Tuesday, July 23, 2024
spot_img
HomeEkonomikaKisah Pedih Bimo, PKL Jahe Susu Depan RS Ternama di Jakarta

Kisah Pedih Bimo, PKL Jahe Susu Depan RS Ternama di Jakarta

Gerobak Susu Jahe PKL Bimo menjadi saksi bisu perjuangan pria asal Kebumen ini dalam mengadu nasib di ibukota Jakarta.
Gerobak Jahe Susu “ASSOY” milik PKL Bimo menjadi saksi bisu perjuangan pria asal Kebumen ini dalam mengadu nasib di ibukota Jakarta.

JAKARTA – Bimo (nama samaran), pemuda 25 tahun asal Kebumen (Jawa Tengah) ini memilih mengadukan nasib hidupnya sebagai PKL Jahe Susu didepan Rumah Sakit ternama di Jakarta Timur. Selama satu tahun mengadu nasib, bukan angan-angan dan harapan yang digapai melainkan kisah pedih.

Penghasilan Bimo pas-pasan hanya cukup buat makan dan sewa kontrakan Rp 500 ribu per bulan. Namun, tak jarang ditengah malam tiba-tiba dikejar-kejar, diusir semena-mena oleh Satpol PP bersama 20 PKL lainnya.

“Tak jarang kami dikejar-kejar dan diusir dengan perlakuan semena-mena oleh petugas dan bahkan harus urunan keluarkan kocek demi “pengamanan” agar tetap bisa berjualan,” ungkap Bimo seperti dituturkan kembali oleh Ketua Umum DPP APKLI (Asosiasi PKL Indonesia), dr. Ali Mahsun,M.Biomed kepada redaksi cakrawarta.com, Kamis (28/1/2016)

Menurut Ali Mahsun yang sering nongkrong di lapak PKL ini, nasib tragis yang dialami Bimo juga dialami jutaan PKL lainnya di seluruh Indonesia. Menurut pria berkumis itu merupakan sebuah paradoks dimana Indonesia sebagai negara besar, kaya raya, dan strategis di dunia tapi tak mampu menyejahterakan rakyatnya, dan tak ada keadilan.

“Sangat ironis memang terjadi di negeri berdasarkan Pancasila, Indonesia. PKL tertindas, terjajah di negerinya sendiri. Lantas kemanakah kekayaan Indonesia yang melimpah berlabuh selama ini? Untuk siapakah para elit negeri ini mengelola Indonesia? Kenapa rakyat dalam hal ini PKL selalu jadi korban kejamnya para penguasa?” papar Ali dengan nada geram.

Dikisahkan Ali bahwa Bimo mulai jualan Jahe Susu yang diberi nama “ASSOY” itu sejak pukul lima sore (17.00 WIB) hingga dini hari (03.00 WIB) keesokan harinya. Jika jualannya habis terjual dirinya mendapat untung Rp 200 ribu. Seringkali penghasilan hanya pas untuk makan dan sewa kontrakan di belakang Terminal Busyway apalagi jika dagangannya tidak laku terjual.

Bimo baru bisa berkirim uang ke orang tuanya di Kebumen sebesar Rp 600 ribu setelah berjualan dua bulan.

“Indonesia sudah tidak berdaulat dan tak memiliki apa-apa lagi, sudah terjajah bangsa asing kembali. Harapan tersisa satu-satunya di negeri penggalan surga ini ada di pundak 54,9 juta UMKM dan 25 juta PKL yang tak kenal lelah dan letih, tak peduli terik matahari dan dinginnya malam dan hujan. Mereka tetap berjualan untuk nenafkahi keluarga dan membiayai sekolah anak mereka. Namun tragis memang nasib PKL, tak pernah nggarong uang negara, tak pernah korupsi dan embat BLBI dan Century, terus menerus digusur semena-mena sejak Indonesia merdeka. Lantas untuk apa ada negara?” geram Ali yang pernah menjdi Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI periode 1995 – 1998 menutup keterangannya.

(bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular