Thursday, February 22, 2024
HomeUncategorizedHaji: Misi Yang Gagal?

Haji: Misi Yang Gagal?

daniel mohammad rosyid cakrawarta

Pada saat suhu Madihnah di jazirah Arab di sore hari sekitar jam 16.00 mencapai 43C, badai topan Irma sedang mengancam kepulauan Karibia dengan skala 5 (membawa angin berkecepatan 290km/jam). Beberapa minggu seblumnya Topan Harvey telah meluluhlantakkan Texas bagian Selatan. Saat ini Kongres Amerika Serikat (AS) sedang membahas anggaran buatan untuk korban Harvey sebesar USD 8M (sekitar Rp. 10 triliun). Beberapa hari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah mencabut kebijakan presiden sebelumnya Barack Obama yang melegalkan anak-anak imigran gelap untuk menjadi warga negara AS. Isu imigran gelap adalah konsekuensi logis dari adanya negara-bangsa.

Sementara itu, Donald Trump tetap melanjutkan program-program yang melawan kesepakatan global untuk mengurangi resiko perubahan iklim. Perubahan iklim adalah salah satu faktor yang membuat daya rusak Harvey dan Irma makin menghancurkan.

Seperti yang dikatakan Prof. Noam Chomsky dari MIT, pada saat ekosistem bumi makin rusak, ancaman perang nuklir tiba-tiba muncul dari kawasan yang tidak diduga sebelumnya: Semenanjung Korea. Pada saat spesies manusia sedang terancam eksistensinya, peziarah ke tanah suci tidak berkurang : mencapai 3,5 juta orang dari seluruh dunia. Indonesia mengirim delegasi haji terbanyak, sekitar 250 ribu orang tahun 2017 ini.

Sementara itu, puluhan ribu manusia dari suku Rohingya yang muslim harus mengungsi karena genosida sistematik oleh militer Myanmar. Hanya Recep Tayyib Erdogan dari Turki yang menelepon Aun Ang Suu Kyi untuk turun tangan menghentikan kejahatan kemanusiaan yang telah terjadi bertahun-tahun ini.

Sangat mengherankan jika pemenang Nobel Perdamaian ini terlambat menyikapi kasus Rohingya ini karena dicurigai telah menjadi sumber gerakan radikal Islam. Kecurigaan inilah yang dijadikan alasan aksi brutal militer Myanmar ini.

Beberapa hari lalu saat musim haji tahun ini, puluhan manusia berdesakan saling-dorong mencoba masuk ke sektor Hijr Ismail di sekitar Ka’bah yang dipadati oleh ratusan ribu manusia yang sedang melaksanakan thawaf, yaitu melingkari Ka’bah sebanyak 7 kali berlawanan dengan arah jarum jam. Pada beberapa hari ini, di Masjid Nabawi di Madinah, peziarah juga bersedia berdesakan saling-dorong untuk mencapai Raudhah -sektor seluas 100 m2 di antara mimbar dan makam (dulu rumah) Muhammad Rasulullah-, lalu melewati 3 makam bersebelahan (makam Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab). Mudah untuk terjebak memuja bangunan-bangunan yang dikeramatkan banyak orang. Tapi mu’jizat yang dibawa Rasulullah adalah Al Qur’an, bukan bangunan megah.

Islam yang dipuncaki oleh Haji, dikatakan oleh Al Qur’an sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya muslim saja. Justru melalui Haji itu ajaran Islam menjadi papan lontar rahmat bagi seluruh ummat manusia, tidak peduli asal-usul, suku, dan agama mereka. Lihatlah pidato Rasulullah pada khutbah terakhirnya di Mekkah. Pidato itu memberi pesan pada para peziarah (yang diminta untuk meneruskannya pada yang tidak hadir) yaitu sebuah misi Islam sebagai rahmat bagi semua yaitu melindungi jiwa dan harta manusia, melindungi perempuan dari perzinaan dan menninggalkan riba.

Ketiga misi tersebut termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an, sebuah pedoman untuk manusia yang hidup, bukan kitab doa atau mantra yang dibacakan bagi ruh orang-orang yang sudah mati.

Saat ini, di dekade kedua milenium kedua, ketiga misi haji itu boleh dikatakan gagal dipraktekkan oleh para peziarah yang pulang dari tanah suci. Umat Islam saat ini menjadi kelompok yang paling tidak terdidik, miskin, dan terbelakang. Negara-negara Islam yang memperoleh kemerdekaan politiknya di awal abad 20, kini praktis terjajah secara ekonomi, sosial dan budaya. Penting untuk segera dicatat, bahwa keruntuhan kekhalifahan Islam di Turki di awal abad 20 itu diikuti dengan kelahiran banyak negara-bangsa. Pada saat ini konsep negara-bangsa sedang ditantang relevansinya untuk menghadapi globalisasi.

Riba adalah akar dari semua penderitaan manusia: peperangan, penjajahan antar-bangsa dan kemiskinan persisten serta kehancuran lingkungan. Yang paling menjadi korban adalah para perempuan yang hidup jauh dari kemuliaan yang diresepkan oleh Islam.

Islam bukanlah “agama” seperti Kristen dan Katholik yang sekuler. Islam adalah agama pranata kehidupan bersama dalam kemajemukan. Memuji dan merindukan Rasulullah tidak harus diwujudkan dalam rebutan memperoleh tempat di Raudhoh, atau Hijr Ismail, tapi menjalankan Islam sebagaimana dia telah praktekkan bersama para sahabat di Madinah 1400 tahun lalu yang nilainya masih sangat relevan hingga kini.

Kesempurnaan Islam itu dinyatakan dalam ayat terakhir yang diwahyukan pada Rasulullah beberapa saat sebelum kematiannya. “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu sebuah pranata kehidupan, dan Aku telah tuntaskan nikmatKu, dan karenanya Aku ridla Islam sebagai pranata kehidupanmu”.

Tidak heran jika Rasulullah mengatakan bahwa balasan bagi haji yang mabrur tiada lain adalah kehidupan bagai surga di akhirat.

Madinah, 6 September 2017

DANIEL MOHAMMAD ROSYID

Guru Besar dan Pelaku Peradaban

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular