Membaca Berhadiah Koin

Singapura rupanya sedang mengajari warganya membaca dengan cara yang agak ganjil yaitu dengan dibayar. Bukan dibayar besar, tentu saja. Untuk membaca sedikitnya 15 menit sehari, warga yang mengikuti ReadSG mendapat 20 koin virtual.

Seribu koin bernilai S$1. Jadi, untuk memperoleh satu dolar Singapura, seseorang harus membaca 15 menit selama 50 hari. Hadiahnya kecil, memang. Tapi pesannya besar bahwa membaca sedang diperlakukan seperti olahraga yang perlu dilatih kembali.

Program lima tahun yang diluncurkan National Library Board (NLB) awal September 2026 itu muncul justru di negeri yang terkenal memiliki tradisi literasi kuat. Presiden Tharman Shanmugaratnam menetapkan September sebagai National Reading Month.

Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa orang Singapura sudah meninggalkan buku. Data NLB lebih menarik dari kesimpulan itu. Dalam National Reading Habits Study tahun 2024, 89% orang dewasa Singapura membaca sesuatu lebih dari sekali seminggu.

Tetapi yang membaca buku hanya 28%nya. Yang lebih populer justru berita, pembacanya 76%, dan artikel daring dengan jumlah pembaca 65%.

Jadi, masalahnya bukan semata-mata orang tak membaca. Masalahnya, apa yang dibaca, berapa lama dibaca, dan seberapa dalam perhatian diberikan kepada bacaan itu. Orang bisa membaca sepanjang hari tapi tetap kekurangan waktu membaca sebuah buku.

Di situlah ReadSG menjadi menarik. Singapura tidak sedang menjual buku dengan diskon. Mereka sedang mencoba menjual kembali sebuah kebiasaan duduk, diam, berkonsentrasi, dan membiarkan pikiran mengikuti gagasan yang tak selesai dicerna.

Hadiah 20 koin itu sebenarnya bukan upah. Ia lebih mirip uang receh yang dilempar ke mesin kebiasaan. Pemerintah tahu, kalau mau mengalahkan ponsel, buku tidak cukup hanya mengatakan, “Saya lebih bermutu.”

Ponsel punya notifikasi, video pendek, musik, komentar, algoritma, dan tombol yang selalu siap disentuh. Sementara buku hanya punya halaman. Pertarungannya memang tidak seimbang.

Buku seperti sumur. Kita harus menimba untuk mendapatkan air. Video pendek seperti keran otomatis. Tekan sedikit, air langsung mengalir. Masalahnya, kalau setiap haus kita hanya memilih keran, otot menimba lama-lama ikut pensiun.

NLB sendiri menyebut alasan yang lebih serius. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, membaca teks panjang dianggap penting untuk melatih perhatian, pemikiran kritis, imajinasi, dan kemampuan memahami perspektif.

Dengan kata lain, persoalannya bukan nostalgia terhadap buku. Persoalannya adalah kemampuan berpikir panjang di zaman yang memuja perhatian pendek.

Pertanyaan yang lebih menarik kemudian muncul, kalau Singapura saja merasa perlu menghidupkan kembali kebiasaan membaca, bagaimana dengan Indonesia?

Kita sebaiknya tidak menjawabnya dengan stereotip bahwa “orang Indonesia malas membaca”. Data tidak sesederhana itu. BPS mencatat, pada 2024, sebanyak 53,09% penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas membaca dalam seminggu terakhir.

Angka ini juga sangat bervariasi antar provinsi. Data Bali 69,52%, DKI Jakarta 65,20%, sementara Jawa Barat 51,12% dan Jawa Timur 48,74%. Papua Pegunungan bahkan tercatat 18,36%.

Angka 53,09% itu pun harus kita baca hati-hati. Ia tidak berarti hanya 53% orang Indonesia pernah membuka buku. Indikator BPS tersebut mengukur aktivitas membaca secara umum, bukan khusus membaca buku, apalagi membaca buku sampai tamat.

Karena itu, kita tidak boleh membandingkannya mentah-mentah dengan angka 28% pembaca buku di Singapura. Sebab, ada angka lain yang jauh lebih menggelisahkan. Dalam literasi membaca, level kita sangat rendah.

Menurut PISA 2022, hanya sekitar 25% siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2. Rata-rata OECD mencapai 74%. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, sementara rata-rata OECD mencapai 7%.

Pada Level 2 tingkat itu, siswa baru dituntut mampu menemukan gagasan utama teks dengan panjang sedang, mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta melakukan refleksi sederhana terhadap tujuan dan bentuk teks.

Persoalannya adalah kemampuan memahami dunia melalui teks. Dan dunia kita sekarang justru semakin penuh teks, meskipun teks itu sering menyamar sebagai video.

Indonesia sudah memasuki masyarakat digital dalam skala raksasa. Data Digital 2025 dari DataReportal memperkirakan 212 juta pengguna internet di Indonesia pada awal 2025, dengan 143 juta identitas pengguna media sosial.

Angka itu memberi kita gambaran tentang perubahan medan pertempuran. Anak Indonesia tidak hidup di padang pasir informasi. Mereka justru berenang di dalamnya.

Setiap hari mereka menerima berita, ceramah, tutorial, podcast, debat, dakwah, gosip, ulasan produk, video pendidikan, potongan film, dan entah berapa ribu potongan kehidupan orang lain.

Informasi tidak lagi perlu dicari. Informasi datang mengetuk pintu, lalu kadang-kadang mendobrak masuk. Pertanyaan yang kini lebih relevan, apakah orang Indonesia masih sanggup memberi perhatian cukup lama untuk memahami sesuatu?

Orang bisa menonton ceramah satu jam, tapi belum tentu mampu menjelaskan kembali argumennya. Orang bisa mendengar podcast dua jam, tetapi belum tentu mampu membedakan fakta, opini, asumsi, dan kesimpulan.

Itulah tantangan literasi baru. Maka mungkin Indonesia perlu belajar dari keberanian Singapura, tanpa harus meniru bentuk hadiahnya. Kita bisa membangun sistem yang membuat membaca menjadi bagian alami dari kehidupan. Misalnya, 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai.

Atau, wajib baca satu buku per bulan di pesantren, jurnal ringkas setelah membaca, klub diskusi berbasis buku. Format perpustakaan benar-benar menjadi ruang hidup, bukan gudang buku yang pintunya hanya dibuka ketika ada akreditasi.

Lebih penting lagi, kita perlu menghubungkan video dengan buku. Setelah siswa menonton video sejarah, misalnya, mereka diminta membaca dua halaman sumber sejarah dan menemukan bagian yang berbeda. Dengan cara itu, layar tidak menjadi musuh buku.

Kita bahkan bisa membuat “15 menit membaca” sebagai kebiasaan nasional. Bukan karena membaca harus dipaksa, melainkan karena kebiasaan baik jarang lahir dari pidato tentang pentingnya kebiasaan baik.

Singapura tampaknya memahami satu hal sederhana bahwa kebiasaan membutuhkan desain. Indonesia memiliki masalah yang sedikit berbeda. Kita bukan kekurangan cerita. Kita bahkan kebanjiran cerita sejak di tempat tidur hingga warung kopi.

Dan di negeri yang penduduknya gemar mendengar cerita demikian, pekerjaan kita bukan mematikan pengeras suara. Kita perlu mengajari telinga untuk menyimak, mata untuk membaca, dan otak untuk memeriksa.

Sebab bangsa yang hanya pandai mengonsumsi cerita akan mudah menjadi penonton. Bangsa yang mampu membaca, membandingkan, memeriksa, lalu berpikir sendiri akan menjadi penulis ceritanya. Dan mungkin itulah nilai sebenarnya dari 15 menit membaca.(*)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 20 September 2026

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior