Berita Terpercaya Tajam Terkini

Faldo, Bahlil dan Pelari Ketiga

Semalam, melintas cuitan dari akun @FaldoMaldini. Ia memberi tahu dialog dalam kanal youtube bersama @BahlilLahadalia. Penulis langsung tandai. Lalu, setelah sempat, menontonnya. Pagi ini, penulis tonton lagi. Terus terang, penulis “mewajibkan diri sendiri” untuk mengikuti “sepak terjang” Faldo. Dan, tiap kali memberikan penilaian kepada Faldo, tentu disertai dengan sikap pro dan kontra sesama pengguna media sosial. Untuk Bahlil? Penulis pernah terlibat sebagai bagian dari Tim Sukses Senior bersama Erwin Aksa, ketika Bahlil maju sebagai Calon Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tahun 2015.

Faldo memang punya kekuatan di youtube, sebagaimana generasi sezaman. Penulis sudah “mencoba” sejumlah channel youtube, namun tetap tak bisa, tak nyambung, sering gaptek. Ya, sudah. Penulis lahir sebagai generasi yang terdidik lewat tulisan, mulai dari tulisan tangan dalam catatan harian, lembaran ujian, mesin ketik, hingga mengenal komputer menjelang akhir masa studi. Jadi, beranjak ke medium yang diluar tulisan, tentu berat.

Faldo dan Bahlil tampak bergairah dan optimistis. Tak ada jarak betapa Bahlil adalah pejabat setingkat menteri, sementara Faldo hanya seorang pimpinan partai di tingkat provinsi dengan perolehan kursi tak tembus parlemen nasional. Namun, Faldo tetap Faldo, Bahlil tetap Bahlil. Berbeda dengan Bung Karno yang banyak dilihat dari jaket demi jaket yang dipakai, tergantung siapa yang memandang. Sementara Faldo dan Bahlil, tetap menjadi diri sendiri, apapun jenis baju yang dipakai. 

Sebagai disclaimer, penulis jarang menonton televisi, apalagi kanal youtube. Jadi, kalau sedikit “terkejut” dengan perbincangan dua anak muda ini, penulis akui. Keduanya lebih optimis memandang masa depan. Keduanya pun tak terseret arus perbincangan publik yang penulis ikuti sehari-hari. Mereka tak tampak mengeluh. Mereka malah bersiap untuk bekerja lebih keras, spartan dan trengginas.

Seperti pepatah Minangkabau: Jikok tahimpik nandak di ateh // Jikok takuruang nandak di lua (terhimpit hendak di atas // terkurung hendak diluar). Seperti itulah yang terjadi. Trik, cara berpikir, atau bahkan filsafat kehidupan orang-orang Minang. Dalam situasi apapun, selalu mencari jalan keluar dari masalah. Ketika berada di bawah, terhimpit, segala trik, cara berpikir, metode, bahkan pandangan transendental, di taruh di atas. Pun ketika terkurung.

Tan Malaka, Bung Hatta, Sutan Sjahrir dan lain-lain adalah contoh bagaimana kurungan berupa penjara sama sekali tak membelenggu pikiran-pikiran besar mereka.

Faldo dan Bahlil tak melihat Covid-19 sebagai batu karang yang bisa mengandaskan kapal Bumi Nusantara, apalagi torpedo yang merusak armada perang yang sedang bergerak. Covid19 bukanlah jangkar baja yang menghunjam ke dasar samudera, lalu tersangkut, sehingga mampu membuat kapal karam. Mereka melihat Covid-19 sebagai fase atau waktu yang harus dilewati, dalam hitungan bulan.

Bahlil membagi 2020 ke dalam Triwulan I, Triwulan II, Triwulan III, dan Triwulan IV. Dalam Triwulan I (Januari – Maret), masih terlihat pertumbuhan. Triwulan II yang menjadi masalah, yakni bisa berlangsung dari April – Juni. Namun, jika memang berakhir Juni, Bahlil menegaskan, kerja yang lebih keras dari semua pihak bisa dan mampu menutupi keterpurukan ekonomi yang dihadapi dalam Triwulan II. Artinya, Triwulan III dan Triwulan IV adalah tahap untuk menambal tembok kapal, bukan melobanginya, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Khidir ketika “mendidik” Nabi Musa AS.

7 Agustus 2020, Bahlil Lahadalia bakal berusia 44 tahun. Usia 40 sering dianggap sebagai usia kenabian. 44 tahun? Empat kali usia kenabian. Dalam puncak usia cemerlang itu, Bahlil menjadi bagian dari pusat kendali bidang investasi. Penulis tidak punya data pelaku-pelaku investasi Indonesia dan dunia. Namun, dari lima hingga sepuluh jari di tangan, orang-orang di usia Bahlil, bahkan lebih muda, adalah panglima-panglima tempur bidang investasi ini.

