Wednesday, June 19, 2024
spot_img
HomeEkonomikaDaerahAlami Terlambat Tanam, Danrem 081/DSJ Sebut Petani Desa Gunungan Butuh Dua Hal...

Alami Terlambat Tanam, Danrem 081/DSJ Sebut Petani Desa Gunungan Butuh Dua Hal Ini

Danrem 081/DSJ Kolonel Inf H Sugiyono saat membajak sawah di areal persawahan Desa Gunungan, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, Jumat (17/5/2024). (foto: Arwang)

Magetan, – Musim kemarau saat ini berdampak terhadap para petani di Desa Gunungan, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Keterbatasan pasokan air, membuat mereka harus mengalami keterlambatan musim tanam.

Melihat kondisi itu, Danrem 081/DSJ Kolonel Inf H. Sugiyono tak mau tinggal diam, ia terjun langsung ke lapangan untuk mendengarkan keluh kesah dari para petani di sana.

Tak hanya berkomunikasi, sebagai langkah agresivitasnya dalam membantu para petani, momen itu juga dimanfaatkan untuk ikut membantu mengolah lahan milik petani dengan menggunakan traktor.

Selain dihadapkan dengan musim kemarau, ia menyebut ada beberapa faktor yang mengakibatkan para petani di Desa Gunungan, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, mengalami keterlambatan musim tanam.

“Kami sudah mengumpulkan informasi bahwa di daerah sini terjadi keterlambatan penanaman yang dikarenakan, satu tenaga tanamnya memang berkurang, kedua alat mesin pertaniannya (Alsintan) kurang,” kata Danrem ditemui di lokasi area persawahan Desa Gunungan, Jumat (17/5/2024).

Oleh karena itu, ia memohon kepada pihak yang berwenang untuk membantu Alsintan, terutama traktor supaya bisa meningkatkan percepatan tanam dan produktivitasnya dapat optimal.

Danrem 081/DSJ Kolonel Inf H Sugiyono saat berdiskusi dengan para petani seusai menanam padi di areal persawahan Desa Gunungan, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan, Jumat (17/5/2024). (foto: Arwang)

Selain kedua permasalahan itu, Danrem menegaskan juga ada permasalahan lainnya, yakni belum adanya aliran listrik yang menjangkau area persawahan di sana. Hal itu membuat para petani tidak bisa memasang sibel untuk mengairi lahan mereka.

“Tadi juga ada keluhan dari masyarakat yang menginginkan ada bantuan untuk jaringan listrik ke sini (persawahan), karena selama ini belum ada, sehingga hanya menggunakan mesin-mesin pompa air berbahan bakar solar atau bensin maupun LPG,” bebernya.

Di samping membutuhkan biaya yang lebih besar, Danrem menyebut penggunaan pompa air semacam itu juga tidak dapat maksimal untuk menyedot air ke permukaan.

Seperti Alsintan, ia pun meminta bantuannya kepada petugas PLN supaya membantu jaringan listrik untuk masuk ke sawah, agar para petani ke depannya dapat memasang sibel.

(Arwang/Rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular