
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Sebuah kentongan kayu jati berukir artistik di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mendadak menjadi perhatian jamaah. Benda bersejarah yang dibuat pada 1999 itu kini menjadi salah satu objek swafoto favorit dalam pameran “Museum Masa Lalu dan Masa Kini Masjid Al-Akbar Surabaya” yang berlangsung sepanjang Ramadhan 1447 Hijriah.
Kentongan tersebut dipamerkan di sisi utara area air mancur masjid bersama berbagai artefak penting lain yang merekam perjalanan panjang Masjid Al-Akbar sejak awal pembangunan hingga kini.
“Pameran ini menampilkan aset historis Masjid Al-Akbar sejak awal berdiri hingga perkembangannya saat ini, termasuk manuskrip atau turats terkait masuknya Islam di Jawa Timur,” ujar Humas Masjid Al-Akbar Surabaya, Helmy M Noor, di Surabaya, Kamis (19/2/2026).
Menurut Helmy, kentongan berbahan kayu jati dengan ukiran khas itu dibuat oleh jamaah asal Madura pada 1999, setahun sebelum masjid diresmikan.
Selain kentongan, terdapat dua artefak lain yang juga dibuat oleh jamaah Madura, yakni beduk dan mimbar khutbah. Ketiganya menjadi bagian penting dari sejarah awal masjid yang diresmikan Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid pada 10 November 2000.
“Aset-aset itu menjadi saksi keterlibatan jamaah dalam membangun identitas Masjid Al-Akbar sejak awal,” kata Helmy.
Masjid Al-Akbar Surabaya sendiri mulai dibangun pada 4 Agustus 1995 atas gagasan Wali Kota Surabaya saat itu, Soenarto Soemoprawiro. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Presiden Try Sutrisno. Pembangunan sempat tertunda akibat krisis moneter sebelum akhirnya rampung dan diresmikan pada 2000.
Pada 2003, pemerintah menetapkan Masjid Al-Akbar sebagai masjid nasional melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 301 Tahun 2003.
Seiring waktu, Masjid Al-Akbar terus berkembang, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga pusat edukasi dan wisata religi. Berbagai fasilitas modern dibangun, antara lain Studio Dakwah Digital, perpustakaan dan pojok baca digital, layanan tur virtual, hingga kawasan edukasi lingkungan seperti taman edukasi, urban farming, dan Taman Asmaul Husna.

Masjid ini juga dilengkapi berbagai fasilitas publik, seperti ballroom, pusat pembinaan mualaf, area olahraga, hingga fasilitas ramah difabel.
Helmy menjelaskan, arsitektur Masjid Al-Akbar mengandung filosofi keislaman sekaligus nasionalisme. Lima kubah utama melambangkan Rukun Islam sekaligus Pancasila, sementara enam kubah kecil melambangkan Rukun Iman.
Sementara itu, unsur nasional tercermin dari mihrab setinggi 17 meter, ornamen bintang bersudut delapan, serta 45 pintu utama yang melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Selain pameran museum, Masjid Al-Akbar juga menggelar berbagai kegiatan dalam program “Healing Ramadhan 1447 H”, seperti khataman Al Quran harian, kajian ngabuburit, layanan kesehatan bagi marbot, donor darah, hingga kompetisi olahraga antar-marbot.
Melalui pameran dan berbagai kegiatan tersebut, Masjid Al-Akbar tidak hanya menghadirkan ruang ibadah, tetapi juga merawat memori sejarah sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat peradaban umat.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



