Saturday, February 21, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (2): Autofagi, Sains Mutakhir Menjawab Perintah Puasa

Esai Ramadan (2): Autofagi, Sains Mutakhir Menjawab Perintah Puasa

(foto dan bahan bersumber dari kanal Youtube Autophagy Journal dan Autophagy: Exercise vs. Fasting Dr. Eric Berg DC)

“Autofagi menargetkan bagian-bagian sitoplasma, organel dan protein yang rusak untuk degradasi lisosomal dan memiliki peran penting dalam perkembangan dan penyakit.” — Christian de Duve (1917-2013), Peraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1974 bersama Albert Claude dan George Palade atas penemuan struktur dan fungsi organisasi sel

Di tengah kedigdayaan sains mutakhir yang kerap dianggap menenggang perintah-perintah agama, muncul jawaban balik yang justru dilakukan oleh para saintis sendiri.

Pertama, Maurice Bucaille (1920–1998), seorang dokter spesialis gastroenterologi asal Prancis, menjadi salah satu tokoh penting yang memediasi problematika dan relasi antara wahyu (kitab suci) dan sains mutakhir.

Selain itu, pada 1973 ia didapuk menjadi dokter keluarga Raja Faisal dari Arab Saudi dan menumbuhkan dan memperkuat minat keterlibatannya dalam studi sains Islam.

Salah satu karyanya, La Bible, le Coran et la Science (1976) yang dialihbasakan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi, Menag Pertama Kabinet Sjahrir, 1945-1946 dengan penerbit Bulan Bintang 1979, Bucaille membandingkan teks Alkitab dengan Al-Qur’an dalam cahaya dan fenomena pengetahuan ilmiah modern.

Sebagai dokter dan ahli embriologi, Ia mengatakan bahwa Al-Qur’an tak bertentangan dengan temuan sains, bahkan sering kali selaras dengan pengetahuan tentang kosmologi, embriologi, dan sejarah alam semesta.

Menurut konklusinya, Al-Qur’an tetap relevan dengan sains modern dan wahyu Ilahi ini mampu memberi jawaban atas misteri ciptaan dan sejarah alam semesta.

Kedua, Yoshinori Ohsumi, lahir 1945 di Yokohama, ahli biologi sel asal Jepang, melanjutkan temuan ini dari sisi sains murni (hard science).

Pada 2016, ia dianugerahi Nobel Prize in Physiology or Medicine atas penemuannya mengenai mekanisme autofagi.

Dalam biologi sel, mekanisme ini merupakan proses biologis di mana sel “memakan dirinya sendiri” untuk menghancurkan dan mendaur ulang komponen rusak melalui sistem lisosom.

Kata autofagi (autophagy) sendiri, secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu auto (αὐτό) berarti “diri sendiri” dan phagein (φαγεῖν) berarti “memakan.” Secara harfiah, autofagi berarti “memakan diri sendiri” atau “self-devouring.”

Awal istilah ini digunakan dalam literatur ilmiah pada abad ke‑20, dan diperkenalkan secara sistematis oleh Christian de Duve dalam Konferensi Lysosomes tahun 1963.

Menurut Duve dkk., proses ini melibatkan pembentukan vesikel ganda bernama autofagosom, yang kemudian bergabung dengan lisosom untuk menghancurkan isi di dalamnya.

Dengan demikian, makna biologis autofagi menurut sains mutakhir, antara lain:

– Menjaga homeostasis sel dengan membersihkan organel tua atau protein rusak.

– Memberi energi cadangan saat sel mengalami kelaparan atau stres metabolik.

– Berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif, infeksi, dan bahkan proses penuaan.

Dengan kata lain, autofagi adalah sistem “pembersihan internal” sel yang memungkinkan tubuh tetap sehat dan adaptif.

Bahkan autofagi terbukti penting dalam menjaga kesehatan sel, melawan infeksi, dan mencegah penyakit degeneratif.

Sementara, penemuan Ohsumi memberi legitimasi biologis pada praktik kuno seperti puasa religius, yang sejak lama dipahami sebagai sarana penyucian batin.

Dalam konteks modern, konsep puasa intermiten pun dikaitkan dengan kesehatan dan umur panjang, karena memberi kesempatan bagi tubuh untuk mengaktifkan autofagi, membersihkan sel-sel rusak, dan memperbaiki sistem metabolisme.

Sebagaimana diulas oleh Denny JA dalam artikel Tradisi dan Evolusi Puasa dalam Sejarah (2026), ada jembatan antara tradisi spiritual dan penemuan ilmiah bahwa puasa bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga memiliki dasar biologis yang mendukung kesehatan tubuh.

Dengan demikian, sains mutakhir tidak menegasikan perintah agama. Ia justru menyingkap dan menjawab hikmah yang terkandung di dalamnya.

#coversongs: Lagu “Autophagy Cells” oleh Bastardz Music Lab dirilis pada 23 April 2024 melalui BigBand Entertainment. Genre utamanya adalah jazz eksperimental, dengan komposisi oleh Midorii. Dalam konteks musik, judul lagu ini bisa dimaknai sebagai metafora sebagai musik yang “mengurai” dirinya sendiri, bereksperimen dengan bunyi, lalu membentuk komposisi baru.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular