
TULUNGAGUNG, CAKRAWARTA.com – Ikatan Alumni (IKA UNAIR) Cabang Tulungagung bersama berbagai komunitas dan sekolah menggelar aksi penghijauan di Bukit Dondong, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Minggu (8/2/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama menjaga sumber air sekaligus mengurangi risiko bencana di kawasan pegunungan selatan.
Aksi bertajuk Kolaboraksi Part 2: Penghijauan Tulungagung Selatan tersebut melibatkan Forum Komunitas Hijau Tulungagung, Sekolah Adiwiyata, serta perwakilan sejumlah sekolah, antara lain SMA Katolik St. Thomas Aquino, SMKN 3 Boyolangu, MTsN 1, MTsN 2, MTsN 6 Tulungagung, MTs Miftahul Huda, SMP Negeri 1 Ngantru, Yayasan Imam Syafi’ie Tulungagung, Kantor Kecamatan Tanggunggunung, dan Komunitas Parjogundo (Pasar Jogging Gunung Dondong).
Ketua IKA UNAIR Cabang Tulungagung, Dr. Desi Lusiana Wardhani, mengatakan program ini merupakan kelanjutan kegiatan serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung. Penghijauan, menurut dia, menjadi respons atas kondisi lahan kritis di wilayah pegunungan selatan Tulungagung.
“Kami prihatin dengan kondisi pegunungan selatan yang sudah kritis. Dampaknya berkali-kali dirasakan warga, mulai dari banjir hingga longsor,” ujar Desi.
Ia berharap kegiatan tersebut menumbuhkan kesadaran masyarakat yang bermukim di kawasan pegunungan selatan untuk kembali menanam tanaman keras. “Syukur-syukur pegunungan selatan bisa dikembalikan fungsinya sebagai hutan,” katanya.
Bukit Dondong dipilih karena perannya yang vital sebagai kawasan resapan air. Setidaknya terdapat sepuluh sumber air yang tetap mengalir, bahkan pada musim kemarau.
“Bukit Dondong ini menyimpan air yang sangat penting bagi warga di sekitar sini,” kata Achmad Rangie dari Komunitas Parjogundo.
Rangie menambahkan, kesadaran menjaga bukit perlu terus diperkuat. Ia mengingatkan pernah ada upaya pembukaan lahan dengan menanam jagung di kawasan tersebut. “Padahal ini wilayah resapan air. Kalau rusak, dampaknya langsung ke warga,” ujarnya.
Selain penghijauan, komunitas setempat juga mengajukan permohonan kepada Perhutani untuk mengelola lahan kritis seluas sekitar 10 hektar di sekitar Bukit Dondong. Lahan itu direncanakan akan dihijaukan secara bertahap dan dikembangkan sebagai hutan edukasi.
Camat Tanggunggunung Deddy Eka Purnama menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut dia, posisi Bukit Dondong berada tepat di atas permukiman warga sehingga keberadaannya sangat menentukan keselamatan lingkungan sekitar.
“Kalau gundul, risikonya besar. Longsor bisa langsung mengancam rumah warga,” kata Deddy.
Ia berharap kolaborasi lintas komunitas dan lembaga ini dapat menular ke wilayah lain. “Semoga gerakan semacam ini meluas sehingga risiko banjir dan longsor saat musim hujan, serta kekeringan di musim kemarau, bisa dicegah,” ujarnya.(*)
Kontributor: Kang Hanik
Editor: Abdel Rafi



