Sunday, February 8, 2026
spot_img
HomeEkonomikaGenerasi Sandwich Tak Pernah Putus, Ini Akar Masalahnya

Generasi Sandwich Tak Pernah Putus, Ini Akar Masalahnya

Ilustrasi.

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Fenomena generasi sandwich di Indonesia tak kunjung terputus. Akar persoalannya terletak pada rendahnya kemandirian finansial pensiunan, yang membuat beban ekonomi terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan, 83,74% penduduk lanjut usia atau pensiunan di Indonesia menggantungkan kebutuhan hidupnya pada penghasilan anggota rumah tangga yang masih bekerja. Selain itu, 10,97% lansia mengandalkan kiriman uang dari anak atau pihak lain. Sementara yang hidup dari uang pensiun sendiri hanya 5,01%, dan yang bertumpu pada hasil investasi bahkan hanya 0,28%.

Menurut Syarifudin Yunus, Asesor LSP Dana Pensiun dan Humas ADPI, angka tersebut menggambarkan bahwa hampir delapan dari sepuluh pensiunan di Indonesia belum mandiri secara ekonomi. “Pensiunan yang benar-benar hidup dari dana pensiun dan investasi jumlahnya tak sampai satu persen,” tegasnya dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/2/2026).

Ketergantungan ini, lanjutnya, muncul dalam berbagai bentuk. Sebagian pensiunan tinggal serumah dengan anak dan seluruh kebutuhan pokok mulai dari makan, tempat tinggal, hingga layanan kesehatan, ditanggung keluarga. “Dalam kondisi ini, ketergantungan bersifat total karena pensiunan tidak lagi memiliki penghasilan,” imbuhnya.

Sementara itu, lanjutnya, pensiunan yang mengandalkan kiriman uang dari anak atau pihak lain umumnya menerima transfer rutin bulanan. Meski tidak tinggal serumah, ketergantungan finansial tetap terjadi karena pengeluaran utama masih ditopang keluarga.

Hasil survei BPS. (foto: Goodstats)

Kondisi tersebut diperkuat oleh temuan Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Mei 2024. Lembaga itu mencatat, sekitar 50% penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas, red.) di Indonesia mengandalkan transfer uang dari anak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Artinya, satu dari dua pensiunan benar-benar bergantung pada generasi produktif setiap bulan.

“Situasi ini membuat rantai generasi sandwich semakin sulit diputus. Anak yang bekerja harus menanggung biaya hidup orang tua, sekaligus memenuhi kebutuhan pasangan dan anak-anaknya sendiri. Beban ekonomi pun kian berlapis,” ujarnya.

Menurut Syarifudin Yunus, minimnya perencanaan keuangan masa tua menjadi akar masalah. Banyak pekerja tidak memiliki dana pensiun mandiri yang memadai akibat rendahnya literasi keuangan dan terbatasnya kepesertaan dalam program pensiun, seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Akibatnya, saat memasuki usia pensiun, tidak tersedia sumber penghasilan yang cukup.

“Data BPS menunjukkan, hanya sekitar 5 persen pensiunan yang hidup dari uang pensiun. Fakta ini menandakan bahwa masa kerja yang panjang tidak selalu diikuti dengan persiapan finansial yang memadai untuk hari tua,” paparnya.

Karena itu, kondisi ini, lanjutnya, menjadi peringatan bahwa edukasi dan kesadaran menyiapkan masa pensiun sejak usia produktif perlu terus diperkuat. “Tanpa perencanaan yang matang, masa pensiun berpotensi menjadi fase ketergantungan, bukan masa menikmati hasil kerja seumur hidup,” tandasnya beri peringatan.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular