
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Respons kesehatan pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan penanganan darurat. Dibutuhkan data yang akurat agar upaya pencegahan penyakit berjalan efektif dan berkelanjutan. Berangkat dari kesadaran itu, Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong penguatan respons kesehatan berbasis data pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh pada akhir 2025.
Ketua tim pengabdian masyarakat LPT UNAIR, Prof. dr. Maria Inge Lusida, mengatakan bahwa banjir berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, terutama diare, akibat pencemaran sumber air dan memburuknya kondisi sanitasi. Namun, di banyak wilayah terdampak bencana, data laboratorium mengenai penyebab penyakit dan kualitas air masih sangat terbatas.
“Tanpa data, respons kesehatan sering kali bersifat reaktif dan jangka pendek. Padahal, dengan data yang tepat, kita bisa menyusun intervensi yang lebih terarah dan berbasis bukti,” ujar Inge saat ditemui tim media ini di Gedung LPT UNAIR Kampus C Merr, Surabaya, hari ini, Kamis (22/1/2026).

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada 14-19 Desember 2025, tim UNAIR melakukan pengambilan dan analisis sampel feses dari warga yang mengalami gejala diare, serta pemeriksaan kualitas mikrobiologis air yang digunakan masyarakat di wilayah terdampak banjir. Lokasi kegiatan meliputi Aceh Utara, Bireuen, dan Lhokseumawe, daerah yang mengalami gangguan akses air bersih dan sanitasi pasca banjir.
Menurut Inge, pemeriksaan tersebut bertujuan mengidentifikasi bakteri dan virus penyebab diare sekaligus menilai tingkat keamanan sumber air yang digunakan warga sehari-hari. “Hasil analisis ini penting untuk memetakan risiko kesehatan dan menjadi dasar rekomendasi bagi tenaga kesehatan di lapangan,” katanya.
Selain pemeriksaan laboratorium, tim LPT UNAIR juga memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat mengenai pengolahan air bersih darurat, praktik sanitasi pascabencana, serta langkah-langkah pencegahan diare. Kegiatan ini dilakukan melalui koordinasi dengan tenaga kesehatan setempat, aparat desa, dan warga di lokasi bencana.
Rangkaian kegiatan, lanjut Inge, dimulai dengan keberangkatan tim dari Surabaya menuju Lhokseumawe. Setibanya di Aceh, tim langsung menuju wilayah terdampak banjir di Aceh Utara untuk memberikan edukasi, membagikan media pengambilan sampel, serta menyalurkan bantuan obat-obatan. Keesokan harinya, kegiatan serupa dilaksanakan di Bireuen sebelum dilanjutkan kembali di Kota Lhokseumawe. Seluruh sampel yang terkumpul kemudian diproses dan dipindahkan untuk pemeriksaan lanjutan di fasilitas rujukan UNAIR.

Dalam kegiatan tersebut, tim UNAIR juga menyalurkan donasi obat dan suplemen kesehatan dari PT Sejahtera Lestari Farma, Pasuruan, sebanyak 700 dus, terdiri atas 100 dus selediar dan 600 dus ampisterra (ampisilin 500 mg). Bantuan ini diharapkan dapat mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir.
Inge menegaskan bahwa penguatan respons kesehatan pasca bencana perlu dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. “Bencana boleh berlalu, tetapi risiko penyakit sering datang setelahnya. Karena itu, kami berharap pendekatan berbasis data dapat membantu melindungi masyarakat dari ancaman wabah di kemudian hari,” ujarnya mengakhiri keterangan.(*)
Kontributor: Laura
Editor: Abdel Rafi



