
“Kematian Kristen bukanlah tujuan akhir itu sendiri, melainkan diartikan melalui kebangkitan Kristus, yang mengubah kematian menjadi jalan menuju pengharapan.” — Douglas J. Davies (78), The Theology of Death (2008)
Di penghujung dekade 1980-an, ketika koran Cahaya Siang sedang melejit di bawah kepemimpinan mendiang Lanny Politon, rubrik opini yang dikawal Engel Pangkey dan Abram menjadi ruang subur bagi lahirnya para penulis muda.
Dari ruang itu, nama Max Wilar mulai dikenal. Ia baru saja menamatkan pendidikan di sekolah tinggi teologi di Jakarta, lalu melanjutkan studi pascasarjana di Filipina.
Dari Jakarta, ia mengirimkan artikel-artikel yang kemudian menjadi bagian dari denyut intelektual Sulawesi Utara, bersanding dengan nama-nama yang kelak menempuh jalan jurnalistik nasional seperti Ferry Rende, Herling Tumbel, Jeffrey Rawis, Inyo Rumondor, Rizak Layuck, Jufry Suak, Joppie Worek, dan banyak lagi.
Max Wilar dikenal produktif. Salah satu artikelnya yang paling diingat, Intelektual Tuyul, lahir dari polemik di rubrik opini Cahaya Siang. Polemik itu bukan sekadar perdebatan, melainkan ruang dialektika yang mempertemukan gagasan, kritik, dan harapan.
Dari sana, hubungan personal dan intelektual dengan rekan-rekan seangkatan terjalin erat, termasuk dengan saya sendiri, yang terakhir kali mendampingi diskusi terbatas di Winangun, Kinali Kawangkoan, bersama mendiang Prof. Dr. Lucky W. Sondakh dan Dr. DR(HC) SH. Sarundajang pada 2021.
Hingga beberapa tahun belakangan, Max tetap gelisah. Ia sering menelpon, menyampaikan ide, mengomentari politik, teologi dan kebudayaan Sulut, khususnya tanah Minahasa.
Di usia lebih dari 70 tahun, ia masih berusaha mengaktifkan forum-forum diskusi, baik di KKA maupun PIKG (Perkumpulan Intelektual Kawanua Global).
Kegelisahan itu bukan sekadar nostalgia, melainkan wujud tanggung jawab intelektual yang tak pernah padam.
Ia percaya bahwa teologi tidak berhenti di altar, melainkan harus hadir di ruang publik, di tengah masyarakat, di pusaran kebudayaan.
Sebagai teolog inklusif, Bung Max—begitu ia disapa—menjalani jalan yang ditempuh Hans Küng dengan gagasan Global Ethic dan Gustavo Gutiérrez dengan teologi pembebasan.
Baginya, iman bukan sekadar dogma, melainkan praksis yang membebaskan dan merangkul.
Ia mengaitkan teologi dengan kebudayaan, sebagaimana Paul Tillich menekankan korelasi antara iman dan eksistensi, serta Jürgen Moltmann yang menyalakan harapan dalam teologi.
Dari sana, lahir pandangan yang menolak eksklusivisme, menolak sekat, dan menolak klaim kebenaran tunggal.
Teologi inklusif yang ia wariskan adalah teologi yang membuka ruang dialog, bahkan dengan tradisi lain, sebagaimana tampak dalam kiprah putranya, Dr. Abram Silo Wilar, yang kini berkarir akademis di Dewan Gereja Dunia, Genewa, dan menekuni cross religious studies hingga Islamic studies.
Sebelum sakit menimpanya lebih dari sepekan silam, Max masih sempat menulis catatan-catatan pendek di laman Facebook.
Tulisan itu, meski ringkas, tetap menyimpan kegelisahan yang sama: bagaimana kampung halaman, bagaimana kebudayaan, bagaimana politik, dan bagaimana iman dapat bertemu dalam ruang yang adil dan manusiawi.
Kini, ia telah tiada.
Ia meninggalkan seorang istri asal Dayak Kalimantan yang setia menemaninya, serta seorang putra yang meneruskan jejak intelektual dan teologisnya.
Max Wilar wafat, tetapi warisan teologi inklusifnya tetap hidup.
Akan tetapi, dari perspektif Douglas J. Davies, profesor studi agama di Durham University, ahli antropologi dan teolog yang fokus pada teologi kematian, ritual pemakaman, dan kebudayaan seputar kematian, ada keyakinan bahwa hakikat kematian dalam kekristenan tidak dapat dilepaskan dari kebangkitan Kristus.
Dikutip refleksi teologis Davies atas kepergian dalam keabadian seorang Max F. Wilar:
1/ Kematian bukan finalitas:
Dalam iman Kristen, kematian tidak dipandang sebagai akhir mutlak.
2/ Kebangkitan Kristus sebagai kunci:
Kebangkitan memberi makna baru, menjadikan kematian bukan sekadar kehilangan, melainkan jalan menuju harapan.
3/ Dimensi eskatologis: Kematian dipahami dalam horizon kehidupan kekal, bukan sekadar fenomena biologis.
Dengan kata lain, Bung Max telah menanamkan benih bahwa iman harus berdialog dengan kebudayaan, bahwa teologi harus membebaskan, dan bahwa harapan harus terus dinyalakan hingga di ujung usia sekalipun..
Dalam setiap kegelisahan, ia menunjukkan bahwa teologi bukan sekadar ilmu, melainkan keberanian untuk merangkul dunia yang plural.
Dan dari sana, kita belajar bahwa inklusivitas adalah jalan panjang yang harus terus diperjuangkan.
Requim in Pace Pak Max❤️😭
#coversongs: “Requiem aeternam” versi Schola Gregoriana Mediolanensis di bawah arahan Giovanni Vianini (78) dirilis pada tahun 2014 dalam album Chorus Angelorum (Canto Gregoriano) – Messa da Requiem (Ex Officio Defunctorum).
Kini, Vianini, aktif sebagai direktur Schola Gregoriana Mediolanensis, kelompok paduan suara gregorian yang ia dirikan di Milan sejak 1980.
Maknanya adalah doa liturgis Katolik yang memohon agar jiwa orang yang telah meninggal dianugerahi “istirahat kekal” dan terang abadi.
#credit foto mendiang Max Wilar di laman facebook dan dua di bawah ketika pada 2020 silam kami berada di perpustakaan pribadi mendiang Dr. SH. Sarundajang dan lapangan pacuan kuda Kawangkoan yang di belakangnya tegak payung besar Yesus Kristus sebagai legasi spiritual SHS selain perpustakaan.(*)
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



