Tuesday, January 20, 2026
spot_img
HomePendidikanMengapa Hidup Terasa Berat di Zaman Mudah? Pesan Isra Mikraj dari Lora...

Mengapa Hidup Terasa Berat di Zaman Mudah? Pesan Isra Mikraj dari Lora Ismail

Lora Ismail Al-Kholili saat memberikan tausiah bakda Subuh di Masjid Al-Aakbar Surabaya, Minggu (18/1/2026). (foto: MAS untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah kemudahan hidup yang ditawarkan teknologi dan era digital, semakin banyak orang justru merasa tertekan, gelisah, dan kehilangan kebahagiaan. Fenomena itu, menurut Pengasuh Pesantren Al-Muhajirun Salafi Al-Kholili, Bangkalan, Madura, Lora Ismail Al-Kholili, berakar pada cara manusia memandang hidup: mengecilkan nikmat, tetapi membesarkan masalah.

Pesan tersebut ia sampaikan saat mengisi Majelis Subuh GenZI (MSG) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Minggu (18/1/2026), yang diikuti ratusan peserta dari kalangan generasi Z.

“Masalah utama kita hari ini bukan terlalu banyak ujian, tetapi karena nikmat yang besar justru kita anggap kecil. Sebaliknya, masalah yang kecil kita besarkan,” ujar Lora Ismail.

Dalam MSG episode ke-25 bertajuk Perjalanan Nabi, Inspirasi GenZI, Lora Ismail menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW mengajarkan cara pandang yang benar dalam menjalani kehidupan. Isra Mikraj, kata dia, merupakan nikmat terbesar dalam hidup Rasulullah karena untuk pertama kalinya Nabi bertemu langsung dengan Allah.

“Jika pertemuan dengan pasangan hidup saja dirayakan setiap tahun, maka pertemuan Nabi dengan Allah adalah nikmat yang tak terbandingkan. Namun Nabi justru rela kembali ke dunia yang penuh ujian karena perintah Allah,” katanya.

Menurut Lora Ismail, sikap Nabi tersebut menunjukkan bahwa mengingat dan menghitung nikmat merupakan bagian dari ibadah. Al-Qur’an, lanjutnya, secara tegas memerintahkan manusia untuk selalu mengingat nikmat Allah.

Ia menilai, kegelisahan yang meluas di era digital, termasuk stres dan FOMO, tidak lepas dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. “Social comparison membuat hidup terasa berat, padahal secara objektif kehidupan semakin mudah,” ujarnya.

Lora Ismail juga mengaitkan Isra Mikraj dengan Amul Huzni atau Tahun Kesedihan, ketika Nabi Muhammad kehilangan dua orang terdekatnya, Abu Thalib dan Khadijah. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi penanda bahwa ujian berat sering kali menjadi pintu datangnya nikmat besar.

“Seperti mendung yang sepekat apa pun, pasti berlalu. Setelahnya turun hujan yang menumbuhkan kehidupan. Ujian yang berat biasanya berakhir dengan keindahan,” kata dia.

Jamaah generasi Z memenuhi aula utama Masjid Al-Akbar Surabaya dalam pengajian bakda Subuh GenZi, Minggu (18/1/2026). (Foto: MAS untuk Cakrawarta)

Inspirasi penting lain dari Isra Mikraj, lanjut Lora Ismail, adalah perintah shalat. Perintah itu menjadi inti dari perjalanan spiritual Nabi dan bahkan menjadi wasiat terakhir Rasulullah.

“Baik-buruknya seseorang sangat ditentukan oleh kualitas shalatnya. Shalat adalah komunikasi langsung dengan Allah. Jika komunikasi itu terputus, kehidupan pun menjadi tidak baik,” ujarnya.

Generasi keenam Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan itu juga menyinggung nilai kearifan lokal dan keberkahan dalam peristiwa Isra Mikraj. Menurutnya, penggunaan Buraq sebagai kendaraan serta persinggahan Nabi di Bukit Tursina dan Bethlehem mencerminkan penghormatan terhadap tradisi dan keberkahan para nabi terdahulu.

Di akhir tausiyah, Lora Ismail menyebut Majelis Subuh GenZI sebagai pengajian yang istimewa. Ia merujuk sejumlah hadis yang menyatakan bahwa shalat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan zikir atau pengajian hingga diakhiri dua rakaat shalat, memiliki pahala setara dengan haji dan umrah yang sempurna.

“Karena itu, MSG selalu menjadi ruang yang menggembirakan dan penuh energi bagi saya,” ujarnya.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular