
“Pengalaman Nabi Muhammad tentang wahyu, termasuk Mi’raj, bukanlah sekadar peristiwa mistik pribadi, tetapi merupakan penegasan atas misinya sebagai utusan terakhir, yang menghubungkannya dengan tradisi kenabian Ibrahim, Musa, dan Isa.”
(Fazlur Rahman dalam ‘Major Themes of the Qur’an’ (1980)).
Pada awal 1990, saya pernah menulis peristiwa Isra’ Mi’raj dalam perspektif semiotika dan fenomenologi melalui sirah nabi dalam “Fenomenologi Quran” (1947;1982) dari Malek Bennabi (1905–1973) di koran Media Indonesia.
Ketika tulisan itu termuat, seminggu kemudian saya dikirimi kartu wesel pos dengan jumlah uang sebesar Rp.95.000 ke alamat Fakultas Sastra Unsrat Manado.
Hari ini, Jumat 16 Januari 2026, khusus umat Islam kembali memperingati peristiwa itu.
Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang dalam tradisi Islam dipahami sebagai perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa lalu naik hingga Sidratul Muntaha, merupakan salah satu momen paling monumental dalam sejarah kenabian.
Al-Quran menyinggung peristiwa ini dalam Surah Al-Isra ayat 1, meski dalam tradisi tafsir klasik sering dikaitkan pula dengan ayat-ayat lain seperti Al-Baqarah yang menekankan pentingnya iman terhadap hal-hal gaib.
Tafsir semiotika terhadap Isra’ Mi’raj membuka ruang untuk melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai sistem tanda yang sarat makna, di mana perjalanan Nabi menjadi kode simbolik tentang transendensi, legitimasi kenabian, dan hubungan antara bumi dan langit.
Dalam sirah klasik, Ibnu Katsir menekankan aspek mukjizat dan keagungan spiritual yang meneguhkan kedudukan Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir.
Sementara para penulis dan pengkaji modern seperti Martin Lings dalam “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” (revisi 1991), Tor Andrae, Muhammad Husain Haekal, Karen Armstrong, hingga Lesley Hazleton dalam “The First Muslim” (2013), serta Juan Cole dalam “Muhammad: Prophet of Peace Amid the Clash of Empires” (2018), mencoba membaca Isra’ Mi’raj dalam konteks historis, psikologis, dan sosial.
Mereka melihat bahwa peristiwa ini tidak hanya mengandung dimensi religius, tetapi juga pesan moral dan politik tentang pentingnya keadilan, kedamaian, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Orientalis sejak masa Perang Salib pertama tahun 1096, di antaranya Raymond IV dari Toulouse, Godefroy de Bouillon, Robert Curthose, Bohemond dari Taranto, dan Adhemar dari Le Puy, sering tergoda untuk menafsir Isra’ Mi’raj dengan rasio semata, mempertanyakan kemungkinan fisik perjalanan tersebut.
Namun dalam telisik semiotika, sebagaimana dikembangkan, dua di antaranya, Roland Barthes dan Umberto Eco, Isra’ Mi’raj dapat dipahami sebagai teks simbolik yang mengandung tanda-tanda atau sejumlah kode, sakral maupun profan.
Masjidil Haram melambangkan asal-usul spiritual, Masjidil Aqsa sebagai simbol keterhubungan dengan tradisi kenabian sebelumnya, dan Sidratul Muntaha sebagai tanda batas pengetahuan manusia sekaligus puncak pengalaman transendental.
Dengan hermeneutika Qur’an (Al-Kitab) yang dikembangkan oleh pemikir awal hermeneutik klasik seperti Sibawaihi atau “Si Wangi Apel” alias Abu Bisyr Amr bin Utsman bin Qanbar al-Bishri (765-796), peristiwa ini dapat dibaca sebagai kode yang menghubungkan iman, sejarah, dan simbol-simbol universal.
Isra’ Mi’raj dalam tafsir semiotika bukan sekadar kisah perjalanan, melainkan narasi yang menyingkap pelbagai lapisan makna dan tanda (la-ayah).
Ia adalah tanda tentang keterhubungan manusia dengan yang ilahi, kode tentang legitimasi kenabian Muhammad, dan simbol tentang perjalanan spiritual umat manusia.
Dalam konteks kontemporer, ketika informasi dan pengetahuan diproduksi secara masif oleh teknologi digital dan artificial intelligence atau akal imitasi (AI), membaca Isra’ Mi’raj dengan pendekatan semiotika mengingatkan kita bahwa tidak semua pengetahuan dapat direduksi oleh rasio.
Ada ruang transendensi, ada simbol yang melampaui logika, dan ada tanda yang hanya bisa dipahami melalui iman dan pengalaman spiritual.
#coverlagu: Sholawat Rasulullah SAW versi Maher Zain bersama Mohamed Tarek dirilis sekitar tahun 2021, dan menjadi salah satu lagu religi populer yang memadukan nuansa musik modern dengan syair sholawat penuh makna spiritual.
#creatordigital: Diubah sedikit versi AI dari ucapan Ikrama dan buku Sirah Muhammad oleh mendiang Lesley Hazleton dan Karen Armstrong.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



