Thursday, January 29, 2026
spot_img
HomePendidikanKajian Senja Al-Yasmin, Imam Masjid Al-Akbar: Umur Panjang Tak Jamin Hidup Bermakna

Kajian Senja Al-Yasmin, Imam Masjid Al-Akbar: Umur Panjang Tak Jamin Hidup Bermakna

Imam Masjid Al-Akbar Surabaya, KHA Muzakky Al-Hafidz (tengah) didampingi Pengasuh Al-Yasmin H. Helmy M Noor saat menyampaikan materi dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Rabu (29/1/2026). (foto: Al-Yasmin untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakky Al-Hafidz menegaskan bahwa panjang usia tidak otomatis menjamin hidup seseorang menjadi bermakna. Menurut dia, ukuran utama kehidupan bukanlah lamanya umur, melainkan keberkahan dan kemanfaatan yang ditinggalkan bagi sesama.

“Banyak orang diberi umur panjang, tetapi hidupnya kosong dari kebaikan. Sebaliknya, ada yang usianya singkat, tetapi manfaatnya terus hidup,” ujar KHA Muzakky dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Surabaya, Rabu (28/1/2026) sore.

Kajian yang dipandu Pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, H Helmy M Noor, itu diikuti puluhan peserta dari berbagai latar belakang. Dalam pemaparannya, KHA Muzakky menjelaskan bahwa sejak usia empat bulan dalam kandungan, Allah telah menetapkan tiga perkara pokok manusia, yakni umur, jodoh, dan rezeki.

“Karena itu, rahasia umur sepenuhnya ada pada Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar menjaga kesehatan, mengatur pola makan, istirahat, dan cara berpikir,” katanya.

Ia menambahkan, satu-satunya alasan yang dibenarkan untuk memohon umur panjang adalah agar diberi kesempatan memperbanyak amal dan berjumpa dengan Ramadhan. Selain itu, menurut dia, permohonan umur panjang kerap berkelindan dengan kecintaan berlebihan pada dunia.

KHA Muzakky juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an menegaskan umur manusia tidak dapat dimajukan atau diundur walau sesaat. Oleh karena itu, pemahaman tentang “panjang umur” melalui silaturahmi atau sedekah tidak semata dimaknai sebagai bertambahnya hitungan tahun.

“Panjang yang dimaksud adalah panjang keberkahannya. Umur menjadi bermakna ketika diisi kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Artinya, ukuran kebaikan bukan terletak pada usia, melainkan pada kualitas perbuatan.

Dalam kajian tersebut, KHA Muzakky membagi fase usia manusia ke dalam tiga tahap. Usia 20-40 tahun disebutnya sebagai fase dunia, masa membangun kehidupan dan bekerja. Usia 40-60 tahun adalah fase peralihan antara dunia dan akhirat. Sementara usia di atas 60 tahun merupakan fase akhirat.

“Usia umat Nabi Muhammad rata-rata 60 hingga 70 tahun. Nabi sendiri wafat pada usia 63 tahun, usia yang masih sangat produktif. Karena itu, jangan berambisi umur panjang, tetapi berambisilah pada hidup yang berkah,” katanya.

Ia mencontohkan para ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, dan Imam Nawawi yang wafat di usia relatif muda, tetapi meninggalkan karya monumental yang terus dipelajari hingga kini.

“Hidup mereka singkat, tetapi manfaatnya panjang. Itulah makna hidup yang bermakna,” ujarnya.

Menutup kajian, KHA Muzakky mengingatkan bahwa umur adalah nikmat berupa waktu dan kesempatan yang tidak akan terulang. Karena itu, manusia dituntut mengisinya dengan kebaikan.

“Yang penting bukan sekadar meninggalkan karya, tetapi juga memastikan tidak meninggalkan jejak keburukan. Sebab, waktu akan habis, tetapi kebaikan bisa terus hidup,” katanya.(*)

Kontributor: Yasmin

Editor: Abdel Rafi 

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular