konsumsi, selama Ramadan tidak apa-apa dikeluarin,” ujarnya pada media ini, Senin (27/3/2023).

Ia menuturkan, masyarakat harus mampu mengatur keuangan rumah tangga, setidaknya dalam empat bagian. Diantaranya, sepuluh persen untuk sedekah, tiga puluh persen untuk konsumsi, tiga puluh persen untuk kewajiban seperti ansuran yang wajib dibayar, dan tiga puluh persen sisanya untuk dana jaga-jaga, tabungan, dan investasi

“Yang Bahaya adalah orang yang family financial planning-nya udah salah. Konsumsinya sudah lebih dan tidak punya saving bahkan minus, kemudian di Ramadan berseliweran di media sosial, promosi. Akhirnya spending lebih banyak lagi,” imbuhnya.

Menurutnya, dalam beberapa hal, sedekah pun harus dalam perhitungan. Jangan sampai akhirnya mengorbankan pengeluaran yang primer, karena sedekah paling utama ialah kepada keluarga. Artinya, dalam sektor terkecil seperti keluarga, pengaturan atas keuangan harus tetap dilakukan.

Kebiasaan berbelanja kaum muslimin di Bulan puasa meningkat.
Kebiasaan berbelanja kaum muslimin di Bulan puasa meningkat. Diharapkan mereka mampu melakukan manajemen finansial keluarga yang tepat. (foto: mohammad mahjoub/AFP)

“Ibadah itu direncanakan, ibadah harus masuk dalam rencana pembagian income kita, ya. Biar kita ada persiapan. mau Ramadan, niatnya apa, oh saya mau sedekah sekian sehingga kita sudah persiapannya sebelas bulan kemarin,” ucapnya.

Karenanya, ia berpesan untuk meniatkan setiap pengeluaran untuk sedekah. Karena, hal tersebut juga akan berkontribusi dalam peningkatan ekonomi, terutama ketika kita membeli kepada pedagang ultra mikro.

“Untuk kita yang masih minus, hati-hati. Sedekah tidak harus dengan harta. Sedekah itu banyak caranya, dengan kita berbuat baik, berbisnis yang jujur, itu bagian dari sedekah,” pungkas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tersebut.

(mar/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular