Masyarakat Desa Minim Pengetahuan Covid-19, PMK Lakukan Sosialisasi dan Bagikan Masker Plus Vitamin

0
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Kokop (PMK) melakukan sosialisasi pentingnya protokol kesehatan dan urgensi vaksinasi di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Kokop Kabupaten Bangkalan, Madura., Selasa (29/6/2021). Menurut Mohammad Arifin, Ketua Umum PMK, sasaran programnya adalah masyarakat perdesaan yang minim informasi terkait pentingnya prokes dan vaksinasi dalam upaya melawan pandemi Covid-19.  (foto: pmk/cakrawarta)

 

BANGKALAN – Seiring masih bertambahnya kasus positif di Bangkalan dalam sepekan terakhir, muncul kepedulian dari sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Kokop (PMK) untuk membantu pemerintah daerah dalam mensosialisasikan penting protokol kesehatan (prokes)dan urgensi vaksinasi di level masyarakat perdesaan.

Menurut Ketua PMK, Mohammad Arifin, ia dan teman-temannya menilai masyarakat perdesaan khususnya di wilayah Kecamatan Kokop masih minim informasi terkait Covid-19 dan penting prokes karenanya kegiatan hari ini dilakukan dan sekaligus bentuk dukungan terhadap program vaksinasi yang dicanangkan pemerintah.

“Kegiatan PMK kali ini berupa sosialisasi pentingnya prokes ketat dan urgensi vaksinasi dalam upaya mendukung program pemerintah melawan pandemi Covid-19. Apalagi Kokop masih termasuk zona kuning jadi jangan sampai jadi zona merah,” ujar Mohammad Arifin kepada cakrawarta.com, Selasa (29/6/2021).

Dalam kegiatan ini, Arifin menjelaskan bahwa kegiatan PMK dimulai melalui langkah kordinasi dengan pihak Muspika Kecamatan Kokop lalu membagi tim ke sejumlah desa.

“Kami membagikan masker di pasar tradisional seperti di Dupok, lalu sosialisasi dan memberikan vitamin kepada masyarakat yang menderita sakit,” papar mahasiswa yang biasa dipanggil Iping tersebut.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, dari 13 desa di lingkungan Kecamatan Kokop ditemukan sejumlah masyarakat yang menderita sakit tetapi enggan pergi ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit karena perasaan takut.

“Temuan kami justru menarik karena ternyata masyarakat di perdesaan yang mengalami sakit justru takut untuk periksa ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit dan justru memilih pengobatan tradisional,” tandas Iping.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.