Kemajuan di bidang teknologi informasi, membuat orang-orang berusia muda ini jauh lebih cepat menjadi pemuncak-pemuncak dalam daftar Forbes, ketimbang generasi sebelum mereka yang perlu sepuluh atau duapuluh tahun lebih lama.

Faldo? 9 Juli 2020 nanti berusia 30 tahun. Usia penulis mendapatkan pekerjaan tetap, mengakhiri masa lajang, lalu berhutang ke kantor untuk mengadakan resepsi, sambil mencicil hingga setahun. Ya, bisa dikatakan di usia itulah generasi penulis sedang memulai kehidupan yang baru, baik sebagai profesional, dosen muda di kampus, staf awal perbankan, pun aparatur sipil negara. Bagi yang “berani” kuliah lagi, silahkan mengundurkan jadwal untuk bersanding di pelaminan. Sebagai generasi yang terlibat dalam proses reformasi 1998, kami justru kesulitan ketika rezim benar-benar berubah. Dan kami hanya bagian dari arus massa, bukan pribadi-pribadi yang punya keahlian khusus. 

Faldo sudah melewati itu semua. Ia pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia. Ia pun sudah menamatkan studi magister di luar negeri. Pernah, ia “twitwar” dengan penulis di Twitter, lalu senior-seniornya asal Minang “menjewer”-nya. Penulis ikut menyambut kembalinya Faldo di tanah air, hadir dalam kegiatan yang diadakan untuk balik ke kampung. Kami memang sudah merintisnya sejak dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Minang (IMAMI) UI.

Penulis masuk (kembali) ke politik pada usia 36 tahun, setelah sempat berkecimpung sebentar dalam Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (1998 hingga awal Januari 2001). Faldo sudah langsung mendapatkan posisi sebagai Wakil Sekjen DPP PAN, sebelum pindah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Penulis menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) di usia 36 tahun, Faldo sudah menjalaninya tahun lalu.

Artinya, sebagaimana halnya dengan generasi Bahlil yang sepuluh hingga duapuluh tahun lebih cepat dibandingkan dengan pengusaha generasi sebelumnya untuk masuk Forbes, generasi Faldo sebut saja lima hingga sepuluh tahun lebih cepat terjun dan berkiprah dalam politik. Turbulensi politik yang dilalui Faldo sangatlah bikin gamang. Sedikit sekali yang punya keberanian seperti itu. Karena itu pula, penulis memperhatikan Faldo dan sejumlah nama lain yang “seunik” dan sesantuyyy dirinya.

Semakin cepat Faldo melalui proses itu, semakin kuat, akurat, dan ligatlah pribadinya, pengetahuannya, juga “jumpalitan”nya dalam hutan rimba raya politik. Mau tidak mau, suka tidak suka, Faldo sudah menandai area tempatnya bermain. Ibarat harimau yang mengencingi atau mencakari wilayah perburuannya. Faldo bisa ke kanan, bisa ke kiri, ke atas, ke bawah. Itupun tanpa emblem intelektual, aktivis ideologis, atau framing lain yang melekat pada generasi 70an, 80an, dan 90an. Generasi penulis dan para senior.

Dua orang ini sudah jelas memberikan batas yang bukan hari ini, tapi nanti setelah Juni. Lebih tepatnya ketika Faldo ulang tahun ke-30, dilanjutkan Bahlil sebulan kemudian yang ulang tahun ke-44. Mereka menunggu disana. Bagai pelari estafet, mereka berdua adalah pelari ketiga. Pelari pertama masih mampu berlari, pelari kedua sedang dikerubuti oleh musuh yang tak terlihat. Merekalah, generasi berusia 30 dan 40 tahun yang menjadi pelari ketiga dan pelari keempat, guna menyelesaikan tahun 2020 ini dengan kepala lebih tegak buat seluruh bangsa.

Barangkali, di samping memang kita tundukkan kepala untuk para pejuang di garis depan, kita juga perlu melihat sebersusun apa para pelari ketiga dan pelari keempat ini. Penulis tidak yakin, hanya Faldo dan Bahlil yang ada di sana. Keduanya saja sudah menjadi pemimpin dalam generasi mereka. Sudah pasti, ada sekian banyak anak muda yang seperti mereka, walau tentu tidak di bidang yang sama: politik dan bisnis, misalnya.

Setak-berbunyi apapun lari mereka, tak tersorot media, semoga jumlah mereka bertambah banyak dari hari ke hari, dari kota hingga ke desa, dari Aceh hingga Papua, hingga tak seluruh energi tercurah kepada belitan naga-naga  yang tak tampak seperti Covid-19.  Wallahu’alam.

JAKARTA, 17 April 2020

 

Comments are closed.