
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Bagi sebagian mahasiswa, kelulusan sarjana menjadi penanda untuk memasuki dunia kerja. Namun bagi Farrel Arif Muhammad, keputusan yang diambil justru berbeda. Sejak awal masa studinya, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga ini telah memantapkan diri untuk menempuh jalur riset. Pilihan itu kini membawanya menjadi mahasiswa program doktoral di usia 22 tahun.
Jejak akademik Farrel bermula dari Program Sarjana Kedokteran Hewan di FKH UNAIR. Ketertarikannya pada pengembangan ilmu dan penelitian mendorongnya melanjutkan studi ke jenjang Magister Vaksinologi dan Imunoterapetika melalui skema Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program ini memungkinkan lulusan sarjana unggul menempuh pendidikan magister dan doktor dalam satu jalur terintegrasi, dengan penekanan kuat pada riset dan publikasi ilmiah.
PMDSU tidak dibuka di semua program studi. Ketersediaan promotor yang lolos seleksi nasional menjadi penentu utama. Pada tahun Farrel mengikuti seleksi, FKH UNAIR membuka jalur PMDSU di bidang Vaksinologi dan Imunoterapetika, bidang yang relatif baru baginya.
“Informasi mengenai PMDSU pertama kali saya peroleh dari penguji skripsi,” kata Farrel. Sejak menempuh studi sarjana, ia memang telah memiliki ketertarikan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meskipun harus keluar dari zona keilmuannya semula.
Sebelum masuk PMDSU, Farrel aktif sebagai asisten praktikum Parasitologi Veteriner. Perbedaan disiplin tersebut justru memantik rasa ingin tahunya. “Selama sarjana, saya merasa pemahaman saya masih terbatas. Masuk ke bidang yang berbeda menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk belajar lebih mendalam,” ujarnya.
Farrel kemudian mengikuti seluruh tahapan seleksi PMDSU, mulai dari seleksi administrasi, seleksi akademik, hingga wawancara. Ia dinyatakan lolos sebagai awardee dan menjalani studi magister di bawah bimbingan Prof. Fedik Abdul Rantam. Setelah menyelesaikan program magister dan memenuhi capaian akademik yang ditetapkan, Farrel melanjutkan pendidikan ke Program Doktor Sains Veteriner tanpa melalui jalur pendaftaran reguler.
Di tengah perjalanan akademiknya, Farrel juga menghadapi tantangan lain. Ia menempuh Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) secara paralel dengan studi pascasarjana. “Ada keraguan di awal karena tuntutan waktunya cukup besar dan membutuhkan komitmen tinggi,” kata Farrel.
Manajemen waktu dan konsistensi menjadi kunci. Saat ini, Farrel masih menyelesaikan stase Divisi Klinik dalam PPDH dan mempersiapkan diri menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Hewan (UKMPPDH), sembari melanjutkan riset doktoralnya.
Bagi Farrel, percepatan studi bukan tujuan utama. Ia memandang pendidikan sebagai proses untuk membangun fondasi keilmuan yang kuat. “Saya ingin fokus pada riset yang bermanfaat, khususnya di bidang kesehatan hewan dan pengembangan vaksin,” ujarnya.
Kisah Farrel menunjukkan bahwa jalur akademik berbasis riset dapat dipilih sejak dini, asalkan disertai kesiapan, ketekunan, dan keberanian mengambil keputusan. Di Universitas Airlangga, pilihan itu kini menemukan ruang dan jalannya sendiri.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



