Saturday, February 14, 2026
spot_img
HomeSosokMenjemput Jejak KH Abdul Fattah Yasin dari Kampung Kawatan, Ulama Pejuang yang...

Menjemput Jejak KH Abdul Fattah Yasin dari Kampung Kawatan, Ulama Pejuang yang Terlupakan

Momen bedah buku “KH. Abdul Fattah Yasin: Teladan Aktivis & Pejuang Bangsa” karya Dr. Wasid Mansyur di Kampung Kawatan, Surabaya, Kamis (12/2/2026) malam. (foto: Mukani)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Riuh obrolan dan aroma kopi menyatu di Warung Kampung Kawatan, Surabaya, Kamis (12/2/2026) malam. Di kampung inilah, seorang ulama pejuang pernah dilahirkan dan menorehkan jejak panjang dalam sejarah republik. Namanya KH. Abdul Fattah Yasin.

Buku berjudul “KH. Abdul Fattah Yasin: Teladan Aktivis & Pejuang Bangsa” karya Dr. Wasid Mansyur dibedah di tempat yang diyakini sebagai titik awal perjalanan sang kiai. Puluhan aktivis dan pegiat sejarah hadir, menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang sosok yang kiprahnya tak banyak tercatat dalam buku arus utama.
Wasid, dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel, menuturkan, Fattah Yasin bukan sekadar ulama kampung. Ia pernah menjabat Menteri Urusan Sosial serta Menteri Penghubung Alim Ulama pada era pemerintahan Soekarno.

“Beliau juga menjadi salah satu inisiator berdirinya Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Saya bahkan sempat menelusuri arsipnya hingga ke markas di Malang,” kata Wasid.

Tak hanya di ranah pemerintahan, kiprah Fattah Yasin juga menonjol di organisasi. Ia pernah memimpin Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (Pertanu). Pada periode awal sebelum 1963, organisasi itu tak hanya mengurusi pertanian, tetapi juga isu pertanahan sebagai respons terhadap pemberlakuan Undang-Undang Agraria.
“Beliau berada di garis depan membela petani dan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil,” ujar Wasid.

Jejak perjuangannya bahkan bermula jauh sebelum republik berdiri. Fattah Yasin tercatat sebagai anggota Hisbullah, laskar bentukan Masyumi menjelang kemerdekaan. Peran itu, menurut Wasid, menjelaskan sikap tegasnya dalam membela Yayasan Khadijah Wonokromo ketika lahannya hendak dikuasai pihak lain pada masa konflik ideologi 1960-an.

Ketua panitia, Wildan Ainur Aditya, mengatakan pemilihan Kampung Kawatan sebagai lokasi bedah buku bukan tanpa alasan. “Di kampung ini beliau lahir, tumbuh, dan mulai menggerakkan perlawanan terhadap Belanda,” ujarnya.

Proses penulisan buku setebal 207 halaman itu, menurut Wasid, bukan perkara mudah. Ia harus berbulan-bulan menelusuri arsip dan keterangan lisan. “Sering kali saya dilempar ke sana kemari untuk mencari data. Aksesnya tidak mudah,” katanya.

Pengakuan atas ketokohan Fattah Yasin datang dari sejumlah akademisi yang hadir sebagai pembanding. Dr. Yahya Muhammad, pegiat historiografi, menyebut gelar haji yang disandang Fattah Yasin pada masanya menjadi simbol otoritas keilmuan sekaligus legitimasi sosial.

“Beliau menggerakkan kader-kader NU di Surabaya untuk melawan kolonialisme. Itu bukan peran kecil,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dr. Ahmad Karomi dari Universitas Yudharta Pasuruan. Ia menegaskan, sebagai murid Syaikhona Kholil, Fattah Yasin berada dalam mata rantai penting gerakan ulama Jawa dan Madura.

“Syaikhona Kholil menggerakkan kader hingga ke berbagai daerah. Di Surabaya, Fattah Yasin menjadi salah satu tokoh yang membela kaum tani dan masyarakat kecil,” katanya.

Apresiasi juga datang dari aktivis literasi Mukani. Ia membandingkan langkah Wasid dengan jurnalis Amerika, Jimmy Breslin, yang pada 1963 memilih menulis tentang Clifton Pollard, seorang penggali kubur Presiden John F. Kennedy, alih-alih menyoroti tokoh-tokoh besar di pusaran peristiwa.

“Mas Wasid menulis tentang tokoh yang nyata aksinya, meski tak disorot kamera sejarah,” ujar Mukani.

Bedah buku malam itu tak sekadar peluncuran karya. Ia menjadi upaya merawat ingatan tentang sosok yang lahir dari kampung sederhana, namun mengambil bagian dalam denyut sejarah bangsa. Dari Kawatan, nama itu kembali dipanggil.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular