Friday, March 13, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (23): Tafsir Hermeneutika Al-Qadr

Esai Ramadan (23): Tafsir Hermeneutika Al-Qadr

(foto: diunggah dari kanal Youtube Hermeneutika – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA @FirandaAndirjaOfficial dan @TEMANBERKISAH17)

“Hermeneutika digunakan untuk … „menemukan makna asal(dalālat al-asaliyyah) dari sebuah teks dengan menempatkannya pada konteks sosio-historisnya, sekaligus mengklarifikasi kerangka sosio-kultural kontemporer dan tujuan-tujuan praktis yang mendorong dan mengarahkan penafsiran.” — Nashr Hamid Abu Zaid (1943-2010), Hermeneutika Inklusif (2004)

Barangkali, satu-satunya kitab suci yang memberi kisi-kisi pada pemahaman misteri ilahi dengan serangkaian tahap menguak teologi eskatologis, Al-Qur’an lah yang paling memadai.

Salah satu tahap dari rangkain itu, Surah Al-Qadr yang memberi tahu tentang satu malam ganjil di bulan Ramadan, ketika Allah memerintahkan para malaikat turun ke bumi dengan tugas mengatur kembali ketetapan atas nasib manusia.

Dikutip Surah Al-Qadr:

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr/
Wa mā adrāka mā lailatul-qadr/
Lailatul-qadri khairum-min alfi syahr/ Tanazzalul-malāikatu war-rūḥu fīhā biidzni rabbihim min kulli amr/Salāmun hiya ḥattā maṭla‘il-fajr.

Terjemahan (Kemenag RI):

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya(Al-Qur’an) pada malam kemuliaan/Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?/Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan/Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh(Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan/Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.

Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadr yang turun di malam ganjil (21,23,25, 27, 29) yang merupakan malam penuh kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Atau, setara dengan 83 tahun manusia beribadah pada Tuhannya.

Untuk memahami kembali makna malam qadar, pendekatan hermeneutika dari Hans-Georg Gadamer cukup relevan diterapkan.

Gadamer (1900–2002), filsuf Jerman yang aktif sepanjang abad ke-20, dikenal sebagai tokoh utama hermeneutika filosofis.

Karyanya, Wahrheit und Methode (Truth and Method, pertama kali terbit edisi Inggris tahun 1960), merangkum hermeneutika sebagai proses dialogis, “fusion of horizons,” di mana pemahaman lahir dari pertemuan antara tradisi dan kesadaran pembaca.

Dalam Kebenaran dan Metode, Gadamer menolak gagasan bahwa pemahaman dapat dicapai secara objektif seperti dalam ilmu alam.

la menekankan bahwa kebenaran dalam humaniora dan seni tidak bisa direduksi menjadi metode ilmiah, melainkan harus dipahami melalui pengalaman, tradisi, dan bahasa.

Beberapa gagasan utama filsafat hermeneutika Gadamer mencakup:

1/ Tradisi dan prasangka (prejudice):
Gadamer menegaskan bahwa prasangka bukan selalu negatif, melainkan bagian dari horizon sejarah yang membentuk cara kita memahami teks atau fenomena.

2/ Historically effected consciousness:
Kesadaran manusia selalu dipengaruhi oleh sejarah, sehingga pemahaman adalah hasil interaksi antara masa lalu dan masa kini.

3/ Fusion of horizons:
Pemahamn terjadi ketika horizon pembaca (atau penafsir) bertemu dengan horizon teks atau tradisi. Proses ini bukan sekadar reproduksi makna, melainkan penciptaan makna baru.

4/ Hermeneutic circle:
Penafsiran selalu bergerak antara bagian dan keseluruhan, antara teks dan konteks, sehingga pemahaman bersifat dinamis.

5/ Bahasa sebagai medium:
Gadamer menekankan bahwa bahasa adalah medium utama pemahaman; melalui dialog, manusia dapat mencapai kebenaran yang bersifat intersubyektif.

Metode ini menjadi dasar bagi banyak kajian tafsir kontemporer, termasuk tafsir Al-Qur’an dengan pendekatan filosofis.

Dalam konteks tafsir, fusion of horizons berarti pembaca modern tidak hanya mengulang makna klasik, tetapi juga menghadirkan pemahaman baru sesuai dengan konteks sosial dan budaya.

Sebagai bandingan, Prof. Dr. Quraish Shihab (82) dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1992) menguraikan tafsir Surah Al-Qadr dengan menekankan makna Lailatul Qadr sebagai malam penuh keberkahan dan kekuasaan Allah.

Pesan utamanya adalah momentum besar bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan demikian, tafsir hermeneutika Quraish Shihab menekankan bahwa wahyu tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga harus dibumikan dalam kehidupan sosial, moral, dan spiritual umat Islam.

Pendekatan kontemporer ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat modern, sehingga relevan untuk konteks kekinian.

Sementara, relevansi sosial atas Surah Al-Qadr tidak hanya berbicara tentang malam sakral, tetapi juga mengingatkan manusia akan pentingnya momen spiritual untuk memperbaiki diri dan masyarakat.

Kedudukan tafsir Quraish Shihab dianggap sebagai salah satu tafsir mutakhir yang menghubungkan tradisi klasik dengan kebutuhan umat Islam modern.

Dengan demikian, tafsir hermeneutika Al-Qadr memperlihatkan bahwa kebenaran lahir dari pertemuan horizon sejarah dengan kesadaran pembaca masa kini.

Dengan kata lain, tafsir hermeneutika Al-Qadr menjadikan malam qadar bukan hanya peristiwa ritual, tetapi juga simbol transformasi moral dan sosial.(*)

#coverlagu: Lagu “Malam 1000 Bulan” dari Radja dirilis dalam album religi 1000 Bulan pada Ramadan tahun 2006. Maknanya merujuk pada kemuliaan malam Lailatul Qadar, yang dalam Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan, sehingga lagu ini menjadi pengingat spiritual untuk mencari keberkahan di bulan Ramadan.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular