
SURABAYA, CAKRAWARTA.com -Mengapa ada orang yang langsung menyesal setelah berbuat salah, sementara sebagian lainnya justru merasa biasa saja saat melakukan dosa, bahkan mengulanginya tanpa beban? Pertanyaan itu menjadi salah satu pokok bahasan yang dikupas Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi Ampel Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar atau Gus Mujab, dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya, pada Rabu (10/6/2026).
Menurut Gus Mujab, kondisi tersebut berkaitan erat dengan tingkat kepekaan hati manusia sebagai “alarm spiritual” yang dititipkan Allah dalam diri setiap orang.
“Kenapa saat menjalani maksiat ada yang menyesal, ada yang merasa biasa saja, bahkan ada yang tidak merasa berdosa? Karena Allah menitipkan alarm otomatis kepada kita. Alarm itu ada dalam hati manusia,” ujar Gus Mujab.
Dalam kajian bertema “Spiritual Alarm” itu, ia menjelaskan bahwa kehidupan dunia sejatinya merupakan sarana untuk mempersiapkan kehidupan akhirat. Mengutip Al-Qur’an, Gus Mujab mengingatkan agar manusia tidak terjebak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih abadi.
“Carilah apa yang Allah berikan untuk kehidupan akhirat. Dunia jangan dilupakan, tetapi jangan sampai membuat kita melupakan akhirat. Sebab, akhirat memang ditempuh melalui kehidupan dunia,” katanya.
Gus Mujab menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari dua unsur utama, yakni jasad dan ruh. Dalam diri manusia, Allah juga menitipkan tiga instrumen penting berupa nafsu, akal, dan hati.
Nafsu berfungsi sebagai pendorong kehidupan sehingga manusia memiliki keinginan, cita-cita, dan semangat untuk berkembang. Akal berperan sebagai penyaring untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Sementara hati menjadi pusat kendali yang menentukan arah kehidupan seseorang.
“Ketika akal tidak digunakan dan hati tidak berfungsi sebagaimana mestinya, manusia akan lebih mudah dikendalikan oleh hawa nafsu,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, Gus Mujab mengutip pandangan para ulama yang membagi hati manusia ke dalam empat tingkatan.
Tingkatan pertama adalah sadr, yaitu lapisan hati paling luar yang masih rentan terhadap berbagai godaan lahiriah seperti syahwat mata, telinga, harta, makanan, dan kemaluan. Pada level ini seseorang masih berjuang menjalankan syariat dan menjaga diri dari perbuatan maksiat. Pelakunya disebut Muslim.
Tingkatan kedua adalah qalb. Pada fase ini, persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar dosa-dosa lahiriah, melainkan kualitas niat, keikhlasan, dan kemurnian amal. Orang pada tingkatan ini disebut Mukmin.
“Di level ini yang diuji bukan hanya amalnya, tetapi apakah amal itu dilakukan dengan ikhlas atau justru masih mengharapkan pujian manusia,” kata Gus Mujab.
Tingkatan ketiga adalah fuad, yakni lubuk hati terdalam yang menjadi pusat kesadaran spiritual. Pada tahap ini seseorang mulai merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan Allah dan menghadirkan kesadaran ketuhanan dalam setiap ibadah yang dijalankan.
Adapun tingkatan tertinggi adalah lubb, yang melahirkan sosok ulul albab, yaitu manusia yang mampu memadukan kecerdasan akal dengan kedalaman spiritualitas.
“Mereka menikmati kehidupan dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan,” ujarnya.
Menurut Gus Mujab, persoalan terbesar manusia modern sering kali bukan karena tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, melainkan karena alarm spiritual dalam dirinya mulai melemah.
Ketika hati kehilangan kepekaan, dosa yang semula terasa berat lambat laun dianggap biasa. Pada kondisi itulah hawa nafsu lebih mudah mengambil alih kendali kehidupan.
“Hati itu ada yang sehat, ada yang sakit, dan ada yang mati. Tugas kita adalah menjaga agar alarm hati tetap hidup,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu cara menjaga kepekaan hati adalah dengan memperbanyak zikir, meningkatkan kepatuhan kepada Allah, serta membiasakan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Zikir bukan hanya membaca kalimat tertentu. Zikir juga berarti selalu ingat, sadar, dan waspada terhadap apa yang kita lakukan agar hati tetap hidup,” ujarnya.
Gus Mujab juga menguraikan tingkatan nafsu dalam tradisi Islam, mulai dari nafs ammarah yang mendorong kepada keburukan, nafs lawwamah yang masih disertai penyesalan setelah berbuat salah, nafs mulhamah yang mulai terdorong kepada kebaikan, hingga nafs muthmainnah yang telah mencapai ketenangan dan mampu mengendalikan diri.
Mengutip Imam Al-Ghazali, ia mengibaratkan nafsu seperti seekor kuda yang harus dikendalikan. Jika berhasil dikendalikan, nafsu dapat menjadi energi positif dalam kehidupan. Sebaliknya, jika dibiarkan liar, nafsu dapat menyeret manusia ke dalam berbagai bentuk kerusakan.
Menutup kajiannya, Gus Mujab mengingatkan bahwa tugas setiap Muslim tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga mengajak orang lain kepada kebaikan melalui keteladanan.
“Tugas kita sebagaimana para nabi adalah memberi kabar baik dan memberi peringatan. Soal seseorang menerima atau tidak, itu urusan hidayah Allah. Yang penting, kita berusaha menjadi teladan dalam kebaikan,” kata Gus Mujab. (*)
Kontributor: Fitrah
Editor: Abdel Rafi








