
PATI, CAKRAWARTA.com – Warga dan petani di kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar Upacara Rakyat di Bukit Selo Montro, Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Kegiatan tersebut diikuti sejumlah kelompok masyarakat sipil, akademisi, dan organisasi yang selama ini terlibat dalam isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Upacara yang dipimpin aktivis lingkungan Pegunungan Kendeng, Gunretno, itu menjadi ruang bagi warga untuk memaknai kemerdekaan dari perspektif masyarakat desa. Petani Pegunungan Kendeng diketahui telah lama memperjuangkan perlindungan kawasan karst dan lingkungan dari aktivitas pertambangan.
Sejumlah kelompok masyarakat sipil turut hadir, antara lain Kabinet Bayangan, Konferensi Republik, Forum Intelektual Antar-Disiplin (FIAD), Koperasi Indonesia Baru, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, serta Pengurus Masjid Nurul Asri.
Dari Kabinet Bayangan hadir Bhima Yudhistira yang disebut sebagai Menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran, Media Askar sebagai Menteri Perekonomian, Nabiyla Risfa Izzati sebagai Menteri Sosial dan Layanan Dasar, serta Isnawati Hidayah sebagai Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan.
“Kehadiran kami untuk menjadi bagian dari simpul-simpul gerakan rakyat agar saling terhubung,” ujar Media Askar.
Sementara itu, Konferensi Republik diwakili Yanuar Nugroho. Sejumlah akademisi yang tergabung dalam FIAD, termasuk Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti, juga mengikuti kegiatan tersebut.
Bivitri mengatakan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat diperlukan untuk memperkuat solidaritas warga dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
“Di tengah situasi negara yang sangat menyulitkan warga, seluruh kelompok harus bersatu dalam setiap perjuangan warga,” katanya.
Yanuar menambahkan bahwa keterlibatan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memaknai kemerdekaan sebagai kemampuan masyarakat untuk menentukan dan memperjuangkan masa depannya.
“Terlibat dalam upaya warga memaknai kemerdekaan sebagai keberanian untuk membayangkan dan mewujudkan masa depannya sendiri,” ujarnya.
Selain itu, penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono, hadir mewakili Koperasi Indonesia Baru. Perwakilan LBH Semarang dan Pengurus Masjid Nurul Asri juga mengikuti kegiatan tersebut.
Maknai Kemerdekaan dari Perspektif Warga
Gunretno mengatakan Upacara Rakyat digelar sebagai bentuk refleksi masyarakat terhadap makna kemerdekaan setelah 81 tahun Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
“Upacara ini ada untuk mewujudkan Pancasila tidak sekadar teks,” kata Gunretno.
Menurut dia, kemerdekaan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pemenuhan hak masyarakat, perlindungan lingkungan, serta ruang bagi warga untuk menentukan masa depan daerahnya.
Zainal Arifin Mochtar menilai peringatan kemerdekaan juga perlu dilihat dari perspektif masyarakat, bukan semata-mata dari perspektif negara.
“Perlu mengilhami bagaimana cara rakyat melihat kemerdekaan, bukan hanya cara negara melihat kemerdekaan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah. Mereka menyoroti persoalan ekonomi masyarakat desa, program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), kondisi aparatur sipil negara, hingga penanganan bencana dan persoalan lingkungan.
Kritik tersebut menjadi bagian dari refleksi peserta terhadap kondisi masyarakat setelah 81 tahun kemerdekaan. Mereka menilai pembangunan dan kebijakan negara perlu lebih memperhatikan kepentingan masyarakat di tingkat akar rumput.
Pegunungan Kendeng sendiri telah menjadi salah satu titik penting gerakan masyarakat sipil di Jawa Tengah. Selama lebih dari dua dekade, warga dan petani di kawasan tersebut memperjuangkan kelestarian lingkungan, khususnya kawasan karst yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Bagi peserta, penyelenggaraan Upacara Rakyat di Pati menjadi simbol bahwa peringatan kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui seremoni kenegaraan, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan, kritik, dan gagasan mengenai masa depan Indonesia.(*)
Editor: Abdel Rafi








