Sumber Pangan Bitule Asal Gorontalo Dalam Drama Kekeringan

(foto: kredit foto diakses dari https://www.facebook.com/share/v/17zaNp15SN/, Gubernur Gorontalo, Dr. Ir. Gusnar Ismail MM sedang kunker pada warga terdampak kekeringan dan sedang mengolah ubi hutan, bitule)

“Pangan adalah mata uang kehidupan, benang yang terjalin dalam seluruh jaring kehidupan, tak terpisahkan dari bumi dan sistem alaminya.” – Vandana Shiva(73),The Nature of Nature: The Metabolic Disorder of Climate Change (2024)

Tahun 1982. Ketika mendapat tugas KKN(Kuliah Kerja Nyata) dari Unsrat, saya ditempatkan di desa Tunggulo, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Gorontalo.

Setelah berkumpul di Kantor Kecamatan bersama Camat, Drs. A. Dali, saya bersama rekan Dr. dr. Joy Rattu dan Drs. Nolly Londa mendapat tempatvdi desa Tunggulo.

Desa yang ketika itu ditempuh dengan berjalan kaki sekitar hampir lebih satu jam dari kota kecamatan, sepanjang jalan berdebu dilanda kekeringan ekstrim.

Sesampai di desa itu, saya tinggal di rumah kepala desa (ayahanda) yang punya sumur dengan air makin menipis.

Besok harinya, saya menemui beberapa warga hampir di ujung hutan sedang menjemur ubi hutan yang dikenal sebagai bitule.

Menjelang malam, berpenerangan lampu botol dan petromaks, sebagian warga sedang melakukan ritual tolak bala.

Ritual itu mereka sebut towohu.

Suatu ritual, menari dengan ditabuk beduk kecil hingga penarinya trans -tentu, akibat kelebihan menenggak miras bohito (tuak) atau saguer dari pohon aren- dan berujung pada praktek seks bebas pada pasangan yang dituju.

Mirip tari Ronggeng Dukuh Paruk dalam versi lain, antara Srintil dan Rasus, menurut novel fiksi Ahmad Tohari.

Di desa Dukuh Paruk, jika warga dilanda kekeringan juga mengomsumsi tempe bongrek yang beracun.

Demikian pula, tempe bongkrek muncul dari tradisi membuat tempe dengan bahan ampas kelapa.

Namun bila proses fermentasi tidak steril, bakteri burkholderia gladioli tumbuh bersama kapang dan menghasilkan racun mematikan.

Kini, di Gorontalo, kisah tentang bitule -ubi hutan beracun bernama dioscorea hispid- selalu muncul kembali setiap kali musim kemarau panjang melanda.

Kekeringan bukan sekadar fenomena alam, melainkan ujian sosial yang menyingkap daya tahan budaya.

Ketika sawah retak, jagung layu, dan beras menjadi barang langka, masyarakat Gorontalo beralih pada hutan, mencari umbi yang tersembunyi di tanah keras.

Bitule, sumber pangan yang beracun bila dimakan mentah, justru menjadi simbol ketekunan.

Nama lain Bitule (Gorontalo), Gadung (Jawa, Bali, Sunda), Janèng (Aceh), Janiang (Minangkabau), Iwi (Sumba), Kapak (Sasak), Salapa (Bugis), dan Sikapa (Makassar).

Secara kultural, pangan yang menuntut kesabaran, pengetahuan, dan ritual kolektif agar dapat menjadikannya layak dikonsumsi.

Proses budaya pengolahan bitule, bagi warga Gorontalo yang ditimpah kekeringan, adalah narasi tentang kebersamaan (huyula) di tengah bencana.

Umbi yang besar dan kasar itu diiris tipis, lalu direndam berhari-hari dalam air sungai atau genangan tanah berpasir.

Kadang ditambahkan garam atau abu untuk mempercepat keluarnya racun.

Perempuan Gorontalo, dengan tangan sabar, mengaduk, mengganti air, dan menunggu tanda-tanda bahwa racun telah hilang.

Proses ini bukan sekadar teknik, melainkan tradisi yang diwariskan.

Sebuah kearifan lokal dan pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang menghadapi paceklik.

Dalam cerita rakyat, bitule sering disebut sebagai “pangan darurat,” tetapi sesungguhnya ia lebih dari itu.

Ia adalah metafora tentang bagaimana masyarakat bertahan dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar.

Kekeringan tidak hanya melahirkan kelaparan, tetapi juga kreativitas.

Bitule yang pahit dan beracun, setelah diolah, berubah menjadi makanan yang mengenyangkan, bahkan dipercaya menyehatkan.

Dari racun menjadi gizi, dari ancaman menjadi harapan.

Itulah transformasi yang disediakan alam sebagai cermin filosofi hidup orang Gorontalo.

Kekeringan di Gorontalo, dengan segala kesulitannya, justru memperlihatkan daya hidup komunitas.

Bitule menjadi saksi bahwa manusia tidak menyerah pada alam, melainkan berdialog dengannya.

Ia mengajarkan bahwa krisis bisa diatasi dengan pengetahuan lokal, dengan solidaritas, dengan kesabaran.

Maka, setiap kali musim kemarau datang, kisah bitule kembali hidup dan bukan sekadar cerita tentang umbi hutan beracun, melainkan tentang kebudayaan yang mampu mengubah penderitaan menjadi daya tahan.(*)

Manado, 12 September 2026

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan