Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomeInternasionalDiplomasi Nasi Goreng, Membangun Hubungan Antar Negara Melalui Rasa

Diplomasi Nasi Goreng, Membangun Hubungan Antar Negara Melalui Rasa

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura, Satrya Wibawa (kedua dari kanan) saat menikmati “Diplomasi Nasi Goreng” di Practice Tuckshop, Singapura, Sabtu (15/6/2024). (foto: KBRI Singapura)

Singapura, — Di Practice Tuckshop Singapura, Sabtu (15/6/2024), sekelompok orang berkumpul dan memasak di depan gedung teater di Jalan Waterloo Singapura. Kegiatan itu adalah sebuah acara seni yang unik dan bermakna berlangsung dengan tajuk “Diplomasi Nasi Goreng”. Proyek ini merupakan inisiatif dari seniman Chu Hao Pei yang mengeksplorasi diplomasi melalui medium makanan, khususnya nasi goreng.

”Saya terinspirasi dari kisah mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri, yang pernah menggunakan nasi goreng sebagai alat untuk meredakan ketegangan politik,” ujar Chu yang mengklaim dirinya adalah penggemar nasi. Dengan pendekatan yang serupa, Chu berharap dapat mempererat hubungan antar komunitas di Asia Tenggara melalui pengalaman rasa.

Acara ini bukan hanya sekedar makan bersama, tetapi juga melibatkan proses memasak bersama yang menjadi medium untuk memulai percakapan mendalam. “Diplomasi Nasi Goreng” menekankan pentingnya rasa sebagai titik awal untuk membahas isu-isu yang sulit dan meredakan ketegangan. Dalam proyek ini, nasi goreng berfungsi sebagai simbol dari upaya membangun hubungan yang lebih baik melalui cara yang sederhana namun efektif. Chu mengundang lima balas orang dari beragam kalangan , mulai dari ilmuwan, seniman, mahasiswa, diplomat dari dua negara, Indonesia dan Singapura.

Pada sesi nasi goreng Indonesia ini, Chu ditemani dua warga Indonesia yang berasal dari Bali yang menjadi fasilitator. Elly, seorang penari Bali yang terkenal dengan tarian tradisionalnya, dan Tony, seorang spesialis batik yang memiliki pemahaman mendalam tentang warisan budaya Indonesia. Mereka memperkenalkan kepada hadirin tentang Nasi Goreng Suna Cekuh, (Nasi Goreng Bawan Putih dan Kencur) sebuah hidangan Bali yang hampir punah. Nasi goreng ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan bagian dari budaya yang kaya dan beragam.

Diskusi mengenai Nasi Goreng Suna Cekuh tidak hanya sebatas resep, tetapi juga menyentuh aspek sejarah dan budaya yang melingkupinya. Elly dan Tony berbicara panjang lebar tentang keunikan beras Bali yang digunakan dalam hidangan ini dan bagaimana proses Balinisasi telah memengaruhi keunikan kuliner Bali. Diskusi ini juga mengangkat bagaimana hilangnya hidangan tradisional seperti Nasi Goreng Suna Cekuh dapat berdampak pada identitas budaya suatu daerah dan hubungan antar negara, khususnya antara Singapura dan Indonesia.

Sesi ini dihadiri oleh berbagai tamu undangan dari kalangan seniman, akademisi, dan diplomat yang tertarik dengan tema diplomasi budaya. Meskipun acara ini bersifat tertutup dan hanya untuk undangan, antusiasme dari para peserta sangat tinggi. Mereka tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi yang membahas dampak dari hilangnya warisan kuliner terhadap hubungan internasional. Mary, warga Singapura yang beberapa kali mengunjungi Indonesia, dan juga Bali menyatakan ”Saya sangat menyukai mencicipi masakan lokal Indonesia di warung daripada din restauran, karena lebih otentik”.

Proyek “Diplomasi Nasi Goreng” ini menggambarkan bagaimana makanan dapat menjadi alat yang efektif untuk mempererat hubungan antar komunitas dan negara. Dengan melibatkan berbagai elemen budaya, seperti tari dan batik, proyek ini juga menunjukkan bahwa diplomasi tidak harus selalu formal dan kaku. Kadang-kadang, sebuah piring nasi goreng dapat membuka jalan untuk dialog yang lebih dalam dan berarti.

Dalam keterangannya pada media, Satrya Wibawa, atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura menyatakan dukungannya atas acara ini untuk digelar secara berkala. Karena, menurutnya, “nasi goreng bukan hanya tentang menikmati hidangan yang lezat, tetapi juga tentang memahami dan menghargai perbedaan budaya”.

Dia juga sependapat bahwa gastro-diplomasi yang menjembatani people to people connection akan lebih mendapat kesan mendalam.

“Seluruh dunia mengenal Indonesia dari rendang dan sate. Kita juga punya banyak kekayaan gastro yang dapat menjadi representasi Indonesia di mata dunia,” tambahnya.

Melalui proyek ini, Chu Hao Pei berharap dapat menginspirasi lebih banyak inisiatif serupa yang menggunakan seni dan budaya untuk membangun jembatan antara komunitas yang berbeda. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya merayakan warisan kuliner, tetapi juga mempromosikan perdamaian dan persahabatan di kawasan Asia Tenggara. (***)

(rils/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular