
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah derasnya arus informasi dan kebiasaan masyarakat membagikan pesan melalui media sosial, ajaran tabayyun dalam Al-Qur’an kembali relevan. Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH A Mujab Muthohar atau Gus Mujab, mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya, apalagi langsung menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Menurut Gus Mujab, Al-Qur’an secara tegas mengajarkan pentingnya mengecek dan meneliti kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
“Surah Al-Hujarat dalam Alqur’an dikatakan para ahli tafsir sebagai Surat Akhlak atau Surat Etika,” kata Gus Mujab saat mengisi Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, pada Rabu (16/9/2026) sore.
Dalam kajian episode ke-28 bertajuk “Kompas Akhlak (Part 2/Renungan Surat Al-Hujurat)”, Gus Mujab membahas kandungan Surat Al-Hujurat, khususnya ayat 6 hingga 8, yang menurutnya memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seseorang menyikapi informasi, menjaga hubungan antarsesama, dan menyelesaikan konflik.
Ia menjelaskan, pada ayat sebelumnya, yakni ayat 1 hingga 5, Surat Al-Hujurat mengajarkan etika ketika berada di hadapan Rasulullah. Di antaranya tidak meninggikan suara serta tidak memanggil Rasulullah dengan cara berteriak dari luar rumah.
“Orang yang sowan juga diminta bersabar menunggu sampai Rasulullah keluar dari rumah, bukan teriak-teriak,” ujarnya, mengulang materi part 1 mengenai Surat Al-Hujurat pada kajian sebelumnya.
Namun, menurut Gus Mujab, pesan Surat Al-Hujurat menjadi semakin relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini ketika memasuki ayat 6.
Al-Qur’an mengajarkan agar seseorang melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ketika menerima berita dari orang yang tidak dapat dipercaya. Prinsip tersebut dikenal sebagai tabayyun.
“Alqur’an mengajarkan bila ada orang fasik yang datang membawa berita, maka kita disuruh meneliti, jangan mudah percaya. Bisa jadi, keteledoran atau ketidaktelitian kita akan membahayakan orang lain, sehingga terjadi penyesalan,” katanya.
Gus Mujab kemudian menjelaskan salah satu riwayat yang dikaitkan dengan turunnya ayat tersebut. Dalam riwayat yang disampaikannya, terdapat persoalan ketika Walid bin Utbah diutus untuk menemui Bani Mustholid.
Ketika Walid tiba, masyarakat Bani Mustholid disebut keluar menyambut kedatangannya. Namun, situasi tersebut dipersepsikan secara berbeda. Walid menganggap mereka hendak melakukan perlawanan sehingga ia kembali dan melaporkan bahwa Bani Mustholid tidak bersedia membayar zakat.
Padahal, menurut penjelasan Gus Mujab, mereka justru keluar untuk menyambut kedatangan utusan tersebut.
“Walid dianggap ceroboh, karena kesimpulan tanpa konfirmasi bisa menyebabkan perang beneran. Itu persepsi sendiri. Akhirnya, ada perintah Alqur’an untuk cek dan ricek,” katanya.
Dari kisah tersebut, Gus Mujab menekankan bahwa kesimpulan yang dibangun tanpa konfirmasi dapat melahirkan persoalan yang lebih besar. “Jadi, kalau ada berita apa pun, jangan langsung percaya dan cerita dulu,” tegasnya.
Selain mengajarkan kehati-hatian dalam menerima informasi, Surat Al-Hujurat juga memberikan pedoman ketika terjadi konflik antar sesama.
Gus Mujab menjelaskan, ayat ke-7 mengajarkan agar ketika terjadi perselisihan di antara dua kelompok atau saudara yang beriman, pihak lain berupaya mendamaikan keduanya. Namun, proses mendamaikan tersebut harus dilakukan secara adil.
“Kalau ada orang konflik, maka damaikan, tapi syaratnya adil,” ujarnya.
Ia kemudian mengisahkan riwayat yang dikaitkan dengan turunnya ayat tersebut. Menurut penjelasannya, pernah terjadi perselisihan yang bermula dari perkataan Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Rawahah ketika Rasulullah melintas.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi pertengkaran. Dari kisah itu, Gus Mujab menekankan pentingnya kehadiran pihak ketiga yang mampu menjadi penengah secara adil ketika terjadi konflik.
Menurut dia, seorang penengah tidak boleh datang dengan keberpihakan yang justru memperbesar masalah.
Pesan lain yang disoroti Gus Mujab adalah larangan merendahkan dan mengolok-olok orang lain.
Ia mengutip pesan Surat Al-Hujurat ayat 11 yang mengingatkan agar seseorang tidak merasa lebih tinggi dengan meremehkan orang lain.
“Jangan merasa lebih tinggi dengan menganggap remeh orang lain, karena bisa jadi orang yang diolok-olok itu lebih baik,” katanya.
Gus Mujab menjelaskan, larangan tersebut memiliki konteks sosial yang kuat. Ia menyebut sejumlah sahabat Nabi yang pernah menjadi sasaran olok-olok karena latar belakang maupun kondisi fisik mereka.
Pesan tersebut, menurut dia, tidak kehilangan relevansinya ketika masyarakat memasuki era media sosial.
Olok-olok yang dahulu berlangsung secara langsung kini dapat menyebar jauh lebih luas melalui komentar, unggahan, meme, maupun percakapan di berbagai platform digital.
Karena itu, menurut Gus Mujab, etika dalam Surat Al-Hujurat tidak hanya relevan untuk kehidupan sehari-hari secara langsung, tetapi juga untuk membangun perilaku di ruang digital.
WA Group dan Medsos Jangan Jadi Mesin Penyebar Informasi Salah
Gus Mujab secara khusus mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menerima informasi dari grup WhatsApp (WA Group) maupun media sosial (medsos).
Ia menyarankan masyarakat memeriksa sumber informasi sebelum ikut menyebarkannya. “Kalau mendapat share dari WA Group/medsos, pastikan link dari media yang kredibel. Kalau share chat WA Group tanpa penulis, ya jangan diteruskan,” katanya.
Menurut Gus Mujab, masyarakat memiliki banyak cara untuk melakukan verifikasi. Jika informasi diperoleh secara langsung atau offline, seseorang dapat melakukan konfirmasi kepada guru maupun narasumber yang kompeten.
Sementara di ruang digital, masyarakat dapat memeriksa sumber berita, mencari rujukan pembanding, termasuk memanfaatkan mesin pencari maupun teknologi artificial intelligence atau akal imitasi (AI) untuk membantu menelusuri referensi.
“Konfirmasi informasi atau tabayyun itu penting sebagai validator. Kalau sekarang bisa saja cek informasi di AI atau web, apa ada rujukan atau tidak?” ujarnya.
Ia mengingatkan, persoalan tidak berhenti pada orang yang pertama kali membuat atau menyebarkan informasi keliru. Orang yang ikut meneruskannya juga memiliki tanggung jawab atas informasi tersebut. “Kalau asal share dan terlanjur salah itu, maka status kita sama dengan orang yang share dan salah itu,” katanya.
Gus Mujab menempatkan tabayyun bukan sekadar sebagai ajaran untuk menghadapi berita palsu. Lebih dari itu, tabayyun merupakan bagian dari etika dalam memperlakukan informasi dan menjaga hubungan sosial. Menurutnya, di tengah ruang digital yang membuat sebuah informasi dapat berpindah dari satu orang ke ribuan orang hanya dalam hitungan menit, pesan Surat Al-Hujurat menjadi pengingat sederhana bahwa tidak semua yang diterima harus dipercaya, dan tidak semua yang dipercaya harus langsung dibagikan.(*)
Kontributor: Al-Yasmin
Editor: Abdel Rafi








