Monday, February 2, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaMujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang Jadi Etalase Harmoni, NU-Muhammadiyah-Gereja Bersatu...

Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang Jadi Etalase Harmoni, NU-Muhammadiyah-Gereja Bersatu Melayani Jamaah

MALANG, CAKRAWARTA.com – Kota Malang menjadi panggung harmoni sosial dan keagamaan nasional dalam puncak Mujahadah Kubro memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Stadion Gajayana, 7-8 Februari 2026 mendatang. Lebih dari 100.000 jamaah dari berbagai daerah diproyeksikan mengikuti rangkaian ibadah massal tersebut.

Tak hanya dihadiri lautan jamaah, kegiatan ini juga akan menampilkan kolaborasi lintas organisasi dan lintas iman yang jarang terjadi dalam skala besar. PCNU Kota Malang, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang, serta sejumlah gereja, termasuk Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), berbagi peran dalam pelayanan jamaah, mulai dari pengamanan, kesehatan, logistik, hingga penyediaan ruang transit.

Sekretaris PDM Kota Malang Imam Abda’i mengatakan, Muhammadiyah menurunkan berbagai unsur melalui gerakan Aksi Nyata Muhammadiyah (Aksi-Mu). Personel Kokam, Tapak Suci, dan Hizbul Wathan dikerahkan dan bersinergi dengan Banser NU, serta aparat TNI, Polri, dan Satpol PP dalam pengamanan kegiatan.

“Dukungan kami bersifat operasional. Muhammadiyah hadir dengan aksi nyata agar jamaah dapat beribadah dengan aman dan nyaman,” ujar Imam di Malang, Senin (2/2/2026).

Selain pengamanan, Lazismu menyiapkan layanan konsumsi gratis, relawan kebersihan, penunjuk arah, serta pos pelayanan jamaah di titik-titik strategis. Sekolah-sekolah Muhammadiyah difungsikan sebagai tempat transit dan istirahat, sementara masjid-masjid Muhammadiyah dibuka 24 jam bagi jamaah musafir. Tim kesehatan, ambulans, serta dapur umum Aisyiyah turut disiagakan.

Ketua PDM Kota Malang Abdul Haris menegaskan bahwa Mujahadah Kubro merupakan agenda bersama umat. “Muhammadiyah hadir berkontribusi sesuai kapasitas sebagai wujud persaudaraan,” katanya.

Dari pihak NU, Ketua Panitia Lokal Mujahadah Kubro PCNU Kota Malang Edy Hayatullah menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Menurut dia, pembagian peran yang jelas membuat pelaksanaan ibadah tetap tertib di tengah besarnya jumlah jamaah.

“NU fokus pada konsolidasi jamaah, Muhammadiyah menguatkan layanan publik. Kolaborasi ini membuat kota tetap tertib dan jamaah merasa terlayani,” ujarnya.

Dukungan lintas iman juga tampak dari keterlibatan GKJW yang membuka ruang transit jamaah, khususnya dari arah Surabaya, melalui Majelis Agung GKJW. Pendeta Natael Hermawan Prianto, menyebut langkah itu sebagai wujud persaudaraan dan kepedulian kemanusiaan.

“Ini bukan hanya soal menyediakan tempat, tetapi tentang merawat persaudaraan. Kami berharap silaturahmi ini terus berlanjut,” ujarnya.

Relasi historis NU dan GKJW turut memperkuat makna kolaborasi tersebut. NU berdiri pada 1926 di Surabaya, sementara GKJW lahir pada 1931 di Mojowarno, Jombang. Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga memiliki jejak kedekatan dengan GKJW, termasuk pernah mengajar di lingkungan gereja tersebut pada 1974-1981.

Di tingkat akar rumput, LPBI PCNU Kota Malang mendirikan puluhan posko relawan dan layanan jamaah. Bantuan publik berupa makanan dan minuman dikolektifkan di Kantor PCNU Kota Malang untuk didistribusikan ke posko-posko layanan.

“Sedikit dari banyak orang akan menjadi besar. Semua bernilai ibadah ketika diniatkan untuk melayani jamaah,” kata Wakil Ketua PCNU Kota Malang bidang LPBI Asif Budairi.

Kolaborasi NU, Muhammadiyah, dan gereja di Malang menegaskan bahwa perbedaan dapat dirajut menjadi kekuatan melalui kerja bersama. Mujahadah Kubro Satu Abad NU pun tak sekadar menjadi peristiwa keagamaan, melainkan teladan nasional tentang harmoni, toleransi, dan pelayanan publik yang bermartabat.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular