Thursday, February 22, 2024
HomeSains TeknologiKesehatanJamu Diakui UNESCO, Pakar: Indonesia Harus Mampu Melahirkan Dokter Obat Tradisional Sendiri!

Jamu Diakui UNESCO, Pakar: Indonesia Harus Mampu Melahirkan Dokter Obat Tradisional Sendiri!

ilustrasi jamu tradisional. (foto: istimewa)

SURABAYA – Badan khusus Persatuan Bangsa-Bangsa untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya atau The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan jamu sebagai warisan budaya sehat dari Indonesia. Keputusan UNESCO tersebut artinya merupakan bentuk pengakuan terhadap budaya minum jamu yang menyehatkan bagi bangsa Indonesia.

Keputusan UNESCO tersebut mendapatkan apresiasi dari Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yaitu Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS. Pengisi tetap kolom kesehatan berbasis tanaman herbal di salah satu media besar nasional itu mengatakan bahwa saat ini masyarakat Indonesia tidak perlu ragu lagi untuk rutin minum jamu tradisional.

“Dengan beredarnya informasi yang tidak benar terkait minum jamu, mulai saat ini dengan keputusan UNESCO itu harus meyakini dan bisa memberikan penjelasan agar tidak ada penolakan untuk meminum jamu di masyarakat. Masyarakat khususnya anak muda harus ikut andil berperan melestarikan jamu sebagai budaya sehat,” ujarnya pada media ini, Selasa (2/1/2024).

Konsumsi jamu, lanjutnya, harus tetap diimbangi dengan penerapan pola hidup yang sehat. “Ramuan jamu jangan dipandang sebagai obat. Kalau kita pandang sebagai obat kita hanya minum kalau kita sakit. Itu yang agak kurang tepat menurut saya,” imbuh Mangestuti.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yaitu Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS saat ditemui di Ruang Laboratorium Kampusnya, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya beberapa waktu lalu. (foto: soelastri soekirno/kompas)

Mangestuti menegaskan bahwa generasi muda harus mau mencoba memanfaatkan bahan alam ramuan jamu dengan disertai kondisi yang menunjang kerja bahan jamu tersebut.

“Kalau tubuh kita sudah berada dalam keadaan tidak seimbang. Supaya jadi seimbang kita harus bantu, pola hidup sehat,” tegasnya.

“Pak Menteri Kesehatan bilang, jamu ada vitamin, mineral. Bukan cuma itu. Ada zat khusus ada dalam bahan alam namanya zat bioaktif. Nah contoh zat bioaktif antara lain golongan alkaloid, terpenoid, fenol. Golongan-golongan begitu yang tidak ada di obat sintesis,” tambahnya.

Melihat keadaan sekitar, Mangestuti menyadari generasi muda saat ini tidak sedikit yang mengembangkan usaha untuk membuka kios jamu. Mengomentari beberapa produk yang sering ditemukan, bahan herbal yang diracik dan dicampur susu atau soda belum dapat disebut jamu, melainkan minuman herbal yang berasal dari bahan alam.

“Misalnya minuman rosella, rosella warnanya kan merah kaya sirup gitu. Oh itu bagus banget, tapi bukan minuman jamu, itu minuman herbal. Jadi paling tidak dengan minum bahan herbal mengurangi bahan kimia yang masuk ke tubuh kita.” terangnya.

Sementara itu, terkait gerakan minum jamu yang dicanangkan Kementerian Kesehatan, menurut Mangestuti perlu dilakukan pemupukan dibantu dengan pendidikan melalui keluarga. Tidak hanya itu, melihat masa kini media massa juga berperan penting untuk menampilkan figur-figur yang rajin minum jamu.

“Kemudian peran tenaga kesehatan dalam segala sektor, tenaga kesehatan siapa saja dokter, farmasi, perawat semua itu perlu lebih paham minum jenis jamu atau ramuan dan dengan dalam menerapkan pola hidup sehat,” tukasnya.

Karena itu, Mangestuti berharap ke depannya sebagai sebuah bangsa, Indonesia di segala lapisan masyarakat dan kepemimpinan dapat mewujudkan cita-cita bangsa yang sehat jasmani dan rohani. Dimana kemudian Indonesia bisa menjadi pusat aktivitas intelektual, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dalam hal ini.

“Salah satunya program pendidikan untuk tenaga kesehatan khusus obat tradisional. Karena seperti di India, Jepang dan China itu ada sekolah khusus yang menghasilkan dokter obat tradisional negara mereka. Kita, Indonesia, tentunya juga bisa ke arah sana ke depannya,” harap Mangestuti mengakhiri keterangannya.

(pkip/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular